14 Januari 2010

Telah Kering Tinta Itu

Telah Kering Tinta Itu
Oleh : Muhammad Muallim

Maha suci Allah dengan segala firman-Nya, entah kenapa tiba-tiba saya bisa menulis kembali dengan judul ini, cukup lama penulis membisu dalam kesibukan, meski sebnarnya bisa menulis, namun toh ternyata bisa menulis bukanlah hakku, akan tetapi atas kehendak-Nya lah aku bisa menulis.

Hal demikian baru kusadari ketika secara acak saya membaca buku aiqodlul himam, yang menjadi ide adalah sebuah kata-kata yang sering penulis dengar ketika kawan-kawan penulis bercanda dengan bahasa arab, ana uriid wa anta turid walakin Allah yaf'alu ma yuriid. Aku ingin, Kamu ingin tetapi Allah menakdirkan yang diinginkan-Nya.

Hidup itu ada pilihan apa nggak menurut anda? Jawabanya adalah tidak.


Hidup itu ya hidup tidak ada pilihan, maka hidup harus dijalani sampai masa aktifnya selesai, gerak kita terbatas, kemampuan kita terbatas, langkah kita terbatas, lalu apa yang anda siapkan saat batas itu memindahkan anda ke akherat?

Apakah 4 istri cantik lengkap dengan 4 rumah megah beserta 4 mobil mewah?

Mungkin jawaban pembaca beraneka ragam dan yang jelas semua orang juga mau hal itu, yang tidak mau coba katakan??

Sebagian orang terlihat begitu sibuk dalam upaya untuk mencapai sebuah puncak kejayaan dalam segi apapun. Dengan berbagai cara mereka melompat menuju sebuah tujuan yang bernama kebahagian menurut versi masing-masing. Ada yang bahagia dengan 4 istri, ada yang bahagia dengan 4 mobil mewah, ada yang bahagia dengan 4 trilyun, dan berbagai hal. Hal-hal diatas memicu mereka untuk meminjam, berhutang, berhutang pada rentenir, mencuri, korupsi, berebut, atau menipu.

Semua efek negatif itu akan berkembang searah dengan berkembangnya cita-cita yang tidak terukur, keimanan akan tipis jika efek negatif itu berkembang biak, dan ini bisa menjangkiti siapa saja, baik ilmuwan, agamawan, negarawan, karyawan, pemerintahan, yayasan dan sebagainya.

Kenapa ini terjadi?

Karena mereka tidak mau mengikuti takdir, tidak sabar dengan takdir hidup cukup, mencoba berhutang dan jatuh menjadi miskin. Mungkin pembaca juga tahu, bahwa banyak juga orang berhutang dan sukses, itu jika kita melihat dari luar, coba kita kedalam dan bertanya: apakah mereka sudah puas dengan kesuksesanya? Jawaban logisnya "belum".

وأوحى الله تعالى إلى داوود عليه السلام فقال يا داوود تريد وأريد ولا يكون إلا ما أريد فإن سلمت لي ما أريد أتيتك بما تريد وإن لم تسلم لي ما أريد أتعبتك فيما تريد ولا يكون ألا ما أريد وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأبي هريرة جف القلم بما أنت لاق
Dan Allah memberi wahyu kepada Dawud a.s. Allah berfirman : Wahai Dawud kamu punya keinginan dan Aku punya keinginan, dan tidak akan terjadi selain yang Aku inginkan, Jika kamu pasrah atas ketentuan-Ku maka Aku berikan keinginanmu, dan jika kamu tidak pasrah denga keinginan-Ku, Aku buat kau lelah dengan keinginanmu, dan tidak akan terjadi apapun kecuali apa yang Aku kehendaki.

Rosulullah bersabda kepada abu hurairah : Telah kering tinta itu atas apa yang kau jumpai.

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka . Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. QS.28:68

Maka bersabarlah kamu terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam ikan ketika ia berdo'a sedang ia dalam keadaan marah QS.68:48


[+/-] Selengkapnya...

07 November 2009

Ulama-ulama Berbahaya

Ulama-ulama Berbahaya
Oleh : Muhammad Muallim

Ada seorang bertanya kepada penulis, kenapa sering disebutkan kata "alim-ulama" namun tak pernah tersebutkan "sholeh-ulama"?

