16 Januari 2010

Telah Kering Tinta Itu (2)

Telah Kering Tinta Itu (2)
Oleh : Muhammad Muallim

Beberapa pembaca mungkin ada yang tidak sepakat jika seseorang dianggap tidak punya pilihan untuk hidup, mungkin hal itu perlu penulis jelaskan disini. Dalam hidup memang banyak pilihan, tetapi untuk hidup tidak ada pilihan.

Bagaimana ada pilihan untuk hidup? Kita hidup ini pilihan Allah, untuk hidup sesuai masa, raga, dan waktu kembali yang sudah ditentukan tanpa ada pertimbangan dari kita, bahkan kita sadar kalau kita hidup ketika kita sudah masuk sekolah TK, karena sehebat-hebatnya kemampuan manusia hanya akan mampu mengingat kejadian paling awalnya saat masuk TK.


Kenapa penulis punya pikiran bahwa kita sebenarnya diminta untuk berkehidupan yang wajar, tidak terburu-buru, toh semua itu tidak merubah apa-apa, karena yang akan terjadi tetaplah sesuai dengan kehendak Allah.

Lihatlah kisah-kisah orang yang terges-gesa, mereka nggak akan merubah apa-apa.

Suatu hari penulis bepergian bersama kawan-kawan untuk menghadiri pernikahan seorang kawan, Jarak yang ditempuh lumayan jauh, dan membutuhkan berjam-jam untuk melewatinya, nah disaat pulang kawan saya ada yang mengemudi dengan grusa-grusu, alias tergesa-gesa.

Perjalanan memang sebagian dari adzab, namun saat itu menjadi dobel, soalnya kita yang jadi penumpang jadi dag dig dug der!, karena sang pengemudi ini belum mahir dan tergesa-gesa. Rencana mau tidur menjadi kacau.

Yang menjadi petikan bukanlah itu, namun ternyata waktu yang dibutuhkan malah lebih lama dibanding waktu keberangkatan yang standar dan bisa tidur nyenyak, dari situlah penulis berfikir percuma anda tergesa-gesa jika Allah berkehendak kita sampai tujuan pada waktu itu.

Aneh kan? Jalan tol tidak macet, kecepatan tinggi, namun tetap saja telat, sebab ternyata kawanku yang grusa-grusu itu belum hafal jalan tol, alisa ketika di perempatan dia salah ambil lajur, hingga salah lajur dan terus berjalan sampai ada putaran atau pintu keluar, untungnya terjebaknya di tol lingkar luar jadi pintu keluar dan putaran agak jauh, dan berlalulah kisah itu hingga akhirnya sampai tujuan akhir dengan waktu yang lebih lama.

Kita harus cepat dalam melakukan sesuatu, namun tak boleh tergesa-gesa, kita boleh mendidik anak dengan cepat tapi tak boleh tergesa-gesa, kita boleh membuat pesantren cepat, tapi jangan tergesa-gesa, karena ketergesa-gesaan hanya membuang umur.

Membaca qur'an boleh cepat, tapi tidak boleh tergesa-gesa, sebagaimana firman Allah saat menegur Nabi Muhammad : Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu , dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."QS.20:144

Allim
Sabtu, 16 Januari 2010



[+/-] Selengkapnya...

14 Januari 2010

Telah Kering Tinta Itu

Telah Kering Tinta Itu
Oleh : Muhammad Muallim

Maha suci Allah dengan segala firman-Nya, entah kenapa tiba-tiba saya bisa menulis kembali dengan judul ini, cukup lama penulis membisu dalam kesibukan, meski sebnarnya bisa menulis, namun toh ternyata bisa menulis bukanlah hakku, akan tetapi atas kehendak-Nya lah aku bisa menulis.

Hal demikian baru kusadari ketika secara acak saya membaca buku aiqodlul himam, yang menjadi ide adalah sebuah kata-kata yang sering penulis dengar ketika kawan-kawan penulis bercanda dengan bahasa arab, ana uriid wa anta turid walakin Allah yaf'alu ma yuriid. Aku ingin, Kamu ingin tetapi Allah menakdirkan yang diinginkan-Nya.

