09 November 2007

Mengenal Metodologi Penafsiran

Mengenal Metodologi Penafsiran[1]
Upaya menyibak kehendak Tuhan
Oleh : Mochammad Moealliem[2]

Mungkin kita masih sering mendengar atau membaca tafsiran seseorang atas ayat Al qur'an, namun ternyata hal demikian dianggap sebuah penyelewengan atas Kalam Allah, dan menimbulkan kerancuan dalam pemahaman dan memungkinkan terjadinya kerusakan akidah kaum awam. Fenomena semacam itu akan sering kita temui dalam hal pemahaman atas ayat yang masih mubham, atau ayat-ayat yang tidak diiringi penjelasan dengan ayat yang lain.

Sebagaimana penafsiran Mirza Gulam Ahmad[3], pada ayat

"Dan ketika 'Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad ." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."[4]

Menurut tafsiran Mirza Gulam, kata Ahmad dalam ayat itu adalah dirinya, karena namanya Mirza Gulam Ahmad[5] padahal tafsir yang benar atas nama Ahmad itu adalah nama nabi kita Muhammad yang punya banyak nama, seperti Mutofa, Ahmad, Toha, dan masih banyak lagi nama-nama mulia bagi nabi kita. Dari sinilah penulis punya pandangan bahwa tidak semua orang boleh menafsiri Al qur'an, sebelum mengatahui metodologi penafsiran yang benar menurut mayoritas ulama, dan hal itu sejalan dengan hadith nabi yang berbunyi, "Man fassara al qur'ana bi ro'yihi fal yatabawwa' maq'adahu min al nar" Barang siapa menafsiri Al qur'an dengan semaunya sendiri maka silahkan mendekam dineraka.

Pepatah arab berkata, "Nadrotun fabtisamatun fassalamu, fakalamun famauidlun faliqo u" Pandangan, lalu senyuman, lalu salam perkenalan, lalu pembicaraan, lalu perjanjian, dan akhirnya pertemuan. Tafsir adalah sebuah usaha untuk memahami kehendak Tuhan, bagaimanakah kita bisa sampai pertemuan denganNYA jika diajak bicara aja tidak nyambung, maka perlu kiranya kita memahami KalamNYA.

Pandangan Pertama Terhadap Metodologi Penafsiran

Metodologi penafsiran (manahij el mufassirin) adalah sebuah ilmu yang membahas tentang cara mengungkap lafald-lafald Al qur'an serta hal-hal yang terdapat didalamnya, tentang kandungan hukum yang ada, bentuk susunan, serta makna-makna yang timbul atas penyusunan beberapa lafadl, serta sebab turunnya (asbâbun nuzul) ataupun kisah-kisah yang menjelaskan hal-hal yang masih buram. Atau bisa dikatakan sebagai ilmu tentang turunnya ayat, baik dari sebab turunnya, kisah-kisahnya, keadaan setempat, makiyyah-madaniyahnya, muhkam-mutasyabihnya, nasikh-mansukhnya, umum-khususnya, mutlak-muqoyyadnya, terperinci-globalnya, halal-haramnya, janji-ancamannya, perintah-larangannya, serta perumpamaan-perumpamaan.[6]

Senyum Manis Sejarah Penafsiran

Sejarah penafsiran masa kenabian, atau pada saat turunnya Al qur'an, meskipun secara jelas Al qur'an turun dengan bahasa arab, namun demikian, tidak menjadikan semua orang arab faham akan maksud yang diinginkan Allah, dan terkadang Al qur'an menciptakan kosakata baru dalam bahasa arab itu sendiri. Terkadang juga lafaldnya sama, namun punya makna yang berbeda, dan hal ini akan menjadi salah kaprah jika hanya memakai pengetahuan bahasa arab saja, maka dari itu penafsiran ayat Al qur'an tidak cukup hanya memahami bahasa arab semata, namun memerlukan banyak metode keilmuan yang lain.

