06 Mei 2011

Tiga Tipe Kesadaran Seseorang Akan Keimanannya

Khutbah Jum'at 2011-05-06

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلهُْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ {5}

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Pada jum’at yang berbahagia ini, marilah kita sama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wataala, yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kekuatan kepada kita sejak dipertemukannya ruh dan jasad kita, sehingga kita menjadi wujud adanya. Shalawat dan salam kita berikan kepada nabi besar Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam yang telah mewariskan Al Qur’an kepada umatnya, sebuah ilmu yang senantiasa bermanfaat bagi khidupan umat manusia.

Marilah kita buktikan puji syukur kita atas semua karunia Allah kepada kita dengan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah yang selalu melihat gerak-gerik kita, dengan sebenar-benar takwa, serta menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Allah berfirman dala Al Qur’an:

Audzubillahi minas syaitonirrojim, bismillahirrahmanir rahim

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

"Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi baik di bumi ataupun di
langit."(ali-lmran: 5)

Nabi bersabda, sebagaimana dicatat oleh imam muslim:

Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Pada suatu ketika kita semua duduk di sisi Rasulullah s.a.vv. yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah di muka kita seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak timpak padanya bekas bepergian dan tidak seorangpun dari kita semua yang mengenalnya, sehingga duduklah orang tadi di hadapan Nabi s.a.w. lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri dan berkata: "Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam." Rasulullah s.a.w. lalu
bersabda:

"Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahwa tiada piihan kecuali Allah dan
bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat,
menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau
engkau kuasa jalannya ke situ."

Orang itu berkata: "Tuan benar."

Kita semua heran padanya, karena ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata
lagi: "Kemudian beritahukanlah padaku tentang Iman."

Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya,
rasul-rasulNya, hari penghabis
an - kiamat - dan hendaklah engkau beriman pula
kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk - semuanya dari Allah jua."
Orang itu berkata: "Tuan benar." Kemudian katanya lagi:

"Kemudian beritahukanlah padaku tentang Ihsan."

Rasulullah s.a.w. menjawab: "Yaitu hendaklah engkau menyembah kepada Allah
seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya,
maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu."

Ia berkata: "Tuan benar." Katanya lagi: "Kemudian beritahukanlah padaku tentang hari
kiamat." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Orang yang ditanya - yakni beliau s.a.w. sendiri -
tentulah tidak lebih tahu dari o
rang yang menanyakannya - yakni orang yang datang tiba tiba tadi.

Orang itu berkata pula: "Selanjutnya beritahukanlah padaku tentang alamat-alamatnya
hari kiamat itu."

Rasulullah s.a.w. menjawab:
"Yaitu apabila seorang hamba sahaya wanita melahirkan tuan puterinya – maksudnya hamba sahaya itu dikawin oleh pemiliknya sendiri yang merdeka, lalu melahirkan seorang anak perempuan. Anaknya ini dianggap merdeka juga dan dengan begitu dapat dikatakan hamba sahaya perempuan melahirkan tuan puterinya - dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang-telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing sama
bermegah-megahan dalam gedung-gedung yang besar - karena sudah menjadi kaya-raya dan bahkan menjabat sebagai pembesar-pembesar negara."

Selanjutnya orang itu berangkat pergi. Saya - yakni Umar r.a. - berdiam diri beberapa
saat lamanya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Umar, adakah engkau mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi?" Saya menjawab: "Allah dan RasulNyalah yang lebih mengetahuinya." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya orang tadi adalah malaikat Jibril, ia datang untuk memberikan pelajaran tentang agama kepadamu semua." (Riwayat Muslim)

Dalam Hadis di atas, ada beberapa hal yang penting kita ketahui, yaitu:

(a) Mendirikan shalat artinya tidak semata-mata menjalankan shalat saja, tetapi harus dipenuhi pula syarat-syarat serta rukun-rukunnya dan ditepatkan selalu menurut waktu-waktunya.
(b) Percaya kepada Allah yakni meyakinkan bahwa Allah itu ada (jadi jangan beranggapan bahwa Allah itu tidak ada
seperti faham komunis), dan lagi Allah itu ersifat dengan semua sifat kemuliaan, keagungan dan kesempurnaan serta terjauh dari semua sifat kekurangan, kehinaan dan kerendahan.
(c) Malak ialah makhluk Allah yang dibuat daripada nur (cahaya) dan tidak berjejaljejal
seperti cahaya lampu yang memenuhi rumah. Dengan cahaya seribu lampu, belum juga
sesak rumah itu. Dengan ini teranglah apa yang dimaksud dalam sebuah Hadis:
Artinya:
"Bahwasanya Allah itu mempunyai malaikat, ada yang memenuhi sepertiga alam, ada yang memenuhi dua pertiga alam dan ada yang memenuhi alam seluruhnya."