Hidup itu ada pilihan apa nggak menurut anda? Jawabanya adalah tidak.


Hidup itu ya hidup tidak ada pilihan, maka hidup harus dijalani sampai masa aktifnya selesai, gerak kita terbatas, kemampuan kita terbatas, langkah kita terbatas, lalu apa yang anda siapkan saat batas itu memindahkan anda ke akherat?

Apakah 4 istri cantik lengkap dengan 4 rumah megah beserta 4 mobil mewah?

Mungkin jawaban pembaca beraneka ragam dan yang jelas semua orang juga mau hal itu, yang tidak mau coba katakan??

Sebagian orang terlihat begitu sibuk dalam upaya untuk mencapai sebuah puncak kejayaan dalam segi apapun. Dengan berbagai cara mereka melompat menuju sebuah tujuan yang bernama kebahagian menurut versi masing-masing. Ada yang bahagia dengan 4 istri, ada yang bahagia dengan 4 mobil mewah, ada yang bahagia dengan 4 trilyun, dan berbagai hal. Hal-hal diatas memicu mereka untuk meminjam, berhutang, berhutang pada rentenir, mencuri, korupsi, berebut, atau menipu.

Semua efek negatif itu akan berkembang searah dengan berkembangnya cita-cita yang tidak terukur, keimanan akan tipis jika efek negatif itu berkembang biak, dan ini bisa menjangkiti siapa saja, baik ilmuwan, agamawan, negarawan, karyawan, pemerintahan, yayasan dan sebagainya.

Kenapa ini terjadi?

Karena mereka tidak mau mengikuti takdir, tidak sabar dengan takdir hidup cukup, mencoba berhutang dan jatuh menjadi miskin. Mungkin pembaca juga tahu, bahwa banyak juga orang berhutang dan sukses, itu jika kita melihat dari luar, coba kita kedalam dan bertanya: apakah mereka sudah puas dengan kesuksesanya? Jawaban logisnya "belum".

وأوحى الله تعالى إلى داوود عليه السلام فقال يا داوود تريد وأريد ولا يكون إلا ما أريد فإن سلمت لي ما أريد أتيتك بما تريد وإن لم تسلم لي ما أريد أتعبتك فيما تريد ولا يكون ألا ما أريد وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأبي هريرة جف القلم بما أنت لاق
Dan Allah memberi wahyu kepada Dawud a.s. Allah berfirman : Wahai Dawud kamu punya keinginan dan Aku punya keinginan, dan tidak akan terjadi selain yang Aku inginkan, Jika kamu pasrah atas ketentuan-Ku maka Aku berikan keinginanmu, dan jika kamu tidak pasrah denga keinginan-Ku, Aku buat kau lelah dengan keinginanmu, dan tidak akan terjadi apapun kecuali apa yang Aku kehendaki.

Rosulullah bersabda kepada abu hurairah : Telah kering tinta itu atas apa yang kau jumpai.

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka . Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. QS.28:68

Maka bersabarlah kamu terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam ikan ketika ia berdo'a sedang ia dalam keadaan marah QS.68:48


[+/-] Selengkapnya...

07 November 2009

Ulama-ulama Berbahaya

Ulama-ulama Berbahaya
Oleh : Muhammad Muallim

Ada seorang bertanya kepada penulis, kenapa sering disebutkan kata "alim-ulama" namun tak pernah tersebutkan "sholeh-ulama"?

Bahkan akhir-akhir ini, ulama tak perlu "alim", tapi ulama itu perlu agniya', ulama yang alim, satu persatu ditarik kembali pada-Nya. Yang tersisa bisa anda rasakan saat ramadlon menjelang, ulama bisa diorbitkan dengan berbagai macam cara, kealiman dan kesolehan adalah nomer sekian, ibarat artis, ulama pun butuh promosi besar-besaran, setidaknya mengundang sejumlah sponsor yang akan berbagi keuntungan dalam pengorbitan ini.

