Tampilkan postingan dengan label Rak Tulisan 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rak Tulisan 01. Tampilkan semua postingan

07 November 2007

Roy Yang Malang di Malang


Roy Yang Malang di Malang
Oleh : Mochammad Moealliem

Menarik, menggelitik, dan perlu dikritik.
Kafir, Munafik, Musyrik, kata-kata berbahaya ini perlu kita jaga dari bibir kita yang mungil ini, dan tak berlu dengan leher berotot meminjam istilahnya saudara polan (kholis Hamdani).

Berbeda pendapat itu biasa dalam diskusi, namun ingat jangan mudah menuduh orang yang berbeda pendapat dengan kita dengan tuduhan seperti saya tulis diatas, hal itu sangat berbahaya dan bila tuduhan itu salah maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh, bukankah anda tahu hadith nabi

"Barangsiapa berkata kepada saudaranya, 'Hai kafir, maka sesungguhnya kalimat ini akan kembali kepada salah seorang di antara mereka."
( Muttafaq 'Alaih dari Ibn Umar,al-Lu'lu' wa al-Marjan, hal 39 )

Maksud hadith ini kalau kalimat kafir akan mengenai salah satu dari penuduh dan yang dituduh, jika yang dituduh tidak kafir maka penuduhlah yang menjadi tempat kembalinya kalimat itu.

Satu hal yang sangat penting di sini ialah kemampuan untuk membedakan tingkat kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan. Setiap bentuk kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan ini ada tingkat-tingkatnya.

Akan tetapi, nash-nash agama menyebutkan kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan hanya dalam satu istilah, yakni kemaksiatan; apalagi untuk dosa-dosa besar. Kita mesti mengetahui penggunaan istilah-istilah ini sehingga kita tidak mencampur adukkan antara berbagai istilah tersebut, sehinggakita menuduh sebagian orang telah melakukan kemaksiatan berupa kekufuran yang paling besar (yakni ke luar dari agama ini) padahal mereka sebenarnya masih Muslim.

Dengan menguasai penggunaan istilah itu, kita tidak menganggap suatu kelompok orang sebagai musuh kita, lalu kita menyatakan perang terhadap mereka, padahal mereka termasuk kelompok kita, dan kita juga termasuk dalam kelompok mereka; walaupun mereka termasuk orang yang melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk menangani masalah ini sebaiknya kita mengaca pada peribahasa Arab: "Hidungmu adalah bagianmu, walaupun hidung itu pesek."

Dalam buku Fiqh Prioritas karya DR.Yusuf Qordlawi edisi bahasa Indonesia, bisa anda baca sendiri disana dijelaskan berbagai devinisi dari ketiga kalimat diatas dengan disertai pembagian antara besar dan kecil dari ketiganya

Orang kafir itu tidak sholat, namun orang yang tidak sholat itu belum tentu kafir. Anda tentu memahami hal ini secara mantiq (logika), Indonesia adalah bagian besar penduduk muslim dunia, namun apakah muslim Indonesia melaksanakan sholat semuanya? Tentunya jawaban itu "tidak", nah apakah orang yang tidak sholat itu kafir, tentunya tidak, tapi yang jelas hal itu dosa besar seperti yang ditulis DR.Yusuf Qardlawi dalam buku yang sama:

" Para ulama berselisih pendapat dalam memberikan batasan terhadap dosa besar ini. Barangkali yang paling dekat ialah kemaksiatan yang pelakunya dapat dikenakan had di dunia, dan diancam dengan ancaman yang berat di akhirat kelak, seperti masuk neraka, tidak boleh memasuki surga, atau mendapatkan kemurkaan dan laknat Allah SWT. Itulah hal-hal yang menunjukkan besarnya dosa itu.

Ada pula nash-nash agama yang menyebutkan batasannya secara pasti dan mengatakannya ada tujuh 22 macam dosa besar setelah kemusyrikan; yaitu: Membunuh orang yang diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar; sihir; memakan riba; memakan harta anak yatim; menuduh perempuan mukmin melakukan zina; melakukan desersi dalam peperangan. Sedangkan hadits-hadits shahih lainnya menyebutkan: Menyakiti kedua hati orang tua, memutuskan tali silaturahim, menyatakan kesaksian yang palsu, bersumpah bohong, meminum khamar, berzina, melakukan homoseksual, bunuh diri, merampok, mempergunakan barang orang lain secara tidak benar, mengeksploitasi orang lain, menyogok, dan meramal.