Adapun arti iman kepada malaikat ialah harus percaya bahwa mereka itu benar-benar
ada dan bahwa mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Malak itu
sebenarnya kata mufrad dan jamaknya berbunyi malaikat.
(d) Percaya kepada kitab-kitab Allah ialah meyakinkan betul-betul bahwa kitab-kitab
suci itu adalah firman Allah yang sebenar-benarnya yang diturunkan pada Rasul-rasulNya dengan jalan wahyu dan meyakinkan pula bahwa isi yang terkandung di dalamnya ttu semua benar.

(e) Percaya kepada para Rasul artinya beri'tikad seteguh-teguhnya bahwa apa yang
mereka bawa itu memang sebenarnya dari Allah Ta'ala.
(f) Hari Akhir ialah hari Kiamat. Iman dengan hari kiamat artinya mempercayai betul-betul akan terjadinya hari penghabisan itu dan apa saja yang terjadi sesudahnya, misalnya
Hasyar (akan dikumpulkannya semua makhluk di padang mahsyar), Hisab (semua amal
akan diperhitungkan), Mizan (amal-amal akan ditimbang dalam neraca), menyeberangi
jembatan yang disebut Shirath dan kemudian ada yang masuk Jannah (syurga), ada pula
yang terus terjun ke (neraka) dan lain-lain hal lagi.
(g) Qadar ialah ketentuan dari Allah sebelum Allah membuat semua makhluk ini,
yang baik maupun yang jahat. Jadi segala
macam adalah dengan kehendak Allah yang telah dipastikan sejak zaman azali dulu yaitu zaman sebelum Allah membuat apa-apa. Tetapi kita jangan lupa berikhtiar, karena kita telah diberi akal oleh Allah untuk mengusahakan bagaimana jalannya agar kita tetap bernasib baik dan terjauh dari nasib buruk. Kita tetap harus berdaya upaya selama hayat dikandung badan.

(h) Dengan cara ibadat sebagaimana yang terkandung dalam arti kata Ihsan ini, maka
tentu akan khusyuklah kita sewaktu menyembah Allah itu. Kalau dapat seolah-olah tahu
pada Allah, ini namanya Mukasyafah (terbuka dari semua tabir yang menutup) dan kalau
mengangan-angankan bahwa Allah tetap melihat kita, ini namanya Muraqabah (mengintaiintainya Allah pada kita).

(i) Tanda-tanda yang dimaksud ini ialah tanda
-tanda kecil sebab datangnya hari
kiamat itu ada tanda-tandanya yang kecil dan ada tanda-tandanya yang besar. Tanda-tanda kecil artinya datangnya itu masih agak jauh, tetapi bila tanda-tanda besar telah nampak, maka itulah yang menunjukkan bahwa hari kiamat telah sangat dekat sekali saat terjadinya.
(j) Hamba sahaya perempuan meiahirkan tuannya - artinya, banyak sahaya
perempuan itu yang dikawin oleh raja-raja atau pejabat-pejabat tinggi lalu meiahirkan anak-anak perempuan sehingga anak-anaknya itu pun akan berkedudukan sebagaimana ayahnya.
(k) Orang yang tak beralas kaki, telanjang, miskin serta penggembala kambing sama
bermegah-megah dalam gedung-gedung besar, maksudnya ialah bahwa yang asalnya hanya penggembala yang miskin hingga seo
lah-olah tak pernah beralas kaki dan pakaiannya hampir-hampir tidak ada (boleh dikata telanjang) tiba-tiba menjadi pembesar-pembesar negeri dan mendiami gedung-gedung besar lagi indah dan sama berkuasa serta kaya raya.

Dengan demikian, keadaan negeri lalu rusak binasa sebab sesuatu perkara semacam
pemerintahan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, sebagaimana dalam sebuah
Hadis diterangkan:

Artinya:
"Apabita sesuatu perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kerusakannya."

Audlubillahi minas syaitonirrojiim, bismillahirohmanirrohim
وَالْعَصْرِ {1}
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2}
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah kedua
َلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Dalam hadith lain diceritakan

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya ada tiga orang dari kaum Bani Israil, yaitu orang supak - yakni belangbelang kulitnya, orang botak dan orang buta. Allah hendak menguji mereka itu, kemudian mengutus seorang malaikat kepada mereka. Ia mendatangi orang supak lalu berkata:

"Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercin
ta bagimu?" Orang supak berkata: "Warna yang baik dan kulit yang bagus, juga lenyaplah kiranya penyakit yang menyebabkan orangorang merasa jijik padaku ini." Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah kotoran-kotoran itu dari tubuhnya dan dikaruniai -oleh Allah Ta'ala - warna yang baik dan kulit yang bagus. Malaikat itu berkata pula: "Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?" Orang itu menjawab: "Unta." Atau katanya: "Lembu," yang merawikan Hadis ini sangsi – apakah unta ataukah lembu. Ia lalu dikaruniai unta yang bunting, kemudian malaikat berkata: "Semoga Allah memberi keberkahan untukmu dalam unta ini."

