09 Maret 2011

Nabi Mendapat Wahyu, Kita Mendapat Ilham

Oleh : Mochammad Muallim

Bagi yang pernah belajar agama disekolahnya, minimal tahu nama 10 malaikat beserta tugas-tugasnya, kalau sampai tidak tahu perlu diperiksa keimanannya, saya yakin pembaca tulisan ini hafal betul siapa mereka. Malaikat bukanlah robot yang membutuhkan energi untuk bergerak, Malaikat tidak mengalami masa kanak-kanak, Malaikat itu tidak laki-laki tapi juga tidak perempuan, waria juga tidak. Malaikat tidak suka minum kopi seperti penulis, juga tidak makan seperti pembaca.

lebih lengkap tentang malaikat klik disini
(http://madinmu.blogspot.com/2011/03/mengenal-malaikat.html)

Sekedar mengingatkan orang yang lupa, 10 malaikat yang harus kita ketahui:

1. Jibril = menyampaikan wahyu dari Allah SWT.
2. Mikail = memberikan dan menyampaikan rejeki / rizki.
3. Isrofil = meniup sangkakala penanda hari kiamat telah tiba.
4. Izroil = mencabut nyawa.
5. Rokib = memcatat segala perbuatan amal baik atau kebajikan seseorang.
6. Atid = mencatat segala perbuatan buruk, bejat dan dosa seseorang.
7 Munkar = menanyakan seseorang di alam kubur mengenai segala perbuatannya semasa hidup di dunia.
8. Nakir memiliki = menanyakan seseorang di alam kubur mengenai segala perbuatannya semasa hidup di dunia.
9. Ridwan = menjaga pintu surga
10. Malik = menjaga pintu neraka

Setelah membaca itu, beberapa orang mulai muncul pertanyaan iseng.

"Ustadz....Nabi Muhammad kan nabi terakhir, lalu apa yang dilakukan malaikat Jibril saat ini?"

"Ya tetap nyampaikan sesuatu yang harus disampaikan, sesuai perintah."

Memang terkadang kita terpaku dengan penjelasan singkat tanpa pernah kita menelusuri Alqur'an secara mandiri, dalam Alqur'an banyak kisah tentang orang yang bukan nabi mendapat petunjuk, arahan atau bahkan ilham, ada Maryam, ada ibunya Musa dan lainnya, tentu mereka bukan nabi, namun mereka juga berhak menerima pesan dari Dzat yang murbing dumadi.

Lalu apakah sekarang juga masih mungkin itu terjadi pada kita?

Tentu saja mungkin, karena semua orang berhak menerima sms maupun panggilan asalkan hatinya hidup dan sinyalnya bagus.

Salah satu cara membaca sms itu adalah mimpi yang benar, mimpinya orang yang benar, karena ru'ya sholiha (mimpi yang benar) termasuk tanda kenabian.

Nabi menerima wahyu kadang lewat mimpi, kadang dalam keadaan terjaga, kadang suara, kadang berbentuk manusia yang membawa berita.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Aisyah Ibu Kaum Mu'minin, bahwa

Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya. Aisyah berkata: Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat.HR. Bukhari 2

Lalu bagaimana dengan umatnya?

Orang-orang sholeh di zaman kita biasanya mendapat kabar lewat mimpinya, atau lewat malaikat yang menyamar sebagai manusia, dan cara-cara lain sesuai kapasitasnya masing-masing, kita pun berkesempatan untuk bisa komunikasi langsung, asalkan hati kita menyala dan ada pulsanya, hubungilah Allah jika kita ingin jawaban, kalau mau sinyal bagus di sepertiga malam yang terakhir.

Coba anda baca hadith diatas, nabi kadang menerima wahyu di musim dingin tapi bisa berkeringat, apa analisa anda?

Allim
Jakarta, Rabu 09 Maret 2011
Berfikir pun bisa membakar otak disaat musim dingin


4 komentar:

  1. Wahyu makna aslinya adalah al-‘Isyaratus-sarī‘ah (Al-Mufradāt fi Gharā’ibil-Qur’an) artinya isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati seseorang atau ilqā’un fir-rau‘i artinya yang disampaikan dalam hati. Dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah Ta‘ala berbicara kepada para hamba-Nya dengan tiga cara, yaitu: a). Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara; b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib) dalam keadaan jaga atau ru’ya (penglihatan gaib) dalam keadaan tidur, yang dapat ditakwilkan atau tidak atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka (Ilham). Inilah arti kata “dari belakang tabir”; dan c). Tuhan mengutus seorang Rasul atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat-Nya.