Termasuk dalam kategori dosa besar ini ialah meninggalkan perkara-perkara fardu yang mendasar, seperti: meninggalkan shalat, tidak membayar zakat, berbuka tanpa alasan di bulan Ramadhan, dan tidak mau melaksanakan ibadah haji bagi orang yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tanah suci. "

Namun kita juga perlu teliti dengan hal-hal semacam ini, jangan-jangan hal itu memang sengaja dilakukan untuk tujuan tertentu, sebab terkadang para anti islam sengaja menopang serta sengaja memasukkan bias-bias orientalis yang sangat sulit kita sadari, sebab cara yang paling cocok untuk menghancurkan islam adalah lewat orang islam sendiri, mereka tak akan mampu secara langsung menorobos kedalam islam tanpa melalui orang-orang yang lemah imannya, dan hal ini berkaitan erat dengan istilah kemunafikan.sesuai dengan hadits:

"Ada empat hal yang apabila kamu berada di dalamnya, maka kamu dianggap sebagai orang munafiq murni. Dan barangsiapa yang mempunyai salah satu sifat tersebut, maka dia dianggap sebagai orang munafiq hingga ia meninggalkan sifat tersebut. Yaitu apabila dia dipercaya dia berkhianat, apabila berbicara dia berbohong, dan apabila membuat janji dia mengingkari, apabila bertengkar dia melakukan kecurangan." [ Muttafaq 'Alaih, dari Abdullah bin Umar; al-Lu'lu' wal-Marjan (37).]

Hadits yang lain menyebutkan, "Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga: Apabila bicara, dia berbohong; apabila berjanji dia mengingkarinya; dan apabila dipercaya, dia berkhianat." [ Muttafaq 'Alaih, dari Abu Hurairah r.a., ibid., (38).]

Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Walaupun dia berpuasa, shalat, dan mengaku bahwa dia Muslim." [ Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab al-Iman, 109, 110.]

Untuk itu mari kita berdiskusi dengan pikiran yang obyektif, dan dengan kesadaran tinggi bahwa kita manusia yang biasa, dan kesalahan tak mungkin kita hindari sebab sifat maksum hanya bagi nabi, namun orang salah dalam diskusi lebih baik dari pada orang benar tapi diam saja, terlebih nggak tahu hal itu benar atau salah. Seperti ijtihad kita ketika bingung mencari qiblat, dalam setiap rokaat kearah yang berbeda hal itu tidak membatalkan sholat kala memang nggak ada yang mampu memberi tahu yang benar. Seperti ijtihadnya saudara Roy maka bagi yang tahu arah wajib hukumnya mengingatkan. Sebab Islam memakai aturan Fiqh dalam beribadah berbeda sekali dengan Kristen. Dan mengingatkan itu tak perlu memaksa apalagi menangkap.

Kebenaran mutlak hanya milik Allah semata, apa yang kita anggap benar didunia ini hanyalah mendekati kebenaran yang mutlak, dan kebenaran tidak hanya melalui satu jalan, seperti istilah yang trend " banyak jalan menuju Roma", kalau kita kiaskan menjadi "banyak jalan menuju kebenaran". Ikutilah rambu-rambu agar mencapai tujuan dengan cepat dan tepat, bila tersesat ada pepatah lagi "malu bertanya sesat dijalan", kepada siapa bertanya? Qur'an menjawab "Fas alu ahlad dzikri inkuntum la ta'lamun" bertanyalah pada ahli dzikir jika kalian tidak tahu.

Jumhur fuqoha tidak memperbolehkan membaca fatihah dalam sholat selain dengan bahasa aslinya (arab) bisa dilihat pada "al fiqh al islamy wa adialatuh " wahbah zuchaily hal 839. Ditambah lagi tidak diperbolehkan mengganti ayat-ayat fatihah dengan ayat lain, baik bisa membaca arab dengan baik atau pun kurang baik bacaanya, harus dengan bahasa arab, dengan dalil "qur'anan arobian" QS.12:2, juga "bilisanin arobiyin mubin "QS.26:195

Hanya sebagian pengikut madzhab hanafi memperbolehkan dengan bahasa selain arab karena ketidakmampuan seseorang untuk membaca dengan bahasa arab, namun tidak saya temukan diperbolehkanya membaca fatihah dengan dua bahasa atau diiringi terjemahanya dalam sholat, dan kalau masih ngotot pakai dua bahasa itu tanggung jawab pemakai dan para pendukungnya. Ingatlah tidak semua orang boleh membuat rambu-rambu dijalan.

Alliem,
Jum'at, 03 june 2005
Tuhan lebih rahmah dari yang ku kira

[+/-] Selengkapnya...

Warna Demo Kreasi


Warna Demo Kreasi
Oleh : Mochammad Moealliem

"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar" dengan lantangnya seorang pemuda mengawali sebuah teriakan yel-yel yang terjadi tepat setelah selesai melaksanakan sholat jum'at di masjid Al azhar pada tanggal 20 mei 2005 tepatnya sehari sebelum imtihan musim panas dimulai.

Kebetulan waktu itu aku sedang mengikuti jum'at disana, dari arah yang berlawanan atau dibelakang saya, sebab yang tadi didepan saya, "uskut ya wala', uskut ya wala" (diem menn!!) terlontar dari seseorang yang dalam analisa saya dia adalah orang-orang petinggi partai pendukung presiden mesir yang sudah menjabat sejak saya lahir sampai sekarang, terlihat di saku jaznya tertulis "na'am limubarok" dengan beberapa rombongan yang sudah membawa sepanduk dukungan untuk sang presiden itu.