Malaikat itu seterusnya mendatangi orang botak, kemudian berkata: "Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?" Orang botak berkata: "Rambut yang bagus dan lenyaplah kiranya apa-apa yang menyebabkan orang-orang merasa jijik padaku ini." Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah botak itu dari kepalanya dan ia dikarunia rambut yang bagus. Malaikat berkata pula: "Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?" Ia berkata: "Lembu." lapun lalu dikarunia lembu yang bunting dan malaikat itu berkata: "Semoga Allah memberikan keberkahan untukmu dalam lembu ini."

Akhirnya malaikat itu mendatangi orang buta lalu berk
ata: "Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?" Orang buta menjawab: "Yaitu hendaknya Allah mengembalikan penglihatanku padaku sehingga aku dapat melihat semua orang." Malaikat lalu mengusapnya dan Allah mengembalikan lagi penglihatan padanya. Malaikat berkata pula: "Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?" Ia menjawab: "Kambing." lapun dikarunia kambing yang bunting - hampir beranak.

Yang dua ini - unta dan lembu melahirkan anak-anaknya dan yang ini - kambing - juga melahirkan anaknya. Kemudian yang seorang - yang supak - mempunyai selembah penuh unta dan yang satunya lagi - yang botak - mempunyai selembah lembu dan yang lainnya lagi - yang buta - mempunyai selembah kambing.

Malaikat itu lalu mendatangi lagi orang - yang asalnya - supak dalam rupa seperti orang supak itu dahulu keadannya - yakni berpakaian serba buruk - dan berkata: "Saya adalah orang miskin, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperoleh rezeki bagiku dalam bepergianku ini. Maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini kecuali Allah kemudian dengan pertolonganmu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang telah mengaruniakan padamu warna yang baik dan kulit yang bagus dan pula harta yang banyak, sudi kiranya engkau menyampaikan maksudku dalam bepergianku ini - untuk sekedar bekal perjala
nannya." Orang supak itu menjawab:

"Keperluan-keperluanku masih banyak sekali." Jadi enggan memberikan sedekah padanya.
Malaikat itu berkata lagi: "Seolah-olah saya pernah mengenalmu. Bukankah engkau dahulu seorang yang berpenyakit supak yang dijijiki oleh seluruh manusia, bukankah engkau dulu seorang fakir, kemudian Allah mengaruniakan harta padamu?" Orang supak dahulu itu menjawab: "Semua harta ini saya mewarisi dari nenek-moyangku dulu dan merekapun dari nenek-moyangnya pula." Malaikat berkata pula: "Jikalau engkau berdusta dalam pendakwaanmu - uraianmu yang menyebutkan bahwa harta itu adalah berasal dari warisan, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali seperti keadaanmu semula.

Malaikat itu selanjutnya mendatangi orang - yang asalnya -botak, dalam rupa – seperti orang botak dulu - dan keadaannya -yang hina dina, kemudian berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakan kepada orang supak dan orang botak itu menolak permintaannya seperti halnya orang supak itu pula. Akhirnya malaikat itu berkata: "Jikalau engkau berdusta, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali sebagaimana keadaanmu semula."


Seterusnya malaikat itu mendatangi orang - yang asalnya - buta dalam rupanya - seperti orang buta itu dahulu - serta keadaannya - yang menyedihkan, kemudian ia berkata:

"Saya adalah orang miskin dan anak jalan - maksudnya sedang bepergian dan kehabisan bekal, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperoleh rezeki bagiku dalam bepergianku ini, maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini, kecuali Allah kemudian dengan pertolonganmu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang mengembalikan penglihatan
untukmu yaitu seekor kambing yang dapat saya gunakan untuk menyampaikan tujuanku dalam bepergian ini." Orang buta dahulu itu berkata: "Saya dahulu pernah menjadi orang buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatan padaku. Maka oleh sebab itu ambillah mana saja yang engkau inginkan dan tinggalkanlah mana saja yang engkau inginkan. Demi Allah saya tidak akan membuat kesukaran padamu - karena tidak meluluskan permintaanmu -pada hari ini dengan sesuatu yang engkau ambil karena mengharapkan keridhaan Allah 'Azzawajalla."