Beredarnya aliran sesat yang menjamur di negeri ini, adalah bukti bahwa ulama-ulama kita mulai habis dan berganti dengan ulama-ulama produk akhir zaman, dimana misi mereka berlawanan dengan konsep ulama-ulama dahulu, ulama dulu zuhud, sementara saat ini huubud dunya, ulama dahulu tawadlu', ulama sekarang banyak yang congkak, ulama dahulu banyak menulis, ulama sekarang banyak omong.dst.

Ada sebuah catatan menarik dari kitab durrotun nasihin, Nabi bersabda : Tanda-tanda dekat dengan hari Kiamat adalah: Barang-barang dagangan di pasar tidak laku, tanah dan tanaman kering karena kurang air hujan, umpat-mengumpat sesama ummat adalah berita harian, riba menjalar menjadi adat kebiasaan, anak-anak zina begitu tampak, orang yang berharta menjadi mulia dan terpandang besar, suara orang fasik berkumandang di beberapa masjid, pelaku kejahatan lebih nampak dibanding pelaku kebenaran dan kebaikan.

Barang dagangan di pasar tidak laku, disebabkan terjadinya monopoli perdagangan oleh pihak-pihak tertentu sehingga orang-orang menengah kebawah yang berjualan di pasar ga dapat untung, perhatikan saja di sekitar kita, dan kita sudah terjebak dalam sistem yang mereka buat, salah satunya tren belanja di mal.

Tanah dan tanaman kering karena jarang hujan : Beberapa negara mulai membuat benih-benih hujan, mungkin karena dunia kita mengalami pemanasan global jadi hujan enggan ke bumi, sementara bumi kita ditanami gedung-gedung kaca.

Umpat-mengumpat : kita hampir tiap hari menikmati hal demikian baik dalam segi politik, keagamaan, ataupun ras.

Riba menjalar dan menjadi budaya: banyak masyarakat kita stres karena konsep riba yang menjalar dan tak terkontrol, beberapa orang pernah penulis tanya, bahwa orang yang berhutang satu juta, dalam satu bulan harus mengembalikan satu juta empat ratus ribu rupiah. Pembaca bisa bayangkan betapa riba memang merugikan, namun anehnya hal itu menjalar menjadi budaya.

Tampaknya anak-anak tidak jelas orang tuanya, dan begitu tampak dimuka bumi ini, maka tak ayal jika terjadi pernikahan antar saudara tunggal gen akibat gelapnya identitas orang tua mereka.

Orang berharta menjadi mulia, bahkan yang terjadi terakhir orang berharta mampu mengatur para penegak hukum, begitu mulianya orang berharta itu. Beberapa ulama pun banyak yang mengikuti metode ini dalam meraih kemuliaan dan kehormatan, bukan lagi dengan ilmu dan kesholehan.

Suara orang fasik berkumandang di Masjid-masjid: banyak para mubalig karbitan yang yaquluna ma la yaf'alun, berbicara soal kebaikan namun dia sendiri tak melakukan.

Dan merajalelanya kejahatan, baik dalam skala kecil maupun besar, bahkan pihak yang menangkap penjahat pun menjadi penjahat juga, terasa anaeh memang zaman akhir.

Begitulah uraian penulis dari beberapa catatan dalam durrotun nasihin, ada lagi yang membuat penulis ketakutan, dimana pada suatu saat penulis membuka sebuah buku yang kumal dan tidak begitu bagus, namun ada kata-kata yang menohok kita semua jika kita punya hati nurani, begini bunyinya:

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib ra. Bahwa Rosulullah bersabda : Akan tiba suatu masa dimana tiada tersisa dari Islam kecuali namanya, dari agama kecuali ritualnya, dari qur'an kecuali darusannya, Masjid-masjid di bangun namun kosong dari dzikir, yang paling jahat pada zaman itu adalah ulama'nya. Dari mereka fitnah timbul dan kepada mereka fitnah kembali. Itu adalah tanda-tanda Kiamat.