Bahkan akhir-akhir ini, ulama tak perlu "alim", tapi ulama itu perlu agniya', ulama yang alim, satu persatu ditarik kembali pada-Nya. Yang tersisa bisa anda rasakan saat ramadlon menjelang, ulama bisa diorbitkan dengan berbagai macam cara, kealiman dan kesolehan adalah nomer sekian, ibarat artis, ulama pun butuh promosi besar-besaran, setidaknya mengundang sejumlah sponsor yang akan berbagi keuntungan dalam pengorbitan ini.

Beredarnya aliran sesat yang menjamur di negeri ini, adalah bukti bahwa ulama-ulama kita mulai habis dan berganti dengan ulama-ulama produk akhir zaman, dimana misi mereka berlawanan dengan konsep ulama-ulama dahulu, ulama dulu zuhud, sementara saat ini huubud dunya, ulama dahulu tawadlu', ulama sekarang banyak yang congkak, ulama dahulu banyak menulis, ulama sekarang banyak omong.dst.

Ada sebuah catatan menarik dari kitab durrotun nasihin, Nabi bersabda : Tanda-tanda dekat dengan hari Kiamat adalah: Barang-barang dagangan di pasar tidak laku, tanah dan tanaman kering karena kurang air hujan, umpat-mengumpat sesama ummat adalah berita harian, riba menjalar menjadi adat kebiasaan, anak-anak zina begitu tampak, orang yang berharta menjadi mulia dan terpandang besar, suara orang fasik berkumandang di beberapa masjid, pelaku kejahatan lebih nampak dibanding pelaku kebenaran dan kebaikan.

Barang dagangan di pasar tidak laku, disebabkan terjadinya monopoli perdagangan oleh pihak-pihak tertentu sehingga orang-orang menengah kebawah yang berjualan di pasar ga dapat untung, perhatikan saja di sekitar kita, dan kita sudah terjebak dalam sistem yang mereka buat, salah satunya tren belanja di mal.

Tanah dan tanaman kering karena jarang hujan : Beberapa negara mulai membuat benih-benih hujan, mungkin karena dunia kita mengalami pemanasan global jadi hujan enggan ke bumi, sementara bumi kita ditanami gedung-gedung kaca.

Umpat-mengumpat : kita hampir tiap hari menikmati hal demikian baik dalam segi politik, keagamaan, ataupun ras.

Riba menjalar dan menjadi budaya: banyak masyarakat kita stres karena konsep riba yang menjalar dan tak terkontrol, beberapa orang pernah penulis tanya, bahwa orang yang berhutang satu juta, dalam satu bulan harus mengembalikan satu juta empat ratus ribu rupiah. Pembaca bisa bayangkan betapa riba memang merugikan, namun anehnya hal itu menjalar menjadi budaya.

Tampaknya anak-anak tidak jelas orang tuanya, dan begitu tampak dimuka bumi ini, maka tak ayal jika terjadi pernikahan antar saudara tunggal gen akibat gelapnya identitas orang tua mereka.

Orang berharta menjadi mulia, bahkan yang terjadi terakhir orang berharta mampu mengatur para penegak hukum, begitu mulianya orang berharta itu. Beberapa ulama pun banyak yang mengikuti metode ini dalam meraih kemuliaan dan kehormatan, bukan lagi dengan ilmu dan kesholehan.

Suara orang fasik berkumandang di Masjid-masjid: banyak para mubalig karbitan yang yaquluna ma la yaf'alun, berbicara soal kebaikan namun dia sendiri tak melakukan.

Dan merajalelanya kejahatan, baik dalam skala kecil maupun besar, bahkan pihak yang menangkap penjahat pun menjadi penjahat juga, terasa anaeh memang zaman akhir.

Begitulah uraian penulis dari beberapa catatan dalam durrotun nasihin, ada lagi yang membuat penulis ketakutan, dimana pada suatu saat penulis membuka sebuah buku yang kumal dan tidak begitu bagus, namun ada kata-kata yang menohok kita semua jika kita punya hati nurani, begini bunyinya:

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib ra. Bahwa Rosulullah bersabda : Akan tiba suatu masa dimana tiada tersisa dari Islam kecuali namanya, dari agama kecuali ritualnya, dari qur'an kecuali darusannya, Masjid-masjid di bangun namun kosong dari dzikir, yang paling jahat pada zaman itu adalah ulama'nya. Dari mereka fitnah timbul dan kepada mereka fitnah kembali. Itu adalah tanda-tanda Kiamat.

Ya Allah, bagaimana kami bisa mengetahui ulama yang baik dan ulama yang jahat? Sementara indera kami terbatas pada yang tampak saja.

Allim
Cipondoh, Sabtu 07 November 2009
Ulama pun ada yang berbahaya

[+/-] Selengkapnya...