Malaikat itu lalu berkata: "Tahanlah hartamu - artinya tidak diambil sedikitpun, sebab sebenarnya engkau semua ini telah diuji, kemudian Allah telah meridhai dirimu dan memurkai pada dua orang sahabatmu - yakni si supak dan si botak." 8 (Muttafaq alaih)
Dalam riwayat Imam Bukhari kata-kata: La aj
haduka, yang artinya: "Aku tidak akan membuat kesukaran padamu", itu diganti: La ahmaduka, artinya: "Aku tidak memujimu - menyesali diriku - sekiranya hartaku tidak ada yang engkau tinggalkan karena engkau membutuhkannya."

Dari hadith itu semoga kita bisa mengambil hikmah agar selalu merasa bahwa Allah selalu memperhatikan kita, dan jika kita mampu merasa, tentunya kita tak akan berkata yang tidak sesuai sebagaimana dua orang dalam kisah tadi, yang pada akhirnya dikembalikan pada penyakitnya semula serta kemiskinanannya.

Marilah kita berdoa semoga Allah memberi kit
a kita sifat Ikhsan sehingga apa saja yang diberikan kepada kita mendapat ridlo Allah dalam kehidupan dunia dan akherat, amin ya robbal alamin.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سميع قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ و أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

[+/-] Selengkapnya...

13 April 2011

Malaikat yang Menyamar


Malaikat yang Menyamar
Oleh : Mochammad Muallim

Sore itu gerimis turun dengan anggun diiringi oleh sorak sorai kemeriahan suara petir, langit makin gelap dan siang pun harus rela gantian untuk memberikan kesempatan malam mencari orang-orang yang percaya adanya malaikat. Suara adzan mulai berkumandang menandakan waktu maghrib menjelang, dengan speaker yang ada di puncak bangunan masjid dengan seni model masjid demak, adzan terus mengajak orang sekitar melaksanakan sholat berjamaah meskipun gerimis, dan sudah menjadi tabiat manusia memanfaatkan moment gerimis untuk alasan.

Adzan telah selesai, dan jamaah pun keliatannya masih terjerat sarung hangatnya, seperti biasa sang muadzin membaca "pujian" alias do'a atau sholawat atau apa saja yang bernilai ajakan kebaikan, tiba-tiba DUARRR petir menyambar.

Lalu apa yang terjadi, petir merambat melalui kabel speaker, menuju amplifier, juga aliran listrik yang lain, beberapa kipas angin langsung meledak, dan kabel penghubungnya terbakar dengan cepat, lalu bagaimana kondisi si muadzin yang masih "pujian" dan pegang mix? Apa ga kena petir?

Masyarakat sekitar, kaget dan khawatir begitu tahu petir menyambar di dekat lokasi, akhirnya masyarakat menjadi semangat berangkat untuk memastikan keselamatan muadzin tersebut, dan didapatinya muadzin baik-baik saja dan bahkan dia tidak mendengar petir yang menyambar begitu kerasnya, apa sebab?

Ketika petir menyambar, si muadzin melihat ada dua orang datang dan menutup telingannya, kemudian merasa mix yang dipegangnya panas akhirnya dia lemparkan, seperti setengah sadar tapi setelah kejadian orang itu tidak ada, dan tidak dikenal, dan memang suasana gerimis, dan yang tahu hanya muadzin itu, karena memang yang baru ada di Masjid baru dia sendiri.