Pemuda yang pertama tadi semakin keras mengatakan yel-yel yang berlawanan dengan para pendukung presiden, dan mereka pun tidak sendirian, seolah bagi yang sefaham langsung ikut nimbrung bersorak ramai, terlihat main adu keras suara, padahal itu baru saja salam dari sholat jum'at aku pun agak menikmati adu mulut dari dua kubu yang sama-sama punya sifat kepala batu, namun aku hanya takut kalo sampai berantem bisa-bisa ada hantaman nyasar bisa gawat.

Masjid Al Azhar memang sering di pakai demo bahkan setiap jum'atnya, biasanya demo-demo yang tak berhubungan dengan pemerintahnya sendiri akan tetapi seperti demo anti israil atau anti amerika, bukan masalah apa-apa sebenarnya mereka memilih demo di masjid al azhar, hanya sebab nggak ada tempat bagi mereka untuk menyalurkan aspirasinya, kecuali di masjid. Sebenarnya sudah banyak dikritik bahwa masjid bukanlah tempat demontrasi, namun entah kenapa mereka seolah nggak punya tempat penyaluran aspirasi mereka, dan masjidlah salah sat alternatif terakhirnya.

Sebelumnya sang khotib jum'at sudah menghimbau dalam khutbahnya yang diambilkan dari sebuah hadis tentang larangan mencabut pedang kepada sesama muslim atau pun kepada non muslim yang hidup di bawah kekuasaanya, dan kelihatanya sang khotib agak menyayangkan tindakan beberapa oknum yang membuat fitnah (tanpa saya tahu apa maksud fitnah itu). Dan lagi sang khotib sedikit mengungkap pesan nabi ketika akan berjihad diantara dilarang membunuh orang tua, anak kecil, dan juga wanita. mungkin karena waktu itu belum adanya emansipasi, mungkin setelah adanya emansipasi, pengecualian tinggal orang tua dan anak kecil dan selainnya boleh dibunuh dalam medan perang.

Beberapa kamera, handicame dan yang lain terlihat sibuk mencari tempat yang strategis untuk mendokumentasikan peristiwa ini, aku pun langsung menghindar dari lokasi adu mulut yang makin lama makin keras yang yang terjadi di kawasan masjid di bangunan zaman fathimiyah dan ustmani itu. namun aku yakin itu hanya adu mulut nggak bakalan adu otot, sebab ratusan polisi telah bersiaga sebelum para demonstran itu memasuki masjid untuk sholat jum'at.

Dua jam sebelum adzan jum'at kebetulan aku sudah disana, dan aku lihat puluhan polisi berseragam abu-abu dan celana hitam sudah duduk disekitar gerbang masuk masjid, polisi berseragam putih-putih duduk dipintu bagian luar, kemudian polisi berseragam preman sudah memasuki masjid satu setengah jam sebelum adzan, jumlahnya sekitar lebih dari seratus dengan ciri yang aku dapati dengan pentungan hitam sepanjang 30 cm per orangnya dan kemudian langsung berkumpul disebuah ruangan bagian masjid.

Sekitar 15 mobil truk tertutup berbaris didepan campus al azhar lama, yang tepat berada disamping masjid dengan berisi pasukan bertameng yang ditanam dihalaman masjid setiap satu meternya, dibagian luar gerbang dijajar polisi bertameng lengkap dengan pentungannya begitu rapat lapis dua. pokoknya kalau dihitung antara yang demo dengan polisinya banyak polisinya. belum lagi setiap pintu bagian dalam dijaga dua lapis 20 an polisi preman setiap sisinya (kiri dan kanan).

pokoknya asyik dan agak takut, yach kayak nonton film horor gitu loh. takut tapi penasaran dan terlihat kok bisa begitu yach..

Aku pun nggak menunggu adu mulut itu selesai aku sudah keluar dari masjid dan melihat polisi yang begitu banyak dan kelihatanya itu udah dari dulu namun yang sekarang terlihat lebih banyak lagi setelah terjadinya ledakan di samping masjid al khusein yang terletak bersebelahan hanya terpisah jalan dan satu gedung idaroh al azhar, yach sekitar 100 meter antar dindingnya. dan disana pun di pakai jum'atan pun juga dijaga polisi, namun tak sebanyak di masjid al azhar saya kira, terlebih Mesir akan melaksanakan pemilu.

Beberapa waktu yang lalu ketua MPR juga diundang oleh pemerintah Mesir entah apa yang dibahas, kalau menurut pak Hidayat (ketua MPR RI) ketika dalam pertemuan dengan mahasiswa di auditorium SKolah kamil al azhar campus kedokteran hanya mengatakan ingin mencontoh aturan pemilu yang sukses di Indonesia. dan terlihat agak hati-hati sekali bicaranya ketika ditanya tentang masalah yang berkembang di perpolitikan di Indonesia.


Kembali lagi masalah demo disini...


Memang sangat-sangat jarang kita mendapati demo mahasiswa Mesir seperti di Indonesia yang begitu mudahnya, atau mungkin saja pengamanan yang begitu ketat yang menjadikan mereka berpikir ulang untuk melakukan demonstrasi, terlebih mahasiswa asing kayak kita-kita, jangankan demo mendapat kebebasan melakukan aktifitas, baik seminar, bedah buku, dialog dengan tokoh-tokoh aneh, mengadakan pentas, itu sudah sangat kita syukuri.