03 Oktober 2009

Gempa dan Sebuah Pelajaran dari Alam

Gempa dan Sebuah Pelajaran dari Alam
Oleh : Muhammad Muallim

Negeri kita yang subur ini begitu strategis untuk pertemuan lempeng bumi, yang hijau nan indah dengan cuaca yang tropis. Yang mungkin banyak dari kita lupa mensyukuri keindahan dan kesuburan negeri ini, dikarenakan keterbatasan kita untuk tahu negeri yang lain, yang begitu tandus membatu, gersang, kering kerontang.

Allah berfirman : Dan , tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari , maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".QS.14:7

Orang lebih suka menyebut bahwa hal demikian adalah fenomena alam, namun bagi orang yang beriman menyebutnya fenomena alam atas kehendak Allah. Segala sesuatu akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, dan sistem dari Allah (sunnatullah) tidak akan tergantikan. Seperti halnya sebuah rambu-rambu jika kita menerobosnya tentunya kecelakaan didepan mata.

Gempa di Indonesia bukanlah yang pertama kalinya, namun sudah beberapa kali kita merasakan hal demikian, akan tetapi kita tetap lambat dalam menanganinya, lambat dalam mengantisipasi penataan kontruksi bangunan yang layak. Di beberapa negara penulis pernah menjumpai perobohan sebuah gedung apartemen yang sudah melewati masa layaknya, namun di Indonesia tak ada batas maksimal berapa tahunkah sebuah gedung itu layak berdiri?.

Mungkin kita tak akan pernah sadar jika kita tidak mengalami musibah ini, atau mungkin gedung kita keropos karena korupsi sejak dini dari diri kita sendiri? Lembaga yang memberantas korupsi lagi sibuk mencari pengganti yang berani, sementara para koruptor tak punya hati nurani. Apakah hal demikian itu adalah rasa syukur negara kita atas karunia alam yang indah ini?

Penulis jadi teringat sebuah catatan tembok di sebuah apartemen di Mesir " Ma SyaAllah, laa quwwata illa billah" Semoga dikehendaki Allah tiada kekuatan kecuali dari Allah. Setidaknya kita tidak ombong atas yang kita anggap kuat, kapal titanic yang diyakini tak akan tenggelam saja tenggelam dan patah, gunung yang diyakini tak bakal tenggelam oleh kan'an, ternyata juga tenggelam, Istana fir'aun yang diyakini kuat pun berserakan hingga sekarang.

Apalagi jasad kita, Ya Allah... para pesilat yang kuat pun terluka bahkan ada yang meninggal dalam gempa di Sumatera Barat, Semoga kita bisa berbagi disaat lapang kita, untuk membantu yang sedang kesempitan.

Banyak pelajaran yang kita dapat dari musibah itu diantaranya, kita telah dijelaskan bagaimana kondisi disaat kita menghadapi kiamat, inna zalzalatas sa'ati syaiun adhim, sesungguhnya goncangan saat kiamat sangat dasyat. Kita tak akan sempat memikirkan nasib orang lain saat itu, bahkan orang yang sedang menyusui pun tak akan sempat memikirkan bayinya, tidak ada satu tempat pun yang aman untuk berlindung, dan tidak ada seorang pun yang dapat dimintai tolong.

Disisi lain kita juga mendapat pelajaran, bahwa kita harus memperbaiki kontruksi bangunan yang layak dan tahan gempa, serta bertindak cepat dalam mengevakuasi korban yang selamat maupun yang wafat, serta penyaluran bantuan yang tapat sasaran agar yang selamat tidak ikut sekarat.

Maka marilah kita berlatih untuk siap menghadapi itu, dan hanya Allahlah yang dapat menolong, mohonlah sejak sekarang, sebeb disaat kiamat dimulai semua permintaan akan ditolak, dan mungkin jg disaat bencana berlangsung doa kita tidak didengar.

Allah berfirman : Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia berlalu, seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.QS.10:12

Mari kita teliti, disaat kita sentosa, akankah kita mengingat Allah?

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.QS.8:25


[+/-] Selengkapnya...

09 September 2009

Ramadan, Tukang Ojek dan Saya

Ramadan, Tukang Ojek dan Saya
Oleh : Moehammad Moealliem

Sabtu 05/09/09 hari yang begitu cerah dan banyak hikmah, betapa tidak pada hari itu saya merasa berbeda mungkin hari itu adalah hari yang sudah ditentukan olehnya, suatu sore yang tak jauh beda dengan biasanya, namun saya menjadi terharu atas sebuah sikap dan kata-kata tukang ojek yang menjemput saya.