"wa anzalnâ ilaika adz dzikro litubayyina linnâsi mâ nuzzila ilaihim wa la'allahum yatafakkarûn"[7] Lafadl yang bergaris bawah diatas itu memiliki banyak makna, dan apakah makna yang dikehendaki oleh Allah pada lafadl tersebut? Jika kita membuka kamus al Asri[8], lafadl dzikro mempunyai makna peringatan, kenangan dan ingatan[9], namun meskipun ketika kita membuka kamus bahasa arab tetap saja hal itu tidak tepat, ketika kita tidak tahu hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain yang menjelaskan ayat tersebut. Penjelasan makna lafadl "adz dzikro" terdapat dalam surat Al Qolam(68) ayat 51 dan 52, bahwa makna "adz dzikro" adalah kitab Al qur'an bukan salah satu dari makna yang ada dalam kamus tersebut.

Istilah-istilah baru dalam Al qur'an sangat banyak sekali yang berbeda dengan makna-makna yang biasa dipakai orang arab waktu itu, dan juga terdapat kosakata yang asing, namun selagi rosul masih hidup, para sahabat nabi akan mendapatkan penjelasan langsung dari nabi Muhammad. Dan seperti inilah peran "assunnah" terhadap Al qur'an:

1. Adakalanya sunah itu sesuai dengan Al qur'an, dan menjadi penguat atau memastikan makna yang terkandung, seperti halnya penjelasan tentang perintah sholat, zakat, dan keharaman riba.
2. Adakalanya sunnah berperan sebagai penjelas atau tafsir atas ayat-ayat yang mujmal sebagaimana penjelasan tatacara melakukan sholat, serta jumlah rokaatnya dan waktu pelaksanannya.
3. Adakalanya sunnah berperan menambahkan hukum yang tidak tercakup dalam Al qur'an, seperti halnya keharaman keledai ahliyah[10].

Itu dari satu segi, dari segi yang lain adalah:

1. takhshishul 'am (Mengkhususkan yang umum) contohnya lafadl "adhulm"[11] menjadi bermakna khusus Syirik[12]
2. Taqyid al mutlaq fihi (Memberi batasan terhadap lafadl yang mutlak)[13]
3. Menjelaskan yang janggal[14]
4. Penjelasan maksud ayat atau hubungannya, seperti maksud "al maghdlubi" adalah yahudi, dan "adl dlollin" adalah nasrani, dalam surat al fatihah.
5. pembatasan, seperti yang dimaksud hamba yang sholeh yang menjadi kawan musa adalah nabi khidlr.

Penafsiran pada masa sahabat, terdorong oleh banyaknya orang-orang yang masuk islam, baik arab maupun non-arab, dan hal itu mendorong sahabat untuk memberikan penjelasan atas makna-makna yang belum jelas, atau menjawab persoalan yang ditanyakan oleh mereka. Metode yang dipakai oleh para sahabat meliputi :

1. Penjelasan yang ada dalam Al qur'an sendiri, yang dijelaskan di ayat yang lain.
2. Apa saja yang pernah dijelaskan oleh nabi Muhammad kepada para sahabat, maka ketika terdapat permasalahan dari kaum yang baru masuk islam, para shabat menjelaskannya seperti penjelasan nabi kepada dirinya.
3. Hasil dari olah pikir para sahabat dengan kemampuan pengetahuan yang dimilikinya.
4. Jawaban-jawaban yang dikeluarkan oleh nabi Muhammad, atas pertanyaan para sahabat dari hal-hal yang ruwet.
5. Pengertian para sahabat dengan hal-hal seputar nash (ma haula an nash) seperti sebab-sebab turunnya, nasakh-mansukhnya dan lain sebagaianya.
6. Penjelasan dari orang-orang ahli kitab juga dipakai para sahabat, untuk menafsiri ayat-ayat yang masih belum ada penjelasannya.

Para mufassir zaman sahabat antara lain, al hulafa al arba'ah[15] , Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubay bib Ka'b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al Asy'ary, dan Abdullah bin zubair.