Nah, kalau mahasiswa al azhar dulu sering aku jumpai demo pro palestina dan menentang israel, tapi yach hanya didalam kampus nggak boleh demo dijalan-jalan, gitu aja penjagaannya sudah sangat ketat, gerbang kampus pun terhias warna-warni seragam polisi, dan bagi mahasiswa asing biasanya kita nggak perlu ikut-ikutan mereka yang demo, sebab status kita tamu, nanti kalau ada apa-apa bisa berbahaya.

Jadi harap maklum saja, kita-kita kurang sering berlatih orasi, paling-paling orasi kita lewat tulisan seperti ini dan semacamnya.

Alliem,

Kamis, 26 mei 2005
demokrasi masih dalam satu arti


[+/-] Selengkapnya...

Seputar Campus Menjelang Ujian


Seputar Campus Menjelang Ujian
Oleh : Mochammad Moealliem

Tidak asing lagi diotak mahasiswa Indonesia cairo (masico) atau mahasiswa Indonesia Mesir (masisir) bahwa bom waktu akan segera meledak selama satu bulan penuh terhitung mulai tanggal 20 mei sampai 20 juni 2005, diperkirkan ledakan otak ini akan banyak memakan korban lebih dari 15 000 jiwa, dan akan terjadi krisis ketenangan hingga akhir juli 2005, belum lagi korban ringan akan di rasakan lebih dari jumlah yang ada.

9311 itulah jumlah mahasiswa (laki-laki ) fakultas ushuludin al Azhar tahun ini, dan yang di Cairo belum ditambah yang diluar Cairo, beberapa waktu lalu aku sempat menghitung dari jadwal tempat duduk ujian tahun ini, sekitar 4718 mahasiswa tingkat 1, 1805 mahasiswa tingkat 2, 1646 mahasiswa tingkat 3 dengan perincian,(( Jur.tafsir 586, Jur. filsafat 264, Jur. hadist 352, Jur. Da'wah 180 )), 1142 mahasiswa tingkat 4 atau tingkat akhir dengan perincian (( Jur.tafsir 350, Jur. filsafat 366, Jur. hadist 295, Jur. Da'wah 131 )).Itu baru Ushuluddin laki-laki, belum syariah, syariah qonun, lughoh, dirosat islamiyah, belum yang ilmu umunya, kedokteran, dll. Aku tak bisa membayangkan kalau saja demontrasi semudah Indonesia tentu mudah sekali mobilisasinya.

Jika anda pernah membaca berita tentang sebuah ledakan didekat campus lama al azhar atau tepatnya di lokasi wisata di masjid sayidina khusein bin ali RA (begitu orang mesir menyebutnya)awal bulan april 2005, yang memakan belasan jiwa dan memindahkan beberapa nyawa ka alam aslinya (meninggal dunia), dan hal tersebut membuat banyak dari masico mendapat telephon dari keluarganya, ledakan yang begitu tak terkira itu meledak sekitar hari kamis sore, minggu pertama, tepatnya tanggal 7 april 2005, saya pun baru tahu keesokan harinya, tentunya campus sudah selesai aktifitasnya, dan alhamdulillah tak satu pun masico hari itu menjadi korban orang yang stres dan memutuskan bunuh diri dengan meledakkan dirinya.

Hal semacam diatas membuat pengamanan campus al azhar lebih ketat di banding sebelumnya, bukan hanya itu saja dimana-mana seolah siaga satu, hingga kita terpaksa merelakan membuka tas kita meski tak berisi apa-apa, terlebih dikawasan masjid al khusein dimana kawasan ini memang sangat padat dengan turis asingnya dan memang disitu adalah tempat berhentinya bus-bus tourist asing, tentu saja pengamanan lebih dari lainya sampai anjing penjaga pun ikut nongkrong di taman pelataran masjid bersama beberapa polisi bersenjata, adalah hal biasa sewaktu kita ke masjid khusein mendapati banyak turist baik cowok maupun cewek, tua or muda, dan terkadang hal ini membuat orang-orang yang berpandangan radikal kebakaran jenggot akibat kebanyakan turist berpakaian terlalu rapi dan terlalu sedikit.

Namun meski begitu kalaupun turis itu mau masuk masjid, akan di pakaikan pakaian tertutup oleh penjaga pintunya, atau kadang hanya mendokumentasikan masjid bersejarah itu, yang terdapat makam kepala Khusein bin Ali, meski dalam banyak perselisihan akan kebenaranya, masjid yang lumayan besar itu tertulis di bagian bawah menaranya sebuah hadis "Khusein minny wa ana min khusein ahabba allah man ahabba khusain..."dan pernah pada suatu kali saya menyaksikan sebuah perkumpulan tariqat pada salah satu hari dimana hari itu untuk memperingati hari kematian khusein, aku lihat gaya berdsikir sambil bergoyang (berjoget) dengan membetuk sebuah lingkaran, disebuah bagian masjid itu, ada juga model yang lain disudut yang lain, dan banyak sekali macam-macamnya.