Tukang ojek, yach tukang ojek yang menjemput saya, hari-hari sebelumnya yang jemput adalah mobil PPPA (lembaga pengembang zakat dan sedekah) sore itu, saya harus siaran live di RRI, sementara mobil PPPA terpakai semua, maklum hari sabtu semua ustadnya mengisi dimana-mana, akhirnya saya harus dijemput ojek menuju kantor PPPA, di kawasan Carrefour Ciledug, dan disambung dengan taksi menuju gedung RRI di dekat Monas.

Dalam perjalanan antara Ketapang (kampus 1 Darul Qur'an Internasional) hingga kantor PPPA, terjadilah sebuah dialog dengan tukang ojek itu, orang itu bercerita diawal dialog itu, bahwasanya dia diminta menjemput ustad muallim, dalam bayangan tukang ojek itu, ustad ini udah tua dan gede tubuhnya, namun begitu saya keluar dari rumah dan naik di motornya, beliau heran dan berkata dalam hatinya "Ternyata masih muda belia".

Mungkin dalam hati dia ada pertikaian antara percaya dan tidak percaya, memang sih pak tua itu tukang oek tapi kelihatanya lumayan tahu tentang agama, pun juga dia setia dengan kopyah putihnya dalam bekerja. Memang kata filusuf kita perlu meragukan sesuatu sebelum kita mempercayainya, dan secara umum falsafah ini dipakai siapa saja, kita akan meragukan sesuatu yang asing dari database otak kita.

Disisi lain saya dapat berbagi ilmu dengan bapak ojek itu tentang beberapa hal yang membuat dia gundah atas cara ibadah beberapa kelompok yang ada saat ini, tentang sholat dan beberapa hal yang selama ini ia dengar dan baca lewat buku. Salah satu yang dia tanyakan adalah keberadaan orang yang sholat dengan takbiratul ihram yang cepat, lalu bagaimana dia mengucapkan niat?

Pembaca coba lihat sholat pembaca, ketika takbir pertama adakah dalam hati anda mengucapkan niat disaat mulut anda mengucap takbir?

Madzhab syafii memberi solusi kita melafalkan niat sebelum takbir dan saat takbir kita berniat dalam hati, madzhab yang lain menganggap melafalkan takbir adalah bid'ah, namun realita dimasyarakat, mereka yang mengikuti pembid'ahan malah takbirnya terlalu cepat, atau bisa dipastikan mereka nggak berniat dengan hati.

Madzhab syafii memang ketat dan begitu berhati-hati agar orang yang sholat tidak lupa niatnya, karena segela sesuatu tergantung niat, puasa aja niatnya harus jelas, kalau niatnya lewat puasa ramadan dianggap batal dan harus mengganti, tentunya dalam sholat setara dengan iyu karena hal itu sama-sama rukun Islam.

Maka telitilah sholatmu, dan jangan berbuat suatu ibadah tanpa sebuah nilai.



[+/-] Selengkapnya...

09 Juli 2009

Manisnya Suramadu




Manisnya Suramadu
Oleh : Mohamad Mualim

Beberapa waktu yang lalu (24/6/2009) penulis mendapat kesempatan untuk melihat lebih dekat madu terpanjang di Asia, penulis telusuri dari ujung sampai ujung dan serasa begitu manis, manis itu begitu menusuk hatiku hingga membuat penulis bangga kepada negeri ini, ternyata manusia negeriku sudah mampu bikin jembatan yang sepanjang ini.

Suramadu begitu nama jembatan itu, yang menghubungkan pulau Jawa-Madura, namun demi sebuah keindahan diambilnya kata Suramadu singkatan dari Surabaya-Madura, mungkin kita tak akan pernah usil untuk usul agar namanya antar pulau jadi Jamadu (Jawa-Madura) atau antar kota (Surabang) Surabaya-Bangkalan, atau nama-nama yang lain yang mungkin akan menjadi nama sesuatu yang akan diciptakan.



Saat itu penulis meniti jalan di jembatan Suramadu dengan sepeda motor, dengan kecepatan yang lemah lembut, soalnya sayang kalau ngebut, kita tak akan bisa menikmati jembatan yang panjangnya hampir 5400 meter, dengan biaya pembangunan 4,5 T, ketepatan waktu itu langit begitu cerah dan kecepatan angin laut tak begitu tinggi, jadi nggak begitu tegang.