Salam Kenal Dengan Bentuk-bentuk Tafsir

A. Pembagian tafsir dari segi sumber-sumber yang dipakai menjadi :
1. Tafsir bil ma'tsur adalah penafsiran ayat-ayat Al qur'an berdasarkan empat sumber besar.
a. Al qur'an, yaitu penafsiran antar ayat Al qur'an sendiri seperti contoh yang penulis sampaikan di depan, tafsir semacam ini disebut juga tafsir qur'an bil qur'an.
b. As sunnah, yaitu penafsiran ayat-ayat Al qur'an dengan assunah an nabawiyyah.
c. Aqwal as shohabah, pendapat para sahabat nabi.
d. Aqwal at tabi'in, pendapatnya para tabi'in.

Diantara pengarang tafsir bil ma'tsur adalah :

a) Abu Ja'far muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir al amaly at Thobari[16], dengan tafsirnya yang terkenal dengan, Jâmiul bayân fi tafsîril qur'an[17].
b) Imaduddin Abu al fida' Ismail bin Katsir[18], dengan tafsirnya Tafsir al qur'an al adlim[19]



2. Tafsir bir ro'yi, adalah penafsiran Al qur'an dengan kemampuan olah pikir, setelah mufassir mengatahui pembicaraan arab, dan ilmu-ilmu yang mendukung untuk memberikan tafsiran atas ayat tersebut. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang boleh-tidaknya melakukan penafsiran dengan kemampuan olah pikir, terbagi dalam dua golongan dalam ulama, golongan yang melarang dan golongan yang mengizinkan, dengan dasar masing-masing dari nash juga dari hadith nabi, penulis sendiri cenderung mengikuti para ulama yang membolehkan, namun hal ini terbagi menjadi dua bagian, ro'yi yang mahmud (terpuji) dan ro'yi yang madzmum (tercela) dan yang akan kita bahas adalah yang membolehkan dengan ro'yi yang mahmud. Syarat-syarat bisa meraih ro'yi yang mahmud, mufassir harus mengusai :

1. Bahasa Arab, secara utuh, tidak hanya sebagian kecil saja, sebab banyak kata yang sama dengan makna yang berbeda.
2. Ilmu Nahwu, sebab perubahan makna dapat dilihat dengan perubahan i'rob.
3. Ilmu shorof, perubahan shigot serta mabni dan mu'robnya, seperti lafadl "imamihim"[20]jika tidak mengerti shorof akan memberi makna dengan "ibu-ibu mereka".
4. Al Isytiqoq, tentang pengambilan kata.
5. Ilmu Ma'ani
6. Ilmu Bayan
7. Ilmu Badi'
8. Ilmu Qiroat
9. Ilmu Ushulluddin
10. Ilmu Ushul Fiqh
11. Asbabun Nuzul dan sejarah
12. Nasikh dan Mansukh
13. Fiqh
14. Hadith-hadith penjelasan tentang ayat yang mujmal dan mubham
15. Ilmu pemberian, yaitu ilmu yang diberikan pada seseorang yang mengamalkan ilmunya.

Diluar syarat lima belas itu, para mufassir harus punya niatan yang tulus, menjaga garis-garis besar agama, tujuan yang baik, dan tidak menafsiri demi melegalkan kemauan nafsunya, atau dilarang mencuri hak tuhan dengan mengatakan "maksudnya begini", tanpa dasar yang kuat.

Tokoh-tokoh penafsir bi al ro'yi antara lain :

a. Fahrur Razi[21] ( Mafatihul Ghoib).
b. Nashiruddin Abdullah bin Umar bin Muhammad al Baidlowi[22] ( Anwarut tanzil wa asrorut ta'wil)

B. Pembagian Tafsir Secara Tematik

1. Tafsir Tahlily, adalah penjelasan terhadap suatu ayat secara mendetail baik dalam kaitanya masalah bahasa, hukum syariat, atau tentang akidah sesuai kemampuan mufassir dalam memberikan penjelasan, dengan ketentuan memenuhi lima belas syarat yang ada. Pembagian ini berbeda dengan pembagian tafsr sebelumnya, contoh tafsir tahlily adalah tafsirnya At Thabari "jamiul bayan", tafsir Baghowi "Ma'alimu tanzil", tafsirnya Fahrur Rozi " Mafatihul Ghoib", dan tafsirnya Abu Hayyan "Bahrul Muhid".