Kembali ke campus...

Dalam kebiasaan lama kalau pintu gerbang al Azhar selalu dijaga banyak polisi baik kampusnya, asramanya, kantor Grand syaihknya, nah kalau di campus akan selalu diperiksa kartu mahasiswanya alias harus menunjukkan student identity card kalau mau masuk gerbang bagi orang-orang arab, namun kalau bagi mahasiswa asing bebas-bebas aja masuknya, itu dulu...akibat terjadinya ledakan didepan campus itu akhirnya kita-kita jadi ikut diperiksa.

Suasana campus makin sepi sekitar satu bulan menjelang ujian, penyampaian materi pun sudah dipungkasi, jadwal pun sudah terpampang besar beserta tempat duduknya, hanya bagi mereka yang masih belum mencatat jadwal dan mencari tempat duduknya yang banyak terlihat mondar mandir disana, suasana sepi begitu menghias banyak dari organisasi masico, mulai dari organisasi kekelurgaan sebanyak sekitar 17 organisasi, belum lagi afiliatif ( PCINU, PCIM, PERSIS dll) juga forum kajian, almamater jumlahnya sangat banyak, senat fakultas, tambah lagi marhalah (tahun kedatangan) pokoknya kalu minat bisa kita hitung setiap masico bisa ikut 5 organisasi dan itu tidak bertentangan,itu masih bisa bertambah lagi, pokoknya dijamin nggak bakal kesepian dari acara deh.kecuali kalau dah deket ujian semuanya libur total.

Itu untuk yang mahasiswa Indonesia saja, dan yang lain pun sejenis itu pula, padahal jumlah mahasiswa Indonesia terhitung sedikit dibanding Malaysia, paling hanya sekitar 3500 an mahasiswa, mulai yang ma'had, dirosat khosoh, s1, s2, s3 dan lainya.


[+/-] Selengkapnya...

Pelantun Ayat Suci


Pelantun Ayat Suci
Oleh : Mochammad Moealliem

Anda tentu sudah punya gambaran kalau pelantun ayat suci, tentunya ayat Al Qur'an, ayat Injil, ayat Zabur, atau pun ayat Taurat. Dalam tulisan ini hanya tentang ayat Al Qur'an saja.

Lantunan ayat suci akan selalu kita dengar ketika ada MTQ di Indonesia, atau sedang ada kegiatan pelatihan qori/qoriah di pondok, atau ketika ada ceremonial pembukaan suatu acara yang bersifat islami, dan lain sebagainya. Namun ada satu yang luput dari para qori/qoriah untuk tampil di acara ini, coba tebak acara apa hayoo?

Di Mesir (lagi-lagi Mesir ) maklum yang saya tahu baru Mesir dan sekitarnya. Mungkin orang orang yang belum pernah ke arab termasuk Mesir akan punya opini yang berlebihan dan pada akhirnya timbul sebuah kesimpulan kalau orang arab, tentu bahasanya arab, dan Al Qur an berbahasa arab, maka orang mesir secara keseluruhan bisa membaca Al Qur'an. Itulah kesimpulan yang perlu di simpulkan kembali ketika premis-premis untuk sebuah natijah tidak sesuai dengan waqi'nya.

Anggapan-anggapan seperti itu perlu dijauhkan dari anak-anak kecil agar tidak serta merta membuat sebuah opini yang salah. Atau bahkan pernah terjadi anggapan bahwa orang-orang yang memakai sorban tentunya kyai, karena tidak ada lagi yang bersorban kecuali kyai, itu di Indonesia. Berbeda sekali dengan di arab terlebih arab saudi, sorban adalah termasuk pakaian mereka. Jadi itu hanya pakaian kalo orang jawa pakainya udeng-udeng atau pakai blangkon. Jadi jangan pernah anda menganggap yang memakai sorban mesti masuk surga, ingatlah masuk surganya seseorang bukan karena sorban, akan tetapi hanya karena kemurahan tuhan pada yang di kehendaki-NYA.

Lantunan diatas adalah lantunan ngelantur dan tak perlu anda pikir terlalu dalam, kita kembali masalah Al Qur'an. Al Qur'an turun kepada nabi kita secara berangsur-angsur guna memudahkan pada umatnya dalam memahami dan mengamalkanya. Bukan hanya untuk perang mulut atau hanya untuk menipu seseorang agar sesuai dengan yang diinginkanya, sejak zaman nabi Al Qur'an sudah mulai ditulis, meski nabi tidak dapat menulis dan membaca. Tokoh-tokoh penulis itu selalu siap ketika nabi memerintahkan menulis wahyu yang turun.

Tak terkecuali sahabat Abu Bakar, dia lah orang pertama yang menulis Al Quran dalam lembaran-lembaran (mushaf-mushaf) kemudian Utsman lah yang mengumpulkan Al Qur'an dalam satu mushaf, dan serta menggandakanya untuk disebar di daerah daerah, dan seperti yang kita kenal sekarang sebagai mushaf Utsmani, seperti yang kita baca itu. Namun mushaf Utsmani waktu itu belum bisa dibaca oleh orang-orang non arab, kemudian pada masa selanjutnya di perintahkanlah Abul Aswad untuk memberi titik serta harokatnya tanpa merubah tulisan mushaf Utsmani. untuk mengetahui detailnya bisa anda baca di kitab-kitab (buku-buku) tentang ulumul qur'an.