Ya Allah, bagaimana kami bisa mengetahui ulama yang baik dan ulama yang jahat? Sementara indera kami terbatas pada yang tampak saja.

Allim
Cipondoh, Sabtu 07 November 2009
Ulama pun ada yang berbahaya

[+/-] Selengkapnya...

03 Oktober 2009

Gempa dan Sebuah Pelajaran dari Alam

Gempa dan Sebuah Pelajaran dari Alam
Oleh : Muhammad Muallim

Negeri kita yang subur ini begitu strategis untuk pertemuan lempeng bumi, yang hijau nan indah dengan cuaca yang tropis. Yang mungkin banyak dari kita lupa mensyukuri keindahan dan kesuburan negeri ini, dikarenakan keterbatasan kita untuk tahu negeri yang lain, yang begitu tandus membatu, gersang, kering kerontang.

Allah berfirman : Dan , tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari , maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".QS.14:7

Orang lebih suka menyebut bahwa hal demikian adalah fenomena alam, namun bagi orang yang beriman menyebutnya fenomena alam atas kehendak Allah. Segala sesuatu akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, dan sistem dari Allah (sunnatullah) tidak akan tergantikan. Seperti halnya sebuah rambu-rambu jika kita menerobosnya tentunya kecelakaan didepan mata.

Gempa di Indonesia bukanlah yang pertama kalinya, namun sudah beberapa kali kita merasakan hal demikian, akan tetapi kita tetap lambat dalam menanganinya, lambat dalam mengantisipasi penataan kontruksi bangunan yang layak. Di beberapa negara penulis pernah menjumpai perobohan sebuah gedung apartemen yang sudah melewati masa layaknya, namun di Indonesia tak ada batas maksimal berapa tahunkah sebuah gedung itu layak berdiri?.

Mungkin kita tak akan pernah sadar jika kita tidak mengalami musibah ini, atau mungkin gedung kita keropos karena korupsi sejak dini dari diri kita sendiri? Lembaga yang memberantas korupsi lagi sibuk mencari pengganti yang berani, sementara para koruptor tak punya hati nurani. Apakah hal demikian itu adalah rasa syukur negara kita atas karunia alam yang indah ini?

Penulis jadi teringat sebuah catatan tembok di sebuah apartemen di Mesir " Ma SyaAllah, laa quwwata illa billah" Semoga dikehendaki Allah tiada kekuatan kecuali dari Allah. Setidaknya kita tidak ombong atas yang kita anggap kuat, kapal titanic yang diyakini tak akan tenggelam saja tenggelam dan patah, gunung yang diyakini tak bakal tenggelam oleh kan'an, ternyata juga tenggelam, Istana fir'aun yang diyakini kuat pun berserakan hingga sekarang.

Apalagi jasad kita, Ya Allah... para pesilat yang kuat pun terluka bahkan ada yang meninggal dalam gempa di Sumatera Barat, Semoga kita bisa berbagi disaat lapang kita, untuk membantu yang sedang kesempitan.

Banyak pelajaran yang kita dapat dari musibah itu diantaranya, kita telah dijelaskan bagaimana kondisi disaat kita menghadapi kiamat, inna zalzalatas sa'ati syaiun adhim, sesungguhnya goncangan saat kiamat sangat dasyat. Kita tak akan sempat memikirkan nasib orang lain saat itu, bahkan orang yang sedang menyusui pun tak akan sempat memikirkan bayinya, tidak ada satu tempat pun yang aman untuk berlindung, dan tidak ada seorang pun yang dapat dimintai tolong.

Disisi lain kita juga mendapat pelajaran, bahwa kita harus memperbaiki kontruksi bangunan yang layak dan tahan gempa, serta bertindak cepat dalam mengevakuasi korban yang selamat maupun yang wafat, serta penyaluran bantuan yang tapat sasaran agar yang selamat tidak ikut sekarat.