2. Tafsir Ijmaly, adalah penjelasan terhadap suatu ayat secara global dengan enghindari beberapa hal yang bersifat dzon (prsangka) contih dalam hal ini adalah tafsirnya sayyid Qutb, Tafsir fi Dlilalil Qur'an, juga tafsirnya jalaluddin Al mahally[23] dan jalaluddin as suyuti[24] "Tafsir jalalain".

Pembicaraan Seputar Istilah-istilah dalam Penafsiran


A. Makiyah-Madaniyah, Ada tiga definisi[25]:

1. Ayat makiyah adalah ayat yang turun sebelum hijrah, sedangkan madaniyyah adalah ayat yang turun setelah hijrah, baik turun di Makkah atau di Madinah, ataupun dalam perjalanan.[26]
2. Ayat makkiyah adalah ayat yang turun di Makah, dan ayat madaniyyah turun di Madinah, ayat yang turun dalam perjalanan tidak termasuk makkiyyah juga tidak termasuk madaniyyah.
3. Ayat makkiyah adalah ayat yang meng-khitobi masyarakat Makah sedangkan madaniyyah adalah ayat yang meng-khitobi masyarakat madinah.

Definisi yang paling masyhur dan diakui banyak ulama adalah definisi nomor satu. Yang dapat mencakup ruang yang lebih luas. Fungsi penting dalam pengetahuan makiyah-madaniyah adalah sebagai landasan untuk mengetahui nasikh dan mansukh, misalkan ada dua ayat atau lebih yang membicarakan suatu hokum sedangkan diketahui antara ayat yang satu bertentangan dengan yang lain, dan ayat-ayat tersebut berbeda antara makiyah madaniyahnya, maka bisa diambil kesimpulan bahwa ayat madaniyah adalah ayat yang nasikh (menghapus) terhadap ayat makiyah sebab ayat makiyah datang lebih dulu.

B. Muhkam-Mutasyabih, Allah berfirman : "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain mu-tasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal."[27]

Jelas dalam ayat itu bahwa Al qur'an memuat ayat muhkam juga memuat ayat-ayat mutasyabih, dan sangat banyak pendapat para ulama tentang definisi muhkan dan mutasyabih, diantaranya :

1. Muhkam adalah ayat yang diketahui maksudnya baik secara jelas (tersurat) atau tersirat. Adapun mutasyabih adalah semacam isyarat dari Allah tentang sesuatu, seperti terjadinya kiamat, keluarnya dajjal, dan huruf hijaiyah diawal surat dalam al qur'an.
2. Muhkam adalah ayat yang jelas maknanya, mutasyabh sebaliknya.
3. Muhkam adlah ayat yang tak bisa ditakwilkan dalam banyak bentuk, sedangkan mutasyabih sebaliknya.
4. Muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya masuk akal (logis) sedangkan mutasyabih sebaliknya, seperti jumlah rokaat dalam sholat, kenapa puasa dibulan Ramadan bukan sya'ban.


Masih banyak sebenarnya pendapat para ulama tentang definisi tentang muhkam dan mutasyabih, namun yang lebih penting adakah ayat-ayat yang mutasyabih tidak bisa diungkap maknanya?sebagaimana firman Allah pada surat Ali Imron ayat 7, "…wa mâ ya'lamu ta'wilahu illallâh wa rosyikhun fil ilmi yaquluna âmannâ" ….padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat,…

Permasalahannya apakah huruf wawu pada ayat tersebut (wa rosyikhun) adalah merupakan wawu athaf ataukah menjadi mubtada', sebab perbedaan fungs wawu didalam ayat itu berpengaruh pada makna yang ada. Ada dua pendapat[28] dalam hal ini :

Pertama : Berpendapat bahwa huruf wawu itu adalah wawu athaf sehingga memberikan pemahaman bahwa yang mengetahui takwil dari ayat-ayat mutasyabihat hanyalah Allah dan orang-orang yang berilmu tinggi.