    Sebagaimana firman Allah Ta‘ala berikut:
    وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
    Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan dengan seijin-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha-luhur, Maha-bijaksana (Asy-Syuurā [42]:52)

    Dalam prakteknya, semua cara Allah Ta’ala berbicara kepada para hamba-Nya itu pada umumnya orang menyebutnya dengan istilah wahyu. Dengan wahyu itu Dia menampakkan Wujud dan Keagungan-Nya kepada mereka. Allah Ta’ala dapat dibuktikan sebagai Tuhan Yang Maha Hidup hanya jika Dia bercakap-cakap dengan hamba-hamba-Nya. Tidak masuk akal bahwa Allah Ta’ala tidak lagi berbicara di waktu sekarang, padahal Dia selalu berbicara kepada hamba-hamba pilihan-Nya di masa yang lalu. Tidak ada sifat Allah Ta’ala yang dapat dianggap tidak lagi bekerja. Anugerah Wahyu Ilahi dapat diterima bahkan sekarang ini juga, seperti halnya telah diraih oleh umat manusia di masa yang lalu. Wahyu itu dimaksudkan pula untuk memberikan kesegaran dalam kehidupan ruhani manusia dan untuk memungkinkan manusia ber-taqarrub atau mendekatkan diri kepada Khaliknya dan Rabb-nya.

    Oleh karena itu dalam al-Quran wahyu itu diibaratkan dengan air, sebagaimana firman-Nya berikut ini:
    وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ
    Dan Dialah Yang menurunkan air dari awan dengan kadar tertentu, dan dengan itu Kami menghidupkan negeri yang mati – dengan cara demikian pulalah kamu pun akan dibangkitkan (Az-Zukhruf [43]:12)

    Kata-kata ini berarti seperti halnya tanah yang kering dan gersang pun mulai hidup kembali dengan segar, bila hujan jatuh di atas tanah itu, demikian pula kaum yang secara akhlak dan ruhani telah mati, memperoleh hidup baru dengan perantaraan wahyu Ilahi Yang Maha Suci.

    BalasHapus
  2. Makhluk Yang Menerima Wahyu

    Mengingat setiap makhluk yang diciptakan mempunyai tugas dan tujuan, maka untuk dapat melaksanakan fungsinya itu dengan sempurna mereka perlu diberi petunjuk melalui wahyu, oleh karena itu dalam al-Quran disebutkan beberapa contoh makhluk yang diberi wahyu oleh Allah Ta’ala seperti:

    1. Makhluk yang tak bernyawa, seperti langit dan bumi. Allah Ta’ala berfirman:

    ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا
    Kemudian Dia menoleh ke langit, ketika langit masih merupakan sesuatu yang bagaikan asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua dengan patuh dan rela ataupun terpaksa!”. Mereka menjawab, “Kami berdua datang dengan rela” Maka Dia menyempurnakan mereka – langit dan bumi – berupa tujuh langit dalam dua hari dan Dia mewahyukan tugasnya kepada tiap-tiap langit (Hamim As-Sajdah [41]:12-13)
    بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا
    Karena, Tuhan engkau telah mewahyukan kepadanya (bumi) (Al-Zilzāl [99]:6)

    2. Makhluk binatang seperti lebah,

    Allah Ta’ala berfirman:
    وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
    Dan Tuhan engkau telah mewahyukan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah di bukit-bukit dan pada pohon-pohon dan pada kisi-kisi yang mereka buat; kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, dan tempuhlah jalan yang ditunjukkan Tuhan engkau dengan rendah hati”. Keluarlah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi orang-orang yang mau merenungkan (An-Nah l [16]:69-70) hal

    3. Makhluk Malaikat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

    إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ
    Ketika Tuhan engkau mewahyukan kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku beserta kamu; maka teguhkanlah orang-orang yang beriman. Aku akan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang yang ingkar. Maka pukullah pada leher mereka dan pukullah pada tiap-tiap ruas jari mereka (Al-Anfāl [8]:13)

