20 Mei 2009

Kebon Raya Bogor


Kebon Raya Bogor
Oleh : Mochammad Moealliem


Minggu (15/02/2009) penulis dapat kesempatan keliling kebon raya on foot, sebab kendaraan tidak diperkenankan masuk, penulis sedikit bangga pada negeri yang baru penulis kenal kembali setelah bertahun-tahun hanya bisa melihat hadiqoh dauliyah di daerah Masakin Utsman Nasr City Cairo, meskipun taman yang namanya internasional itu tidak ada apa-apanya, dibanding taman mininya Indonesia, apalagi dengan kebon raya bogor


Pada kesempatan terakhir penulis menikmati musim panas, ada taman yang lumayan indah di Mesir, yang mana menjadi satu-satunya taman yang penuh dengan pohon palem, taman itu dibuat sejak penulis datang pertama kali di Mesir, dimana taman itu dulunya adalah bukit pasir yang akan menjadikan hujan debu pada daerah sekitarnya ketika angin bertiup di musim panas, namun akhirnya bukit berpasir itu sekarang disulap menjadi bukit hijau, dan diberi nama Al Azhar Park.



Tapi jangan berhayal itu seperti ancol, atau taman mini, masih jauh, maklum tak mudah menjadikan rumput hidup di Mesir, apalagi mau menanam bermacam-macam pohon dan tumbuh-tumbuhan seperti di kebon raya bogor, tak perlu berkhayal deh, meskipun hal demikian mungkin aja terjadi kalau orang mesir mau membuatnya di taman Paronic Village yang berada di delta sungai Nile, sebagaimana pernah saya tulis dahulu.

Hanya saja terkadang orang Indonesia kurang bersyukur, maklum mereka tak pernah tahu yang lebih rendah dari keindahan negerinya, berbeda dengan penulis yang baru mengetahui bahwa negeri penulis lebih indah dan lebih hijau dibanding negeri orang, meskipun penulis sadar negeri yang lebih bagus dari negeri penulis masih banyak, namun setidaknya kalau semua lokasi wisata di Indonesia dirawat dari ujung sabang sampai ujung merauke, rasanya tak kalah dengan puluhan tempat wisata yang ada pada puluhan negeri lain.

Hanya sayang masyarakat kita seolah kurang puas jika liburan keluar daerah, keluar kota, keluar pulau, kecenderungan masyarakat kita adalah bangga ketika berlibur keluar negeri. Hal demikian sudah dikenang orang dulu dalam pepatahnya bahwa rumput tetangga tampak lebih hijau dari rumput dalam rumah kita. Dan dalam kebahagian pun masyarakat kita cenderung melihat orang lain lebih bahagia dibanding kita, padahal setiap orang akan mengalami hal yang sama, dan merasa orang lain tak ada masalah, padahal setiap orang yang hidup tentu punya masalah, terkadang sudah mati pun masalah masih ada.



Lepas dari itu, ternyata kebon raya Bogor memiliki ribuan jenis tumbuhan yang ada didunia, kalau aneka macam hewan yang terkumpul menjadi kebon binatang, mungkin bisa dikatakan kebo raya adalah kebon tumbuhan, dengan beberapa hewan terntu, semisal Paus biru yang panjangnya lebih dari 20 meter. Juga binatang khas istana bogor yaitu (kidhang) rusa apa kijang ya? Kalau dalam tembang jawa ada lagu tentang “kidhang talun”. Ada juga burung-burung dan lain sebagainya.

Pembaca tak usah bingung berpikir dimana paus biru berada? Sebab mana mungkin sungai di kebon raya ada pausnya, Paus biru sudah tinggal tulangnya yang disusun rapi sesuai bentuk asalnya di museum zoologi yang ada didalam kebon itu. Jadi teringat deh dengan kisah nabi yunus, akhirnya kita bisa percaya, bahwa orang yang dimakan paus segede itu mungkin nggak langsung mati, kayak kita masukin permen dimulut kita kali, paling gelap dan agak sesak nafas, maka tak aneh tatkala nabi yunus dimuntahkan dari mmulut ikan dia dalam keadaan yang agak mengenaskan, beruntung muntahinnya dipinggir pantai coba kalau pas dia berdoa langsung dimuntahkan ditengah laut, apa masih kuat untuk berenang ketepian?.