Apakah itu malaikat? Itu bisa kita teliti dari kisah berikut

3. Aisyah r.a. berkata, Wahyu yang pertama kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh. Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi di Gua Hira. Beliau beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah. Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya (dalam riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya) kebenaran. Ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat (dalam nomor 8/67) seraya berkata, 'Bacalah!' Beliau berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa membaca' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam. 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu Rasulullah saw. pulang dengan membawa ayat itu dengan perasaan hati yang goncang (dalam satu riwayat: dengan tubuh gemetar). Lalu, beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid, lantas beliau bersabda, 'Selimutilah saya, selimutilah saya!' Maka, mereka menyelimuti beliau sehingga keterkejutan beliau hilang. Beliau bersabda dan menceritakan kisah itu kepada Khadijah, 'Sungguh saya takut atas diriku.' Lalu Khadijah berkata kepada beliau, 'Jangan takut (bergembiralah, maka) demi Allah, Allah tidak akan menyusahkan engkau selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya engkau suka menyambung persaudaraan (dan berkata benar), menanggung beban dan berusaha membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong penegak kebenaran.' Kemudian Khadijah membawa beliau pergi kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza (bin Qushai, dan dia adalah) anak paman Khadijah. Ia (Waraqah) adalah seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliah. Ia dapat menulis tulisan Ibrani, dan ia menulis Injil dengan bahasa Ibrani (dalam satu riwayat: kitab berbahasa Arab. dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab) akan apa yang dikehendaki Allah untuk ditulisnya. Ia seorang yang sudah sangat tua dan tunanetra. Khadijah berkata, Wahai putra pamanku, dengarkanlah putra saudaramu!' Lalu Waraqah berkata kepada beliau, Wahai putra saudaraku, apakah yang engkau lihat?' Lantas Rasulullah saw: menceritakan kepadanya tentang apa yang beliau lihat. Lalu Waraqah berkata kepada beliau, 'Ini adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Musa! Wahai sekiranya saya masih muda, sekiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu....' Lalu Rasulullah saw. bertanya, 'Apakah mereka akan mengusir saya?' Waraqah menjawab, 'Ya, belum pernah datang seorang laki-laki yang (membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali ia ditolak (dalam satu riwayat: disakiti / diganggu). Jika saya masih menjumpai masamu, maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang tangguh.' Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dan wahyu pun bersela, [sehingga Nabi saw. bersedih hati karenanya - menurut riwayat yang sampai kepada kami[1] - dengan kesedihan yang amat dalam yang karenanya berkali-kali beliau pergi ke puncak-puncak gunung untuk menjatuhkan diri dari sana. Maka, setiap kali beliau sudah sampai di puncak dan hendak menjatuhkan dirinya, Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah yang sebenarnya.' Dengan demikian, tenanglah hatinya dan mantaplah jiwanya. Kemudian beliau kembali pulang. Apabila dalam masa yang lama tidak turun wahyu, maka beliau pergi ke gunung seperti itu lagi. Kemudian setelah sampai di puncak, maka Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata seperti yang dikatakannya pada peristiwa yang lalu - 6/68]." [Namus (yang di sini diterjemahkan dengan Malaikat Jibril) ialah yang mengetahui rahasia sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain 124/4]. HR. Bukhari no.3

Pembaca yang berbahagia, berhati-hatilah bersikap pada orang lain, sebab jika itu malaikat yang menyamar bisa kurang baik untuk kebaikan anda.

Allim
Jakarta, Rabu 13 April 2011
Jangan sok nyamar malaikat maut lah



[+/-] Selengkapnya...

21 Maret 2011

Hati-hatilah dengan Tiga Kata

Hati-hatilah dengan Tiga Kata

Oleh : Mochammad Moealliem

Menarik, menggelitik, dan perlu dikritik.
Kafir, Munafik, Musyrik, kata-kata berbahaya ini perlu kita jaga dari bibir kita yang mungil ini, dan tak perlu mengcapnya dengan leher berotot he he he

Berbeda pendapat itu biasa dalam diskusi, namun ingat jangan mudah menuduh orang yang berbeda pendapat dengan kita dengan tuduhan seperti saya tulis diatas, hal itu sangat berbahaya dan bila tuduhan itu salah maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh, bukankah anda tahu hadith nabi

"Barangsiapa berkata kepada saudaranya, 'Hai kafir, maka sesungguhnya kalimat ini akan kembali kepada salah seorang di antara mereka."

( Muttafaq 'Alaih dari Ibn Umar,al-Lu'lu' wa al-Marjan, hal 39 )

Maksud hadith ini kalau kalimat kafir akan mengenai salah satu dari penuduh dan yang dituduh, jika yang dituduh tidak kafir maka penuduhlah yang menjadi tempat kembalinya kalimat itu.

Satu hal yang sangat penting di sini ialah kemampuan untuk membedakan tingkat kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan. Setiap bentuk kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan ini ada tingkat-tingkatnya.

Akan tetapi, nash-nash agama menyebutkan kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan hanya dalam satu istilah, yakni kemaksiatan; apalagi untuk dosa-dosa besar. Kita mesti mengetahui penggunaan istilah-istilah ini sehingga kita tidak mencampur adukkan antara berbagai istilah tersebut, sehinggakita menuduh sebagian orang telah melakukan kemaksiatan berupa kekufuran yang paling besar (yakni ke luar dari agama ini) padahal mereka sebenarnya masih Muslim.

Dengan menguasai penggunaan istilah itu, kita tidak menganggap suatu kelompok orang sebagai musuh kita, lalu kita menyatakan perang terhadap mereka, padahal mereka termasuk kelompok kita, dan kita juga termasuk dalam kelompok mereka; walaupun mereka termasuk orang yang melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk menangani masalah ini sebaiknya kita mengaca pada peribahasa Arab: "Hidungmu adalah bagianmu, walaupun hidung itu pesek."

