20 Mei 2009

Kebon Raya Bogor


Kebon Raya Bogor
Oleh : Mochammad Moealliem


Minggu (15/02/2009) penulis dapat kesempatan keliling kebon raya on foot, sebab kendaraan tidak diperkenankan masuk, penulis sedikit bangga pada negeri yang baru penulis kenal kembali setelah bertahun-tahun hanya bisa melihat hadiqoh dauliyah di daerah Masakin Utsman Nasr City Cairo, meskipun taman yang namanya internasional itu tidak ada apa-apanya, dibanding taman mininya Indonesia, apalagi dengan kebon raya bogor


Pada kesempatan terakhir penulis menikmati musim panas, ada taman yang lumayan indah di Mesir, yang mana menjadi satu-satunya taman yang penuh dengan pohon palem, taman itu dibuat sejak penulis datang pertama kali di Mesir, dimana taman itu dulunya adalah bukit pasir yang akan menjadikan hujan debu pada daerah sekitarnya ketika angin bertiup di musim panas, namun akhirnya bukit berpasir itu sekarang disulap menjadi bukit hijau, dan diberi nama Al Azhar Park.



Tapi jangan berhayal itu seperti ancol, atau taman mini, masih jauh, maklum tak mudah menjadikan rumput hidup di Mesir, apalagi mau menanam bermacam-macam pohon dan tumbuh-tumbuhan seperti di kebon raya bogor, tak perlu berkhayal deh, meskipun hal demikian mungkin aja terjadi kalau orang mesir mau membuatnya di taman Paronic Village yang berada di delta sungai Nile, sebagaimana pernah saya tulis dahulu.

Hanya saja terkadang orang Indonesia kurang bersyukur, maklum mereka tak pernah tahu yang lebih rendah dari keindahan negerinya, berbeda dengan penulis yang baru mengetahui bahwa negeri penulis lebih indah dan lebih hijau dibanding negeri orang, meskipun penulis sadar negeri yang lebih bagus dari negeri penulis masih banyak, namun setidaknya kalau semua lokasi wisata di Indonesia dirawat dari ujung sabang sampai ujung merauke, rasanya tak kalah dengan puluhan tempat wisata yang ada pada puluhan negeri lain.

Hanya sayang masyarakat kita seolah kurang puas jika liburan keluar daerah, keluar kota, keluar pulau, kecenderungan masyarakat kita adalah bangga ketika berlibur keluar negeri. Hal demikian sudah dikenang orang dulu dalam pepatahnya bahwa rumput tetangga tampak lebih hijau dari rumput dalam rumah kita. Dan dalam kebahagian pun masyarakat kita cenderung melihat orang lain lebih bahagia dibanding kita, padahal setiap orang akan mengalami hal yang sama, dan merasa orang lain tak ada masalah, padahal setiap orang yang hidup tentu punya masalah, terkadang sudah mati pun masalah masih ada.



Lepas dari itu, ternyata kebon raya Bogor memiliki ribuan jenis tumbuhan yang ada didunia, kalau aneka macam hewan yang terkumpul menjadi kebon binatang, mungkin bisa dikatakan kebo raya adalah kebon tumbuhan, dengan beberapa hewan terntu, semisal Paus biru yang panjangnya lebih dari 20 meter. Juga binatang khas istana bogor yaitu (kidhang) rusa apa kijang ya? Kalau dalam tembang jawa ada lagu tentang “kidhang talun”. Ada juga burung-burung dan lain sebagainya.

Pembaca tak usah bingung berpikir dimana paus biru berada? Sebab mana mungkin sungai di kebon raya ada pausnya, Paus biru sudah tinggal tulangnya yang disusun rapi sesuai bentuk asalnya di museum zoologi yang ada didalam kebon itu. Jadi teringat deh dengan kisah nabi yunus, akhirnya kita bisa percaya, bahwa orang yang dimakan paus segede itu mungkin nggak langsung mati, kayak kita masukin permen dimulut kita kali, paling gelap dan agak sesak nafas, maka tak aneh tatkala nabi yunus dimuntahkan dari mmulut ikan dia dalam keadaan yang agak mengenaskan, beruntung muntahinnya dipinggir pantai coba kalau pas dia berdoa langsung dimuntahkan ditengah laut, apa masih kuat untuk berenang ketepian?.