Maka marilah kita bersyukur atas karunia yang tak ternilai harganya, banggalah dengan negeri kita dan jadikanlah diri kita sebagai kebanggaan negeri kita tercinta dengan berbagai prestasi, sebagai wujud syukur kita pada Allah yang menjadikan Indonesia begitu indah.

Allim
Cipondoh Rabu 20 Mei 2009
Syukurilah yang kita punya


[+/-] Selengkapnya...

11 Mei 2009

Metro Anfaq dan Busway

Metro Anfaq dan Busway
Oleh Muhammad muallim

Aku belum bisa menghayal di Cairo Mesir ada Busway, sebagaimana aku tak bisa berhayal Metro anfaq di Jakarta. Dua kota yang punya kekurangan masing-masing setelah banyak kelebihan yang tak perlu disebutkan, salah satu kekurangan kota Cairo adalah kurang hujan sehingga memungkinkan para kontraktor bermain petak umpet dengan terowongan yang tak kalah dengan terowongan tikus, mungkin saat ini mereka sedang menyelesaikan jalur 3 jurusan kota Ataba hingga Bandara, kata salah seorang yang pernah heran dengan penulis, waktu yang dibutuhkan ditaksir 4 tahun, semoga saja itu benar, sebab kebiasaan orang Mesir bilang “tunggu lima menit” tapi tidak benar.

Apa jadinya jika di Jakarta ada kereta bawah tanah? Apalagi banjir begitu akrab, mungkin asyik kalau air banjirnya bening, serasa didalam aquarium dan keretanya pun harus standar kapal selam, namun setidaknya penulis merasa asyikan di Busway daripada di metro anfaq Kairo, meski jika dibandingkan harga tiket busway dua kali lipat harga tiket metro bawah tanah itu.


Kata orang metro anfaq Kairo dibuat orang prancis jadi yach lumayan bagus tata ruangnya, apalagi stasiun untuk transit seperti ataba atau ramsis, yang membedakannya dengan busway adalah karcis busway hanya masuk mesin ketika masuk halte busway dan tak bisa keluar lagi, adapun kalau metro anfaq karcis masuk mesin dan keluar lagi, dan harus dibawa hingga nanti sampai halte tujuan, dan jika tak punya karcis dia tak akan bisa keluar halte, sebab untuk membuka pintu untuk keluar harus memasukkan karcisnya tadi dan akan ditelan mesin dan tak keluar lagi.

Lain dari itu, setiap stasiun metro bawah tanah Mesir ada peta kota dan halte-halte yang dilalui, berbeda dengan busway kita tak akan tahu dan hanya akan tahu ketika hampir sampai tujuan, meskipun ada suara yang terekam untuk memberitahu setiap halte yang ada didepan, itu pun kalau nggak rusak, kadang juga rusak, jadi untuk orang asing atau turis, akan mengalami kesulitan, turis lokal pun akan menambah tenaga untuk bertanya.

Asyiknya ketika naik busway adalah sejuk dan tak terasa macet, namun itu adalah penilaian pertamaku saat menaikinya di hari libur, namun akhirnya penulis terjebak kemacetan di halte Harmoni pada jum’at sore, dan hal itu memberikan penulis sebuah kesimpulan bahwa pada jum’at sore akan selalu terjadi hal demikian, bahkan hampir selama satu jam orang baru bisa masuk bus tujuan tertentu, seperti kalideres dan tujuan yang dipadati para pekerja yang hendak pulang berakhir pekan.

Tak beda jauh dengan Metro anfaq di Mesir, juga akan begitu penuh pada jam pulang kerja tiap harinya.

Alliem
Senin 11 Mei 2009
Jakarta macet itu pasti

[+/-] Selengkapnya...

28 Maret 2009

Proyek menuju Ridlo Allah


Bagi Rekan-rekan yang berminat wakaf or sodaqoh silahkan datang dan lakukan sesuai keikhlasan anda, atau kalau mau transfer silahkan hubungi saya via email nanti akan saya berikan rekening sementara

atau lebih lengkapnya klik di http://madinmu.blogspot.com












[+/-] Selengkapnya...