Hari jum'at sering kita kita dengar lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an berkumandang dari corong pengeras suara di masjid-masjid yang dipakai sholat jum'at (tidak semua masjid untuk jumatan) namun biasanya di Indonesia cukup dengan memutar kaset rekaman saja, berbeda sekali dengan disini meski tidak semuanya, kebanyakan mereka tidak memutar kaset seperti di Indonesia. Jika tidak ada qori'nya yach cukup tenang nanti kalau sudah masuk waktunya langsung adzan gitu aja, berbeda kalau ada qori'nya sekitar 20 menit sebelum adzan kita bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat itu langsung dari bibir pembaca, dengan lagu yang berbeda-beda terlebih jika masjid-masjid besar.

Pokoknya kalau urusan lagu qiroat mereka ahlinya, meski aku nggak tahu lagu apa itu, namun yang jelas bukan lagu dangdut, pop terlebih rock. yang penting kita nggak perlu berlagu kalau nggak tahu jenis lagunya, bisa-bisa membuat orang lain marah-marah mendengar suara kita yang mengalahkan suara radio yang rusak.

Alliem,

Sabtu, 21 mei 2005
indahnya suara membuatku ingat

[+/-] Selengkapnya...

La Tansa Dzikrallah


La Tansa Dzikrallah
Oleh : Mochammad Moealliem

“Jangan lupa menyebut Allah" sebuah kalimat singkat yang dalam benak kita tentu tidak aneh kalimat seperti itu, namun akan terlihat unik jika anda jumpai ditempat yang berbeda dengan bayangan kita sebelumnya, tentunya anda perlu berfikir sejenak untuk dapat secara cepat menyimpulkan dimana tempat kalimat ini akan terpampang dengan jelas.

Kalau di Indonesia yang paling sering kita jumpai adalah "An nadlofatu min al iman" meski sampah masih saja berserakan liar diantara pengumuman besar itu, tentunya kita maklum bahwa masyarakat kita tidak takut dengan papan itu, terkadang baru merasa menjaga kebersihan adalah perlu ketika tedapat tulisan yang besar akan denda bagi pembuang sampah sembarangan.

Berbeda dengan di Mesir kalimat "An nadlofatu min al iman" jarang nampak di sudut sudut kota tua itu, hal semacam ini bukan berarti orang Mesir sangat menjaga kebersihan lingkungan tanpa ada perintah atau anjuran-anjuran, namun lebih mengarah pada sifat kepala batu, dan tak akan begitu berpengaruh dengan papan yang bertuliskan " kebersihan termasuk dari iman ".

"Jangan lupa menyebut Allah" apakah anda sudah menyebutkanya sejak saya tulis diatas?jika belum sebutlah sebelum saya lanjutkan pada masalah berikutnya, di akui atau tidak kita terkadang masih sama seperti orang yang belum berpendidikan, yang ketika membaca sesuatu nggak masuk hati hanya sekilas dimata lalu pergi, inilah mungkin yang orang dulu bilang "kamasalil himar yahmilu asfaro" seperti khimar yang memikul ribuan kitab yang tak akan pernah tahu apa yang ada dalam kitab itu, semoga saja dengan kita menyebut Allah, kita dijauhkan dari hal tersebut.

Adalah sebuah kebiasaan bagi orang Mesir untuk mecoret segala tempat usaha dengan goresan rapi ayat-ayat suci sesuai dengan usahanya, penjual makanan akan memasang ayat "kuluw min rizqillahi wala tusrifuw" penjual minuman "Kuluw wasrobuw..." atau "wa saqohum robbuhum saroban tohiro.." penjual pakaian "khudzu zinatakum.." dan kalo lebih umum lagi dengan "bismillahi ma syaalloh la quwata illa billah, atau tawakaltu ala lloh..." itu ditoko-toko dan yang lain.

Nah di bus kota pun tak jarang hal itu muncul, disini lebih bervariasi, ada yang untuk menenangkan penumpangnya dengan tulisan, "jadikan penantian anda mengingat allah" atau innalloha ma'a shobirin, dan juga laa tansa dzikrullah, ini diluar pengumuman yang lain, namun hal semacam itu mungkin tidak unik dan terkesan wajar-wajar saja, apalagi hanya pada stiker yang ditempelkan saja.

Namun sebenarnya yang ingin saya sampaikan disini adalah sebuah rambu-rambu lalu lintas yang bertuliskan "laa tansa dzikrullah" yang di Indonesia belum ku jumpai rambu-rambu semacam ini, akan tetapi di Mesir akan sering anda jumpai rambu-rambu tersebut.