Hingga Akhirnya penulis dapat menginjakkan kaki di pulau Madura, dan terbesit dalam benak penulis, kalau saja masyarakat kreatif hal ini akan lebih indah dari sungai Nile di sekitar Garden City, ada perahu hias penuh lampu yang berkeliling dibawah jembatan, ada taman-taman ditepi pantainya, dan berbagai macam hal yang mungkin hal itu akan mendongkrak kegiatan ekonomi sekaligus pariwisata.

Adalah wajar jika biaya yang begitu mahal menjadikan tarif jembatan itu agak mahal untuk selain sepeda motor, minimal 10 kali lipat tarif sepeda motor, sepeda motor pun tarifnya 3.000 pada saat itu, dengan resiko kalau angin kencang harus berhenti atau bisa jadi terbang dan kecebur laut, tapi semoga saja tidak terjadi, dan selema ini tidak ada kejadian seperti itu.

Karena begitu panjang, ketika penulis mengambil gambar dari tepi pantai kurang bisa mendapat keindahan jembatan bentang tengah, penulis berharap suatu saat nanti di pantai itu ada teropongnya, apalagi jika ada kapal perang sedang lewat bawah jembatan itu, betapa bahagia penulis melihat kegagahan bangsa ini, sebagaimana impian Gajahmada dizaman Majapahit yang penulis baca dari beberapa kisah yang dikemas dalam novel sejarah.

Penulis membaca beberapa berita, bahwa tanah disisi jembatan bagian madura harganya mulai melambung tinggi hingga mencapai 1 juta per meter, padahal konon harga tanah di daerah itu sangat murah karena tandus, tapi ternyata tanah yang tandus itu kini bisa dirubah menjadi tanah yang subur yang bisa menghasilkan uang yang menjanjikan. Tentunya kesuburan itu bukan untuk menanam padi, tapi menanam Hotel, Taman Wisata, dan sebagainya. Jika kita bisa memahami sebuah ketentuan Allah, apa yang kita anggap remeh saat ini, mungkin bisa sangat berharga pada saatnya. Maka janganlah berputus asa dengan rahmat Allah, karena segala sesuatu telah ditetapkan sesuai dengan fungsinya.

Pemilihan presiden telah berlalu, semoga jembatan suramadu bukan satu-satunya jembatan antar pulau di Indonesia, tapi lebih menjadi sebab adanya jebatan-jembatan yang lain, misalnya Jawa-Bali, Jawa-Sumatera, apalagi bisa membuat terowongan bawah laut untuk menghubungkan Jawa-Kalimantan-Sulawesi-Papua, meskipun itu masih mimpi namun semua itu mungkin terjadi. Jika orang jepang aja mampu membuat seperti itu, tentu kita bisa belajar dari mereka.

Beberapa mimpi Gajahmada adalah menyatukan pulau-pulau menjadi satu kesatuan, dan memiliki pasukan maritim yang kuat, mungkin sebagian mimpi itu sudah menjadi kenyataan, namun untuk pasukan maritim yang kuat, kita belum bisa, maka tak aneh jika kita sering dikerjai para tetangga. Harusnya pemimpin itu seperti Gajahmada yang berani melakukan sumpah palapa, setidaknya punya janji tak akan hidup bermewah-mewah sebelum negeri ini punya nama di dunia.

Mungkin nasionalisme kita termakan oleh nafsu korupsi yang begitu besar, sebagaimana rayap yang mengikis pilar-pilar kayu rumah yang bernama Indonesia, hanya genteng mungkin yang akan bertahan dari ganasnya makhluk yang bernama rayap itu, bahkan beberapa hari setelah diresmikannya Suramadu, dikabarkan beberapa lampu dan besinya mulai dimakan rayap, betapa hebat rayap saat ini, bukan lagi kayu yang dimakan tapi besi pun bisa dimakan dengan ganasnya.

Jika sikap kita masih seperti rayap, bersiap-siaplah kita akan jatuh tenggelam dalam keterpurukan, anak-cucu kita hanya akan mendapat kenangan yang membuatnya menangis sejak lahir hingga hidupnya berakhir, semua tinggal genteng yang sudah terpecah-belah menjadi kereweng, rumah yang megah itu, kayu dan besinya sudah dimakan rayap.

Ya Allah...Jadikanlah lumpur lapindo sebagai obat untuk mengurangi nafsu makan rayap, jika Engkau tidak berkenan menghapus makhluk bernama rayap yang korup dan membahayakan rakyat.

Alliem
Tangerang, Kamis 09 Juli 2009
Bangunlah dengan jiwa membangun






[+/-] Selengkapnya...

10 Artikel Populer