16 Februari 2009

Sisi Lain Ponari Jombang

Sisi Lain Ponari Jombang
Oleh : Mochammad moealliem

Jombang itulah nama daerahnya, konon sejarahnya daerah ini dinamai dengan sebutan Jombang dikarenakan adanya dua dimensi yang ada dalam masyarakatnya, setidaknya bisa disebut ijo abang (hijau dan merah). Sebuah warna yang memang dipilih sebagai simbol untuk sebuah strata seseorang, hijau mewakili orang yang melek huruf, atau santri kata yang berasal dari bahasa kuno sastri (melek huruf) dan berkaitan juga dengan cantrik anda bisa membacanya secara lengkap dalam catatan sejarah yang ada.

Untuk memberi gambaran secara lebih dekat anggap saja Ryan (si jagal jombang) mewakili kelompok merah alias masyarakat yang membuat nilai daerahnya tertulis dengan nilai merah, dan Ponari sebagai wakil dari kelompok hijau (penyembuh) hal demikian adalah sebagai bentuk penyeimbang, dan mungkin hebohnya berlipat ganda dibanding hebohnya Ryan.

Itu adalah contoh terkini, dan hampir seluruh Indonesia tahu, meski pada sejarahnya banyak juga kisah rakyat dan mungkin realita pada zamannya, bahwa disanalah gudang dua hal itu, toh dimanapun hal demikian juga akan selalu ada, dimana ada baik disitu ada buruk, sebab tidak akan mungkin sebuah kebaikan itu hadir tanpa diimbangi dengan keburukan, surga pun tak akan laku jika neraka tidak ada.

Sebuah fenomena yang unik bagi saya melihat puluhan ribu orang mengantri untuk minta obat, yang secara rasional tertolak mentah-mentah, namun toh sehebat apapun rasio tak bisa mengalahkan realita yang ada. Banyak dari kalangan kesehatan terweleh-welehkan (dalam bahasa gaulnya, ilmu yang dipelajarinya dicampakkan dengan kejadian ponari), bocah umur 9 tahun yang habis tersambar petir dan mendapat batu, dan ketika batu itu dibuang ternyata kembali ketempat ponari lagi, pembaca boleh percaya boleh tidak, namun penulis yakin ponari bukan pembohong layaknya dukun-dukun itu.

Orang mengatakan Ponari adalah dukun cilik, namun menurut penulis dia bukan dukun, namun hanya kebetulan diberi kelebihan oleh Allah, itu pun karena batu yang datang min haitsu la yahtasib, namun setidaknya efeknya positif, kalau memang itu bisa membuat orang jadi sembuh lantaran hal itu, toh juga yang menyembukan Allah. Jika ada orang yang kurang berilmu berkata itu syirik, saya kira perlu hati-hati, berobat ke dokter dan ke ponari adalah sama, menyakini jika minum obat dari dokter membuat dia sembuh adalah keliru, sebagaimana menyakini minum air yang dicelupi batunya ponari. Kecuali jika mereka tetap yakin yang menyembuhkan adalah Allah, lewat air itu, atau obat dari dokter.

Anda bisa simak sejarah nabi Musa ketika sakit gigi, ketika dia memohon kesembuhan pada Allah dia disuruh mengambil sebuah rerumputan, disaat yang lain dia sakit lagi, dan langsung mengambil rerumputan dan melupakan Allah, akhirnya sakitnya malah parah, setelah itu baru sadar dan mendapat teguran dari Allah.

Kisah ponari ini menurut penulis adalah sebuah peringatan kepada pemerintah Indonesia, dimana pelayanan kesehatan begitu minim dan mahal, baru daftar menjadi pasien saja sudah mahal apalagi resmi menjadi pasien dan harus menebus obat-obat yang mahal, maka tak heran jika puluhan ribu orang rela antri berhari-hari hanya karena pengobatan yang murah.

Hal demikian juga mengulang sejarah nabi Isa, juru pengobatan yang tak masuk akal pada saat kekuatan akal diagung-agungkan oleh kaum yahudi yang memang rasionalis, bahkan nabi Isa pun dilahirkan tanpa ayah, sebagai bukti bahwa Allah mampu melakukan apa yang akal manusia tak mampu menjangkau.