    BalasHapus
  3. 4. Manusia pria dan wanita bukan Nabi atau Rasul, seperti para sahabat Nabi Isa as dan ibu Nabi Musa as, Allah Ta’ala berfirman:

    وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ ءَامِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا ءَامَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
    Dan, ingatlah ketika Aku mewahyukan kepada para hawari, “Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku”. Mereka berkata, “Kami beriman dan saksikanlah bahwa kami orang-orang yang berserah diri (Al-Māidah [5]:112)

    وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
    Dan Kami wahyukan kepada Ibu Musa, “Susuilah dia, lalu lemparkanlah dia ke dalam sungai dan janganlah engkau takut, dan jangan pula engkau berdukacita; sebab sesungguhnya akan Kami kembalikan dia kepada engkau, dan akan Kami jadikan dia salah seorang dari para Rasul (Al-Qasas [28]:8)

    5. Para Nabi atau Rasul
    إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَءَاتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا
    Sesungguhnya, Kami telah mewahyukan kepada engkau sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan Nabi-nabi yang sesudahnya; dan telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘kub dan keturunannya; dan Isa dan Ayyub dan Yunus dan Harun dan Sulaiman; dan telah Kami berikan Zabur kepada Daud. (An-Nisā’ [4]:164)

    وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
    Dan, Kami mewahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkat engkau!”. Maka tiba-tiba tongkat itu menelan apa-apa yang disihir mereka (Al-A‘rāf [7]:118)

    Berdasarkan semua ayat-ayat al-Quran tersebut, tujuan Allah Ta’ala mewahyukan petunjuk-Nya kepada semua makhluk-Nya agar mereka tunduk dan patuh kepada kehendak-Nya sehingga mereka dapat berkembang menuju kesempurnaannya, sebagaimana Dia lukiskan dalam firman-Nya berikut:

    سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى
    Sanjunglah nama Tuhan engkau Yang Mahatinggi, Yang telah menciptakan serta menyempurnakannya. Dan Yang menetapkan kadar kemampuan-kemampuannya dan memberi petunjuk yang setepat-tepatnya (Al-A‘lā [87]:2-4)

    Untuk lebih jelasnya perhatikan ayat al-Quran tentang wahyu Allah Ta’ala kepada lebah yang terjemahannya sebagai berikut: “Dan Tuhan engkau telah mewahyukan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah di bukit-bukit dan pada pohon-pohon dan pada kisi-kisi yang mereka buat; kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, dan tempuhlah jalan yang ditunjukkan Tuhan engkau dengan rendah hati”. Keluarlah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi orang-orang yang mau merenungkan! (An-Nahhl [16]:69-70)”

    Pengertian wahyu dalam ayat tersebut adalah naluri-naluri alami yang dengan itu Tuhan telah menganugerahi semua makhluk. Ayat ini mengandung satu isyarat yang indah sekali, bahwa bekerjanya seluruh alam semesta dengan lancar dan berhasil bergantung pada wahyu (atau ilham), baik yang nyata ataupun yang tersembunyi.

    Dengan perkataan lain, segala benda dan makhluk memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya. Lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi dan kerjanya yang menakjubkan itu bahkan terkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apapun.

    BalasHapus
  4. Pokok masalah lebah telah dipaparkan lebih lanjut dalam ayat berikutnya yang terjemahannya: “Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, dan tempuhlah jalan yang ditunjukkan Tuhan engkau dan yang dipermudah bagimu.” Keluarlah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang mau merenungkan (An-Nahhl [16]:70).” Dalam ayat ini, Tuhan telah mewahyukan kepada lebah untuk menghimpunkan makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Tuhan kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu.

    Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa, akan tetapi semua coraknya yang berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti, bahwa wahyu telah terus-menerus turun kepada nabi-nabi di berbagai jaman, dan bahwa ajaran seorang nabi berbeda dalam beberapa hal yang kecil-kecil dari ajaran-ajaran Nabi-nabi lain; walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana untuk menumbuhkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau diutus.

    BalasHapus

Katakan pendapatmu kawan

Share It

10 Artikel Populer