Kedua : Jumhur ulama terutama ahli sunnah berpendapat bahwa wawu itu bukan wawu athaf akan tetapi wawu isti'naf (wawu permulaan) seperti terjemahan yang anda baca, bahwa tidak ada yang tahum maksud ayat mutasybihat kecuali Allah, dan orang-orang yang berilmu berkata kami beriman. Karena jika dilihat sampai akhir ayat 7 surat Ali Imron, akan kita dapatkan bahwa, " Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya".

Mutasyabihat secara global terbagi menjadi 3 macam yaitu mutasyabih dalam lafadl, mutasyabih dalam makna, dan mutasyabih dalam lafadl dan makna.[29]

C. 'Am dan Khos (Umum dan Khusus)

Ayat yang 'Am adalah ayat yang mencakup keumuman tanpa ada penyempitan, shigotnya adalah memakai lafadl

1. kullu ( semua ) Kullu man alaihâ fân.[30]
2. Alladzi dan Allati serta tasniyah dan jamaknya lafadl tersebut, Walladzani ya'tiyaniha fa adzuhuma[31] "Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya,…"
3. Ayy, ma dan man, baik syarat, istifham atau mausul, Man ya'mal suan yujza bihi[32]"… Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu…"
4. Jamak yang di idolofahkan, yushikumullahu fi auladikum[33] "Allah mensyari'atkan bagimu tentang anak-anakmu…".
5. Makrifa dengan Al, qod aflahal mukminun[34]
6. Nakiroh dalam jajaran naïf dan nahi, fala taqul lahuma uffin[35] "…maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"…"
7. Jajaran syarat, wa in ahadun minal musyrikinasjaroka fa ajirhu hatta yasma'a kalamallah[36] "Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,…"
8. Jajaran imtinan (ucapan selamat), Wa anzalnya minas samai maan thohuro[37] "…dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih"
9. Isim jenis yang di idlofahkan, Falyahdaril ladzina yukholifuna an amrihi[38] "…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut…."

Perjanjian dalam Penafsiran Ayat Al qur'an

‏إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya"[39]

Dalam tafsir jalalain :

{‏ إنا نحن ‏}‏ تأكيد لاسم إن أو فصل ‏{‏ نزلنا الذكر ‏}‏ القرآن ‏{‏ وإنا له لحافظون ‏}‏ من التبديل والتحريف والزيادة والنقص[40]

Dalam tafsir Ibnu Katsir:

ثم قرر تعالى أنه هو الذي أنزل عليه الذكر وهو القرآن وهو الحافظ له من التغيير والتبديل[41]‏

Dalam tafsir Qurtubi:

قوله تعالى‏{‏الذكر‏}‏ يعني القرآن‏.‏ ‏}‏وإنا له لحافظون‏}‏ من أن يزاد فيه أو ينقص منه‏.‏ قال قتادة وثابت البناني‏:‏ حفظه الله من أن تزيد فيه الشياطين باطلا أو تنقص منه حقا؛ فتولى سبحانه حفظه فلم يزل محفوظا[42]،

Dalam tafsir Baidlowi, Anwaru tanzil wa asrorut ta'wil:

( إنا نحن نزلنا الذكر ) رد لإنكارهم واستهزائهم ولذلك أكده من وجزه وقرره بقوله ( وإنا له الحافظون ) أي من التحريف والزيادة والنقص بأن جعلناه معجزا مباينا لكلام

Dalam tafsir al Baghowi, Ma'alim tanzil:


( إنا نحن نزلنا الذكر ) يعني القرآن ( وإنا له لحافظون ) أي نحفظ القرآن من الشايطين أن يزيدوا فيه أو ينقصوا منه أو يبدلوا بغيره