Penulis pun terkadang terbentur dengan hal demikian, ketika mencoba menjadikan sesuatu sesuai akal dalam sejarah-sejarah para nabi, para wali, dan orang sholeh lainya. Satu contoh adalah Hajar aswad, batu hitam yang diciumi jutaan orang, yang sekarang terletak disebuah sudut ka’bah, batu itu dalam tafsir yang penulis pelajari, adalah batu dari surga, buah-buahan yang diberikan untuk maryam ketika i’tikaf dalam tempat khalwatnya adalah dari surga, Istri salah seorang wali di Indonesia .juga bidadari dari surga.

Disitulah manusia diuji antara percaya dan tidak percaya, dan disitu pula manusia diajari bahwa yang gaib itu ada, dan yang ada itu gaib. Yang atas itu bawah dan yang bawah itu atas, up is down kata orang inggris, dan penulis yakin ketika pembaca berpikir sejenak dari contoh yang akan penulis berikan, pembaca akan sadar.

Contoh atas adalah bawah.

Kita semua tahu bahwa bumi adalah bulat, langit yang kita anggap diatas kita sebenarnya adalah dibawah bumi, dan langit yang dibawah bumi sebenarnya diatas kita. Anggap saja apa yang dianggap tertinggi dibagian bumi amerika, adalah apa yang dianggap rendah oleh bagian bumi Indonesia, dan semakin tinggi orang menumpuk harta, semakin dalam pula ia terkubur dengan harta.

Kalau saja umur kita diakhirat nanti sama dengan umur kita didunia, anda bisa bayangkan jika satu hari penuh kita berdosa, sebagai balasan kejelekan adalah 1:1 maka kita akan terhukum selama 1000 tahun dunia, karena satu hari diakhirat sama dengan 1000 tahun didunia. Nah kalau berbuat baik kan sistemnya 1:10, so jika kita beramal baik satu hari penuh maka balasannya 10.000 tahun, coba bayangkan kalau seumur hidup kita mampu beramal baik.

Maka, kata guruku “dalam diam, janganlah hatimu diam, dalam ramai, janganlah hatimu ramai”, ini penulis jabarkan aja, yang jelas iintinya guruku berpesan jika hatimu menyebut Allah tiap detaknya, bukankah itu tabungan kebaikan dan setiap kebaikan akan dibalas, sementara waktu tak bisa di pause atau di replay, jika hari ini kamu tidak menyebut Allah, maka kamu tak akan dapat mencari waktu hari ini, setelah hari ini.

Dalam diamnya mulut kita, dzikirlah yang keras dengan hati kita, dan dalam ramainya mulut kita, janganlah hati kita ramai kecuali untuk menyebut Allah. Janganlah mulut kita dzikir dengan keras sementara hati kita tidur atau bahkan wisata kemana-mana, apalagi mulut kita tidak berdzikir, hati kita maksiat, na’udzubillah!.

Cipondoh – Tangerang
Senin, 16 Februari 2009
Dunia memang penuh dengan kebingungan



[+/-] Selengkapnya...

22 Januari 2009

Tentang Islam, Iman dan Ihsan

Tentang Islam, Iman dan Ihsan
Oleh : Mochammad Moealliem

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ [رواه مسلم]

Terjemah Hadits dalam bahasa Inggris:
Also on the authority of Umar ibn al-Khattab (may Allah be pleased with him), who said: One day while we were sitting with the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) there appeared before us a man whose clothes were exceedingly white and whose hair was exceedingly black; no signs of journey were to be seen on him and none of us knew him. He walked up and sat down in front of the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him), with his knees touching against the Prophet’s (peace and blessings of Allah be upon him) and placing the palms of his hands on his thighs he said, “O Muhammad, tell me about Islam.” The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said, “Islam is to testify that there is no deity worthy of worship but Allah and Muhammad is the Messenger of Allah, to perform prayers, to give zakat, to fast in Ramadhan, and to make the pilgrimage to the House if you are able to do so.” He said, “You have spoken rightly”; and we were amazed at him asking him and saying that he had spoken rightly. He [the man] then said, “Tell me about iman.” The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said, “It is to believe in Allah, His Angels, His Books, His Messengers, and the Last Day, and to believe in divine destiny (qadr ), both the good and the evil of it.” He said, “You have spoken rightly.” He [the man] said, “Then tell me about ihsan.” The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said, “It is to worship Allah as though you see Him, and if you do not see Him, then (knowing that) truly He sees you.” He said, “Then tell me about the Hour.” The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said, “The one questioned about it knows no better than the questioner.” He said, “Then tell me about its signs.” The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said, “That the slave-girl will give birth to her mistress, and that you will see barefooted, naked destitute shepherds competing in constructing lofty buildings.” Then he [the man] left, and I stayed for a time. The he [the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him)] said, “O Umar, do you know who the questioner was?” I said, “Allah and His Messenger know best.” He said, “It was Jibreel, who came to teach you your religion.” It was related by Muslim.