Dalam buku Fiqh Prioritas karya DR.Yusuf Qordlawi edisi bahasa Indonesia, bisa anda baca sendiri disana dijelaskan berbagai devinisi dari ketiga kalimat diatas dengan disertai pembagian antara besar dan kecil dari ketiganya

Orang kafir itu tidak sholat, namun orang yang tidak sholat itu belum tentu kafir. Anda tentu memahami hal ini secara mantiq (logika), Indonesia adalah bagian besar penduduk muslim dunia, namun apakah muslim Indonesia melaksanakan sholat semuanya? Tentunya jawaban itu "tidak", nah apakah orang yang tidak sholat itu kafir, tentunya tidak, tapi yang jelas hal itu dosa besar seperti yang ditulis DR.Yusuf Qardlawi dalam buku yang sama:

" Para ulama berselisih pendapat dalam memberikan batasan terhadap dosa besar ini. Barangkali yang paling dekat ialah kemaksiatan yang pelakunya dapat dikenakan had di dunia, dan diancam dengan ancaman yang berat di akhirat kelak, seperti masuk neraka, tidak boleh memasuki surga, atau mendapatkan kemurkaan dan laknat Allah SWT. Itulah hal-hal yang menunjukkan besarnya dosa itu.

Ada pula nash-nash agama yang menyebutkan batasannya secara pasti dan mengatakannya ada tujuh 22 macam dosa besar setelah kemusyrikan; yaitu: Membunuh orang yang diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar; sihir; memakan riba; memakan harta anak yatim; menuduh perempuan mukmin melakukan zina; melakukan desersi dalam peperangan. Sedangkan hadits-hadits shahih lainnya menyebutkan: Menyakiti kedua hati orang tua, memutuskan tali silaturahim, menyatakan kesaksian yang palsu, bersumpah bohong, meminum khamar, berzina, melakukan homoseksual, bunuh diri, merampok, mempergunakan barang orang lain secara tidak benar, mengeksploitasi orang lain, menyogok, dan meramal.

Termasuk dalam kategori dosa besar ini ialah meninggalkan perkara-perkara fardu yang mendasar, seperti: meninggalkan shalat, tidak membayar zakat, berbuka tanpa alasan di bulan Ramadhan, dan tidak mau melaksanakan ibadah haji bagi orang yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tanah suci. "

Namun kita juga perlu teliti dengan hal-hal semacam ini, jangan-jangan hal itu memang sengaja dilakukan untuk tujuan tertentu, sebab terkadang para anti islam sengaja menopang serta sengaja memasukkan bias-bias orientalis yang sangat sulit kita sadari, sebab cara yang paling cocok untuk menghancurkan islam adalah lewat orang islam sendiri, mereka tak akan mampu secara langsung menorobos kedalam islam tanpa melalui orang-orang yang lemah imannya, dan hal ini berkaitan erat dengan istilah kemunafikan.sesuai dengan hadits:

"Ada empat hal yang apabila kamu berada di dalamnya, maka kamu dianggap sebagai orang munafiq murni. Dan barangsiapa yang mempunyai salah satu sifat tersebut, maka dia dianggap sebagai orang munafiq hingga ia meninggalkan sifat tersebut. Yaitu apabila dia dipercaya dia berkhianat, apabila berbicara dia berbohong, dan apabila membuat janji dia mengingkari, apabila bertengkar dia melakukan kecurangan." [ Muttafaq 'Alaih, dari Abdullah bin Umar; al-Lu'lu' wal-Marjan (37).]

Hadits yang lain menyebutkan, "Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga: Apabila bicara, dia berbohong; apabila berjanji dia mengingkarinya; dan apabila dipercaya, dia berkhianat." [ Muttafaq 'Alaih, dari Abu Hurairah r.a., ibid., (38).]

Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Walaupun dia berpuasa, shalat, dan mengaku bahwa dia Muslim." [ Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab al-Iman, 109, 110.]

Untuk itu mari kita berdiskusi dengan pikiran yang obyektif, dan dengan kesadaran tinggi bahwa kita manusia yang biasa, dan kesalahan tak mungkin kita hindari sebab sifat maksum hanya bagi nabi, namun orang salah dalam diskusi lebih baik dari pada orang benar tapi diam saja, terlebih nggak tahu hal itu benar atau salah. Seperti ijtihad kita ketika bingung mencari qiblat, dalam setiap rokaat kearah yang berbeda hal itu tidak membatalkan sholat kala memang nggak ada yang mampu memberi tahu yang benar. Seperti ijtihadnya saudara Roy maka bagi yang tahu arah wajib hukumnya mengingatkan. Sebab Islam memakai aturan Fiqh dalam beribadah berbeda sekali dengan Kristen. Dan mengingatkan itu tak perlu memaksa apalagi menangkap.