Maka marilah kita bersyukur atas karunia yang tak ternilai harganya, banggalah dengan negeri kita dan jadikanlah diri kita sebagai kebanggaan negeri kita tercinta dengan berbagai prestasi, sebagai wujud syukur kita pada Allah yang menjadikan Indonesia begitu indah.

Allim
Cipondoh Rabu 20 Mei 2009
Syukurilah yang kita punya


[+/-] Selengkapnya...

11 Mei 2009

Metro Anfaq dan Busway

Metro Anfaq dan Busway
Oleh Muhammad muallim

Aku belum bisa menghayal di Cairo Mesir ada Busway, sebagaimana aku tak bisa berhayal Metro anfaq di Jakarta. Dua kota yang punya kekurangan masing-masing setelah banyak kelebihan yang tak perlu disebutkan, salah satu kekurangan kota Cairo adalah kurang hujan sehingga memungkinkan para kontraktor bermain petak umpet dengan terowongan yang tak kalah dengan terowongan tikus, mungkin saat ini mereka sedang menyelesaikan jalur 3 jurusan kota Ataba hingga Bandara, kata salah seorang yang pernah heran dengan penulis, waktu yang dibutuhkan ditaksir 4 tahun, semoga saja itu benar, sebab kebiasaan orang Mesir bilang “tunggu lima menit” tapi tidak benar.

Apa jadinya jika di Jakarta ada kereta bawah tanah? Apalagi banjir begitu akrab, mungkin asyik kalau air banjirnya bening, serasa didalam aquarium dan keretanya pun harus standar kapal selam, namun setidaknya penulis merasa asyikan di Busway daripada di metro anfaq Kairo, meski jika dibandingkan harga tiket busway dua kali lipat harga tiket metro bawah tanah itu.


Kata orang metro anfaq Kairo dibuat orang prancis jadi yach lumayan bagus tata ruangnya, apalagi stasiun untuk transit seperti ataba atau ramsis, yang membedakannya dengan busway adalah karcis busway hanya masuk mesin ketika masuk halte busway dan tak bisa keluar lagi, adapun kalau metro anfaq karcis masuk mesin dan keluar lagi, dan harus dibawa hingga nanti sampai halte tujuan, dan jika tak punya karcis dia tak akan bisa keluar halte, sebab untuk membuka pintu untuk keluar harus memasukkan karcisnya tadi dan akan ditelan mesin dan tak keluar lagi.

Lain dari itu, setiap stasiun metro bawah tanah Mesir ada peta kota dan halte-halte yang dilalui, berbeda dengan busway kita tak akan tahu dan hanya akan tahu ketika hampir sampai tujuan, meskipun ada suara yang terekam untuk memberitahu setiap halte yang ada didepan, itu pun kalau nggak rusak, kadang juga rusak, jadi untuk orang asing atau turis, akan mengalami kesulitan, turis lokal pun akan menambah tenaga untuk bertanya.

Asyiknya ketika naik busway adalah sejuk dan tak terasa macet, namun itu adalah penilaian pertamaku saat menaikinya di hari libur, namun akhirnya penulis terjebak kemacetan di halte Harmoni pada jum’at sore, dan hal itu memberikan penulis sebuah kesimpulan bahwa pada jum’at sore akan selalu terjadi hal demikian, bahkan hampir selama satu jam orang baru bisa masuk bus tujuan tertentu, seperti kalideres dan tujuan yang dipadati para pekerja yang hendak pulang berakhir pekan.

Tak beda jauh dengan Metro anfaq di Mesir, juga akan begitu penuh pada jam pulang kerja tiap harinya.

Alliem
Senin 11 Mei 2009
Jakarta macet itu pasti

[+/-] Selengkapnya...

10 Artikel Populer