Terjemah Hadits dalam bahasa Indonesia :
Dari Umar bin Khattab r.a. ia bercerita, "Ketika kami sedang duduk di dekat Rasulullah saw., tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian putih, berambut hitam pekat, bekas jalannya tidak terlihat dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalinya. Ia duduk menghadap Nabi saw, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi sambil mengatakan, 'Wahai Muhammad! Terangkanlah kepadaku tentang Islam!' Rasulullah saw. menjawab, 'Islam adalah hendaklah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah, jika memenuhi syarat.' Ia mengatakan, 'Engkau benar!' Kami keheranan melihat dia bertanya sekaligus membenarkannya. Lebih lanjut ia mengatakan, 'Sekarang terangkanlah kepadaku tentang Iman!' Rasulullah saw. menjawab, 'Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhirat serta engkau beriman kepada baik dan jeleknya takdir.' Ia mengatakan, 'Engkau benar! Selanjutnya terangkan kepadaku tentang Ihsan!' Rasulullah saw. menjawab, 'Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, atau engkau beribadah kepada Allah dengan keyakinan bahwa Dia selalu melihatmu.' Orang itu kembali bertanya, 'Beritahukanlah kepadaku kapan terjadinya hari kiamat?' Rasulullah saw. menjawab, 'Orang yang ditanyai, sebenarnya tidak lebih mengetahui hal itu daripada penanya sendiri.' Orang itu mengatakan lagi, 'Kalau begitu beritahukanlah kepada saya tanda-tanda (terjadinya) hari kiamat!' Rasulullah saw. menjawab, 'Apabila budak perempuan melahirkan majikannya, engkau melihat orang-orang tidak bersandal, telanjang, papa dan penggembala kambing saling bersaing membangun gedung-gedung tinggi.' Kemudian orang itu berlalu, kami terdiam beberapa saat. Rasulullah saw. bertanya, 'Hai Umar! Tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?' Umar menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Rasulullah saw. memberitahukan, 'Dia adalah Jibril, datang untuk mengajari kalian tentang agama Islam.'" [Riwayat Muslim]

Versi asli dari shohih Muslim hadith nomor 9 :
9 - حَدَّثَنِي أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ وَهَذَا حَدِيثُهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ فَقُلْنَا لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ فَقُلْتُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ قَالَ فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

ثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِيُّ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ مَطَرٍ الْوَرَّاقِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ لَمَّا تَكَلَّمَ مَعْبَدٌ بِمَا تَكَلَّمَ بِهِ فِي شَأْنِ الْقَدَرِ أَنْكَرْنَا ذَلِكَ قَالَ فَحَجَجْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَجَّةً وَسَاقُوا الْحَدِيثَ بِمَعْنَى حَدِيثِ كَهْمَسٍ وَإِسْنَادِهِ وَفِيهِ بَعْضُ زِيَادَةٍ وَنُقْصَانُ أَحْرُفٍ و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ وَحُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَا لَقِينَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ فَذَكَرْنَا الْقَدَرَ وَمَا يَقُولُونَ فِيهِ فَاقْتَصَّ الْحَدِيثَ كَنَحْوِ حَدِيثِهِمْ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهِ شَيْءٌ مِنْ زِيَادَةٍ وَقَدْ نَقَصَ مِنْهُ شَيْئًا و حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ




[+/-] Selengkapnya...

10 Artikel Populer