Pertemuan Dengan Dzat Allah dalam penafsiran

"Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri., Kepada Tuhannyalah mereka melihat"[43] Ayat ini sering terjadi pertentangan antara mufassir ahli sunah dan mu'tazilah, adakah kita bisa melihat Tuhan? Asyairoh berbendapat kita boleh melihat Allah, baik didunia dan diakhirat, akan tetapi bisa atau tidak itu urusan lain, dasar yang dipakai adalah permintaan musa, Robbi arini andur ilaik, Akan tetapi sampai kini tidak ada manusia yang dapat melihat Allah di dunia kecuali Nabi Muhammad ketuka isra' mijraj, namun Ahlu sunnah berpendapat bahwa nanti di akhirat setiap orang mukmin akan dapat melihat Allah dengan kondisi tanpa arah dan muqobalah, berdasar pada ayat diatas.

Menurut mu'tazilah, bahwa melihat Allah adalah muhal didunia dan diakherat dengan dasar, La tudrikuhul absor wahuwa yudrikul abshor, dan dalam ayat diatas zamakhsari memberikan tafsiran seperti ini.

اوجه‏:‏ عبارة عن الجملة والناضرة من نضرة التعيم ‏"‏ إلى ربها ناظرة ‏"‏ تنظر إلى ربها خاصة لا تنظر إلى غيره وهذا معنى تقديم المفعلول ألا ترى إلى قوله‏:‏ ‏{‏إلى ربك يومئذ المستقر‏}‏ القيامة‏:‏ 12 ‏{‏إلى ربك يومئذ المساق‏}‏ ‏{‏إلى الله تصير الأمور‏}‏ الشوري‏:‏ 53 ‏{‏وإلى الله المصير‏}‏ آل عمران‏:‏ 28 ‏{‏وإليه ترجعون‏}‏ البقرة‏:‏ 245 ‏{‏عليه توكلت وإليه أنيب‏}‏ هود‏:‏ 88 كيف دل فيها التقديم على معنى الاختصاص ومعلوم أنهم ينظرون إلى أشياء لا يحيط بها الحصر ولا تدخل تحت العدد في محشر يجتمع فيه الخلائق كلهم فإن المؤمنين نظارة ذلك اليوم لأنهم الآمنون الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون فاختصاصه بنظرهم إليه لو كان منظراً إليه‏:‏ محال فوجب حمله على معنى يصح معه الاختصاص والذي يصح معه أن يكون من قول الناس‏:‏ أنا إلى فلان ناظر ما يصنع بي تريد معنى التوقع والرجاء‏.‏


ومنه قول القائل‏:‏ وإذا نظرت إليك من ملك والبحر دونك زدتني نعما وسمعت سروية مستجدية بمكة وقت الظهر حين يغلق لناس أبوابهم ويأوون إلى مقائلهم تقول‏:‏ عيينتي نو يظرة إلى الله وإليكم والمعنى‏:‏ أنهم لا يتوقعون النعمة والكرامة إلا من ربهم كما كانوا في الدنيا لا يخشون ولا يرجون إلا إياه والباسر‏:‏ الشديد العبوس والباسل‏:‏ أشد منه ولكنه غلب في الشجاع إذا اشتد كلوحه ‏"‏ تظن ‏"‏ تتوقع أن يفعل بها فعل هو في شدته وفظاعته ‏"‏ فاقرة ‏"‏ داهية تقصم فقار الظهر كما توقعت الوجوه الناضرة أن يفعل بها كل خير‏

Kita sudah ketemu dengan tafsir-tafsir yang berbeda maka dari itu perlu kiranya kita belajar lebih dalam lagi akan berbagai pengetahuan, agar kita tidak terbiasa mencri hak tuhan dan mengatakan pendapat orang lain selalu salah dan pendapat kita selalu benar, namun akan lebih baik jika kita punya prinsip bahwa pendapat kita benar namun memungkinkan ada kesalahan dan pendapat orang lain salah namun memungkinkan terdapat kebenaran.