Kebenaran mutlak hanya milik Allah semata, apa yang kita anggap benar didunia ini hanyalah mendekati kebenaran yang mutlak, dan kebenaran tidak hanya melalui satu jalan, seperti istilah yang trend " banyak jalan menuju Roma", kalau kita kiaskan menjadi "banyak jalan menuju kebenaran". Ikutilah rambu-rambu agar mencapai tujuan dengan cepat dan tepat, bila tersesat ada pepatah lagi "malu bertanya sesat dijalan", kepada siapa bertanya? Qur'an menjawab "Fas alu ahlad dzikri inkuntum la ta'lamun" bertanyalah pada ahli dzikir jika kalian tidak tahu.

Jumhur fuqoha tidak memperbolehkan membaca fatihah dalam sholat selain dengan bahasa aslinya (arab) bisa dilihat pada "al fiqh al islamy wa adialatuh " wahbah zuchaily hal 839. Ditambah lagi tidak diperbolehkan mengganti ayat-ayat fatihah dengan ayat lain, baik bisa membaca arab dengan baik atau pun kurang baik bacaanya, harus dengan bahasa arab, dengan dalil "qur'anan arobian" QS.12:2, juga "bilisanin arobiyin mubin "QS.26:195

Hanya sebagian pengikut madzhab hanafi memperbolehkan dengan bahasa selain arab karena ketidakmampuan seseorang untuk membaca dengan bahasa arab, namun tidak saya temukan diperbolehkanya membaca fatihah dengan dua bahasa atau diiringi terjemahanya dalam sholat, dan kalau masih ngotot pakai dua bahasa itu tanggung jawab pemakai dan para pendukungnya. Ingatlah tidak semua orang boleh membuat rambu-rambu dijalan.

Allim
Jakarta, Senin 21 Maret 2011
Ya Allah, berilah kami Ridlo-Mu

Catatan : Tulisan ini adalah sikap atas kejadian Roy yang membaca fatihah dalam sholat dengan terjemahan bahasa Indonesia, dan pernah saya post pada Jum'at, 03 june 2005, namun untuk melengkapi maka kami post kembali dengan beberapa perubahan.

[+/-] Selengkapnya...

09 Maret 2011

Nabi Mendapat Wahyu, Kita Mendapat Ilham

Oleh : Mochammad Muallim

Bagi yang pernah belajar agama disekolahnya, minimal tahu nama 10 malaikat beserta tugas-tugasnya, kalau sampai tidak tahu perlu diperiksa keimanannya, saya yakin pembaca tulisan ini hafal betul siapa mereka. Malaikat bukanlah robot yang membutuhkan energi untuk bergerak, Malaikat tidak mengalami masa kanak-kanak, Malaikat itu tidak laki-laki tapi juga tidak perempuan, waria juga tidak. Malaikat tidak suka minum kopi seperti penulis, juga tidak makan seperti pembaca.

lebih lengkap tentang malaikat klik disini
(http://madinmu.blogspot.com/2011/03/mengenal-malaikat.html)

Sekedar mengingatkan orang yang lupa, 10 malaikat yang harus kita ketahui:

1. Jibril = menyampaikan wahyu dari Allah SWT.
2. Mikail = memberikan dan menyampaikan rejeki / rizki.
3. Isrofil = meniup sangkakala penanda hari kiamat telah tiba.
4. Izroil = mencabut nyawa.
5. Rokib = memcatat segala perbuatan amal baik atau kebajikan seseorang.
6. Atid = mencatat segala perbuatan buruk, bejat dan dosa seseorang.
7 Munkar = menanyakan seseorang di alam kubur mengenai segala perbuatannya semasa hidup di dunia.
8. Nakir memiliki = menanyakan seseorang di alam kubur mengenai segala perbuatannya semasa hidup di dunia.
9. Ridwan = menjaga pintu surga
10. Malik = menjaga pintu neraka

Setelah membaca itu, beberapa orang mulai muncul pertanyaan iseng.

"Ustadz....Nabi Muhammad kan nabi terakhir, lalu apa yang dilakukan malaikat Jibril saat ini?"

"Ya tetap nyampaikan sesuatu yang harus disampaikan, sesuai perintah."

Memang terkadang kita terpaku dengan penjelasan singkat tanpa pernah kita menelusuri Alqur'an secara mandiri, dalam Alqur'an banyak kisah tentang orang yang bukan nabi mendapat petunjuk, arahan atau bahkan ilham, ada Maryam, ada ibunya Musa dan lainnya, tentu mereka bukan nabi, namun mereka juga berhak menerima pesan dari Dzat yang murbing dumadi.

Lalu apakah sekarang juga masih mungkin itu terjadi pada kita?

Tentu saja mungkin, karena semua orang berhak menerima sms maupun panggilan asalkan hatinya hidup dan sinyalnya bagus.