Kita sering lupa untuk menyebut-NYA, bahkan kita terkadang seperti orang suci, berpakaian seperti orang arab dulu, menutup muka hingga seperti ninja, dan terkadang seperti sudah pasti masuk syurga dan menganggap yang tidak sesuai denganya adalah masuk neraka, bukan hanya itu, terkadang pula kita juga teertipu dengan akal kita hingga ibadah pun tak perlu cukup dengan menyebut saja sudah bisa mewakilinya, atau bahkan apa yang kita anggap benar itu adalah benar bagi Allah. wis pokoke akeh banget, yang penting ingatlah Allah dan jangan seperti diatas.

Mengingat Allah jangan anda maknai dengan menyebut namanya saja, akan seperti anak kecil jika kita memaknainya demikian, jangan-jangan kita selama ini memahaminya seperti itu, namun meski pemahaman kita seperti anak kecil saja terkadang masih lupa, dan hanya terpaksa ingat ketika sakit, ketika ada bencana, ketika doanya tak menjadi nyata, ketika butuh, ketika sengsara, pokoknya ketika nggak enak saja kita dalam kondisi yang nggak enak saja kita mengingatnya.

Allah,Allah,Allah aku menyebutmu dalam kondisi seperti ini.

Alliem,
Selasa, 26 april 2005
lagi puyeng mo ujian


[+/-] Selengkapnya...

Perkampungan Fir aun


Perkampungan Fir aun
Oleh : Mochammad Moealliem

Pharonic village, qoryah fir'auniyah dalam bahasa aslinya, sebuah perkampungan yang sengaja dibuat khusus untuk fir'aun-fir'aun tua dan para penggemarnya, nenek moyang yang memberi devisa besar-besaran untuk anak cucunya, hingga segala tingkah polahnya mampu merogoh dompet para wisatawan yang kagum dengan kecerdikan dan kebodohan fir'aun-ir'aun itu.

Perkampungan yang didesain rapi dengan memanfaatkan sebuah delta besar sungai Nile dengan menggunakan perahu untuk mengelilinginya dengan panduan suara praktis kaset dengan bahasa arab or english, perlahan perahu itu mulai menyusuri sungai buatan, dalam delta, ditengah sungai nil, jadi membuat sungai-sungai kecil ditengah sungai, mulailah si "kaset" itu menyebut tuhan orang Mesir kuno, yang berderet rapi dibibir sungai buatan itu, setiap 10 meter, tuhan buatan (tuhan orang mesir kuno buatan orang Mesir baru), berganti, mulai yang oziris,izis,horus,amun,ehnathun, dan tuhan-tuhan palsu yang lain.

Dengan gaya yang paten tuhan-tuhan palsu itu, tak bisa bergerak, tak bisa bicara, tak bisa marah, tak bisa melihat, kepala batu, tangan batu, tubuhnya juga batu, (maksudnya: arca) perahu pun baru menempuh setengah perjalannya, setelah perahu meninggalkan parkir tuhan-tuhan palsu itu, mulailah dengan pemandangan dengan gambaran sebuah kehidupan masyarakat era fir'aun yang dihidupkan oleh semacam opera live, yach orang mesir sekarang dengan memakai pakaian zaman kuno, dan akan berakting ketika perahu pengunjung lewat di depan gedung panggungnya.

Terlihat pertama kali sesuai dengan perjalanan perahu itu adalah pemandian istri fir'aun ditepi nile dengan para budaknya yang pada akhirnya menemukan seorang bayi yang terapung dalam peti serta terbawa oleh aliran nile waktu itu, itulah kisah Musa AS. sebuah gambaran singkat yang mewakili untuk kembali membuka sejarah tentang kisah Musa AS.

Beralih dari lokasi itu ada gambaran sebuah pertanian juga peternakan pada masa lalu, dengan diperagakan secara jelas oleh puluhan kambing dengan penggembalanya, serta dua sapi dalam satu rakitan yang menarik bajak untuk menggarap sawahnya, ada juga dengan cangkul kayunya, terlihat juga gaya pemilik tanah sedang memantau kerja para buruh taninya, ada juga yang mengambil air dari nile dengan alat yang masih sangat sederhana.

Beralih lokasi selanjutnya, adalah penimbunan bahan makanan dengan mengumpulkan gandum pada sebuah tempat yang sengaja dibuat untuk itu, disertai seorang ibu-ibu sedang membersihkan gandum-gandum dari daun- daun yang terbawa saat memanennya, lokasi selanjutnya pembuatan perahu dengan dahan-dahan yang mereka atur sedimikan rupa hingga bisa aman diatas air, selanjutnya lokasi pemancing, penjaring, dan para nelayan dalam mencari ikan, meski ketika kami lewat mereka mengangkat jaringnya yang banyak ikan yang terjerat dalam jaringya, ternyata ikan dari plastik (biar awet soalnya yang lewat bukan hanya satu perahu).

Lepas dari jaring ikan, kita memandang pabrik senjata, lalu kemudian lokasi pembangunan gedung, lokasi cara memumikan mayat, disusul pembuat pakaian, di sertai juga dengan pembuat perkakas dari tanah liat (lempung), pelukisan dinding, pemahatan, dalala (dan lain-lain).