Demikian pengantar menuju metodologi penafsiran, ingat pendapatku benar dan berdasar namun tetap berkemungkinan terdapat kesalahan dan kekurangan, dan wajib bagi yang punya pengetahuan untuk membenarkan kesalahan yang ada.

Wallahu a'lam bisshowab.

[1] Lembar Kerja ini disampaikan dalam Kajian Sepuluh Harian Al-Fikr Study Club Kairo, Fismaba Mesir, pada hari Ahad, 12 November 2006, bertempat di Sekretariat Fismaba.
[2] Penulis adalah warga fismaba angkatan 2002, kini tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir fakultas Ushuluddin, Jur. Tafsir, pernah menjabat sebagai koord. Dept. Komunikasi fismaba 2002/2003, Pimred Teras, Sekretaris Fismaba 2003/2004, Anggota Dewan Pembina Fismaba 2004/2005, Anggota MPA Fismaba 2005/2006.
[3] Pimpinan aliran Ahmadiyah yang mengaku sebagai Isa Almasih yang dijanjikan
[4] Al qur'an Surat Asshaf(61) ayat 6
[5] Lihat. Dr. Hasan Muharrom al huwany, Al Madzâhib wa el tayârât el Mu'âshiroh wa mauqif el Islâm Minhâ, thn.2005, Hal. 91
[6] Dr.Mochammad Sayyid Jibril, Madkhol ilâ manâhij el mufassirin, thn. 2006, Hal. 10.
[7] Al qur'an. Surat An Nahl(16): 44
[8] Kamus kontemporer Arab-Indonesia
[9] Kamus Al Ashri h.933
[10] Keledai ahliyah adalah keledai yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari pemiliknya, atau bisa dikatakan keledai rumahan
[11] QS: Al An'an(6):82
[12] HR. Bukhari, hadith no.3466, Kitab ahadith al anbiya, bab 44
[13] HR. Bukhari, hadith no.103, Kitab al ilmi, bab 36
[14] HR.Bukhari, hadith no : 1950, kitab ash shoum, bab 16
[15] Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bib Affan, dan Ali bin Abi Tholib.
[16] Lahir tahun 224 H, wafat, Syawal 310 H.
[17] Tafsir dengan 30 jilid besar
[18] Lahir tahun 701 H. Wafat tahun 774 H.
[19] Tafsir dengan 4 jilid besar
[20] QS: Al Israa(17):71
[21] Wafat tahun 606 H nama aslinya Abu Abdillah Fahruddin Umar bin Khusein bin Hasan Ali al qurosy al bakary
[22] Wafat tahun 685 H.
[23] Lahir tahun 791, Wafat tahun 864 H
[24] Lahir tahun 849, Wafat tahun 911 H.
[25] Jalaluddin As Suyuti, Al Itqôn fi ulumil qur'an, Maktabah taufiqiyah, juz 1, h.38
[26] Manahilul irfan fi ulumil qur'an, Dar el kutub el ilmiyah, juz 1 h. 197
[27] QS : Ali Imron(3): 7
[28] Jalaluddin as Suyuti, Al Itqon fi ulumil qur'an, Maktabah Taufiqiyah, juz 2. h.240
[29] Ibid. h.244
[30] QS: Ar Rahman(55): 26
[31] QS: An Nisaa(4): 16
[32] QS: An Nisaa(4): 123
[33] QS: An Nisaa(4): 11
[34] QS: Al Mukminun(23): 1
[35] QS: Al Israa(17): 23
[36] QS: At Taubah(9): 6
[37] QS: Al Furqon(25): 48
[38] QS: An Nur(24): 63
[39] QS: Al Hijr(15): 9
[40] Tafsir Jalalain, jalaluddin al mahally dan jalaluddin as suyuti
[41] Tafsir Al qur'an al adhim, abul fida' ismail bin umar bin katsir
[42] Tafsr Qurtuby, Abu Adbdillah Muhammad bin Ahmad al Anshori al Qurtubi.
[43] QS: Al Qiyamah(75): 22-23

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Katakan pendapatmu kawan

10 Artikel Populer