Salah satu cara membaca sms itu adalah mimpi yang benar, mimpinya orang yang benar, karena ru'ya sholiha (mimpi yang benar) termasuk tanda kenabian.

Nabi menerima wahyu kadang lewat mimpi, kadang dalam keadaan terjaga, kadang suara, kadang berbentuk manusia yang membawa berita.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Aisyah Ibu Kaum Mu'minin, bahwa

Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya. Aisyah berkata: Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat.HR. Bukhari 2

Lalu bagaimana dengan umatnya?

Orang-orang sholeh di zaman kita biasanya mendapat kabar lewat mimpinya, atau lewat malaikat yang menyamar sebagai manusia, dan cara-cara lain sesuai kapasitasnya masing-masing, kita pun berkesempatan untuk bisa komunikasi langsung, asalkan hati kita menyala dan ada pulsanya, hubungilah Allah jika kita ingin jawaban, kalau mau sinyal bagus di sepertiga malam yang terakhir.

Coba anda baca hadith diatas, nabi kadang menerima wahyu di musim dingin tapi bisa berkeringat, apa analisa anda?

Allim
Jakarta, Rabu 09 Maret 2011
Berfikir pun bisa membakar otak disaat musim dingin


[+/-] Selengkapnya...

07 Maret 2011

Revolusi itu Tergantung Niatnya

Oleh : Mochammad Muallim

Sebagian sumber menjelaskan bahwa revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama.

Arti revolusi sebenarnya adalah perputaran ulang. Namun pengertian atau persepsi masyarakat secara umum, revolusi adalah penggulingan suatu rezim penguasa oleh rakyatnya sendiri yang biasanya dilakukan dengan cara kekerasan dan dengan pertumpahan darah.

Perputaran ulang dalam istilah komputer mungkin bisa diartikan format ulang hardisk, atau reset dalam fitur handphone, yang fungsinya adalah menghapus semua sistem yang tidak lagi diperlukan yang menghambat kecepatan kerja program.

Dalam istilah kehidupan revolusi bisa dimaknai dengan membuka lembaran baru, dengan revolusi akhlaq secara total, atau mungkin taubatan nasuha (taubat total) lalu menggantinya dengan sistem yang baru, aplikasi yang baru yang menjanjikan sebuah keuntungan.

Lalu bagaimana orang bisa merevolusi akhlaqnya jika lingkungan sekitarnya tercemar?

Konsep sederhana namun jelas buktinya adalah hijrah, ya hijrah atau pindah ke lingkungan yang kondusif, karena ketika tidak pindah, kemungkinan akan kembali terseret masuk pada lingkaran setan itu.

Untuk merevolusi kota Mekah, nabi Muhammad diutus untuk mengungsi ke Madinah (lingkungan yang kondusif), setelah semua siap maka kembalilah pada tujuan semula, namun ada juga sebagian orang yang ikut revolusi itu bertujuan lain, yaitu untuk merebut harta, tahta dan wanita.

Dan hal itu dalam era kekinian bisa kita liat terjadinya revolusi beberapa negara, ada yang memang tujuannya memperbaiki negara dari sistem yang amburadul, namun ada juga yang misinya menjarah harta, kekayaan, sumber daya alam, dan kontrak-kontrak yang menguntungkan.

Lalu bagaimana konsep revolusi niat yang baik?

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِىُّ قَالَ أَخْبَرَنِى مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رضى الله عنه - عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ »

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan tergantung niat, dan setiap perbuatan seseorang tergantung niatnya, barang siapa yang hijrahnya karena dunia maka dia akan mendapatkannya, atau karena perempuan, maka akan menikah dengannya, maka hijrahnya kepada yang diniatkannya.HR. Bukhari 1

Orang beribadah entah sholat, baca dzikir, baca sholawat, hijrah, dan apapun itu, semua itu tergantung niatnya, kalau tujuannya harta dapatlah harta, kalau tujuannya pasangan dapatlah pasangan, kalau tujuannya Allah, maka dapat semuanya.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.QS.11:15

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. QS.42:20

Mungkin kita perlu merenungkan sejenak ayat ini, lalu memutuskan pilihan kita, adakah kita berniat untuk hal yang kecil, ataukah kita memurnikan niat untuk Allah semata, toh Allah tetap akan memberi bagian kita di dunia, maka patut kiranya kita beribadah meniru nabi kita, ibadah untuk bersyukur, bukan untuk minta harta semata.

Ini bukan hal boleh dan tidak, namun ini pilihan dan setiap orang bebas menentukan niatnya, "likullimriin ma nawa" sekaligus menikmati enak dan tidaknya.

Allim
Jakarta, Senin 07 Maret 2011
Ya Allah jadikan aku lebih untuk-Mu

[+/-] Selengkapnya...

10 Artikel Populer