Maka marilah kita berlatih untuk siap menghadapi itu, dan hanya Allahlah yang dapat menolong, mohonlah sejak sekarang, sebeb disaat kiamat dimulai semua permintaan akan ditolak, dan mungkin jg disaat bencana berlangsung doa kita tidak didengar.

Allah berfirman : Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia berlalu, seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.QS.10:12

Mari kita teliti, disaat kita sentosa, akankah kita mengingat Allah?

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.QS.8:25


[+/-] Selengkapnya...

09 September 2009

Ramadan, Tukang Ojek dan Saya

Ramadan, Tukang Ojek dan Saya
Oleh : Moehammad Moealliem

Sabtu 05/09/09 hari yang begitu cerah dan banyak hikmah, betapa tidak pada hari itu saya merasa berbeda mungkin hari itu adalah hari yang sudah ditentukan olehnya, suatu sore yang tak jauh beda dengan biasanya, namun saya menjadi terharu atas sebuah sikap dan kata-kata tukang ojek yang menjemput saya.

Tukang ojek, yach tukang ojek yang menjemput saya, hari-hari sebelumnya yang jemput adalah mobil PPPA (lembaga pengembang zakat dan sedekah) sore itu, saya harus siaran live di RRI, sementara mobil PPPA terpakai semua, maklum hari sabtu semua ustadnya mengisi dimana-mana, akhirnya saya harus dijemput ojek menuju kantor PPPA, di kawasan Carrefour Ciledug, dan disambung dengan taksi menuju gedung RRI di dekat Monas.

Dalam perjalanan antara Ketapang (kampus 1 Darul Qur'an Internasional) hingga kantor PPPA, terjadilah sebuah dialog dengan tukang ojek itu, orang itu bercerita diawal dialog itu, bahwasanya dia diminta menjemput ustad muallim, dalam bayangan tukang ojek itu, ustad ini udah tua dan gede tubuhnya, namun begitu saya keluar dari rumah dan naik di motornya, beliau heran dan berkata dalam hatinya "Ternyata masih muda belia".

Mungkin dalam hati dia ada pertikaian antara percaya dan tidak percaya, memang sih pak tua itu tukang oek tapi kelihatanya lumayan tahu tentang agama, pun juga dia setia dengan kopyah putihnya dalam bekerja. Memang kata filusuf kita perlu meragukan sesuatu sebelum kita mempercayainya, dan secara umum falsafah ini dipakai siapa saja, kita akan meragukan sesuatu yang asing dari database otak kita.

Disisi lain saya dapat berbagi ilmu dengan bapak ojek itu tentang beberapa hal yang membuat dia gundah atas cara ibadah beberapa kelompok yang ada saat ini, tentang sholat dan beberapa hal yang selama ini ia dengar dan baca lewat buku. Salah satu yang dia tanyakan adalah keberadaan orang yang sholat dengan takbiratul ihram yang cepat, lalu bagaimana dia mengucapkan niat?

Pembaca coba lihat sholat pembaca, ketika takbir pertama adakah dalam hati anda mengucapkan niat disaat mulut anda mengucap takbir?

Madzhab syafii memberi solusi kita melafalkan niat sebelum takbir dan saat takbir kita berniat dalam hati, madzhab yang lain menganggap melafalkan takbir adalah bid'ah, namun realita dimasyarakat, mereka yang mengikuti pembid'ahan malah takbirnya terlalu cepat, atau bisa dipastikan mereka nggak berniat dengan hati.

Madzhab syafii memang ketat dan begitu berhati-hati agar orang yang sholat tidak lupa niatnya, karena segela sesuatu tergantung niat, puasa aja niatnya harus jelas, kalau niatnya lewat puasa ramadan dianggap batal dan harus mengganti, tentunya dalam sholat setara dengan iyu karena hal itu sama-sama rukun Islam.

Maka telitilah sholatmu, dan jangan berbuat suatu ibadah tanpa sebuah nilai.



[+/-] Selengkapnya...

10 Artikel Populer