Selesai sudah naik perahu selama kurang lebih 30 menit, sekarang merapat di depan sebuah tiruan ma'bat (tempat penyembahan) di luksor aslinya, (luksor : mesir bagian selatan dekat Sudan) kemudian kita dipandu seorang gaet untuk melihat dengan berjalan-jalan pada perkampungan tengah nil itu, yang tanpa ada penduduk aslinya, karena penduduk disitu sudah dibeli untuk akting, dan kalo dah waktunya istirahat pada kembali pada rumah aslinya, juga wajah aslinya, pakaian aslinya, dan melepaskan kepalsuan-kepalsuan yang berharga mahal itu.

Bangunan gedung pun dibentuk semirip mungkin meski tetap saja berbeda dengan aslinya, terhitung seperti miniatur tapi besar, putar-putar kami mengikuti langkah sang gaet, mulai dilihatkan keraton raja-raja dulu, serta technologi yang begitu lumayan, maksudnya waktu itu dibanding dengan Indonesia, ada sebuah pembatas waktu dari sebuah bejana dengan dua belas titiknya untuk mengetahui jam hari itu, dengan diisi air lalu ada lubang kecil tempat keluarnya dan setiap titiknya akan kering sesuai dengan tetesan air itu, wis pokoknya nggak ada yang canggih dibanding dengan sekarang.

Namanya juga tempat wisata tentu dijual pula aksesoris disana, dan kita pun dibawa sang gaet menuju sebuah mini pasar phie bukan peragaan jaman dulu, akan tetapi barang yang dijual berbentuk seperti barang dulu, lama berselang sang gaet kembali mengajak kita masuk pada makam tiruan raja-raja dulu, sebuah makam yang begitu besar dimana selain untuk menyimpan mayatnya sang raja, juga untuk menyimpan harta bendanya, yang kebanyakan berbuat dari emas, papar sang gaet.

Yach seperti itulah perkampungan fir'aun, pharonic village, qoryah fir'auniyah, yang kalau dibanding taman mini masih jauh banget, hanya karena hal itu mengandung unsur sejarah saja, sehingga banyak wisatawan penasaran, termasuk saya, namun saya kurang puas sebenarnya, bagaimana tidak? tidak ada peragaan bagaimana menyusun piramida yang besar,dimana ukuran batunya nggak tanggung-tanggung 2x1x1 meter, bagaimana menumpuknya sampai setinggi itu, bagaimana memahat spink yang besar yang menghias piramida besar di giza itu.

Alliem,

Ahad, 24 April 2005
menyegarkan pikiran menyongsong ujian

[+/-] Selengkapnya...

Dua Jam Untuk Menyeberang Jalan


Dua Jam Untuk Menyeberang Jalan
Oleh : Mochammad Moealliem

Percaya atau tidak untuk menyeberang jalan yang lebarnya sekitar 6 meter kali 2 jalur atau totalnya 12 meter untuk menuju tepi berikutnya menghabiskan waktu 2 jam, coba tebak jalan apakah ini?

Dua kali saya alami hal semacam ini, dimana waktu saya sangat terbuang percuma hanya untuk menyeberang jalan, hari jum'at yang lalu 11 maret 2005, tepat selesai menunaikan sholat jum'at di masjid rahmah di komplek perumahan el hayy el sadis (6th districk) tempat kawan-kawan satu almamater menyewa apartement, dulu aku pun disana, dan jalan ini pula-lah pada awal kejadian itu, hari jum'at terulang kembali meski dari arah yang berbeda.

Kondisi jalan baik-baik saja dua ruas jalur jalan dua arah tanpa selokan dikanan kirinya (maklum jarang hujan) tentu sangat mudah sekali untuk menyeberangnya dalam benak kita, anak kecil pun bisa dalam bayangan kita, namun pada saat itu seolah orang sekuat apapun nggak bisa menembus jalan itu, mobil yang besar-besar saja sampai berhenti memanjang seperti tak mampu menerjang jalan yang satu itu.

Jalan tak berpagar itu terlihat ada sesuatu yang luar biasa, ada semacam kekuatan yang tak boleh diganggu oleh siapa pun juga, saya sempat menggerutu "kenapa sih mau nyeberang saja kok susah sekali" akhirnya saya pilih naik sebuah bus kota yang kali aja mampu membantu saya untuk menyeberang dan membawaku balik ke apartemen saya, namun apa yang terjadi, ternyata sama saja, hanya bedanya, saya bisa duduk puas dalam bus kota sambil menikmati sebuah kemacetan yang membuat para sopir merasa dirugikan karena tidak bisa mencapai mahattoh (halte) tepat waktunya.

Ada apa sebenarnya dijalan itu? setelah saya lihat hingga bosan nggak ada kendaraan satu pun yang berlalu lalang dijalan itu, nggak ada kecelakaan, nggak ada bom, nggak ada apa-apa. namun disisi jalan terlihat polisi berbaris setiap dua meter ada polisi sambil membelakangi jalan dan menghadap kita yang mau menyeberang, pagar hidup itu tak mau tahu kalo saya terburu-buru dan harus menyeberang secepat mungkin.

Ratusan meter jarak pagar hidup itu diatanam secara mendadak bahkan jalan besar pun terpaksa ditutup, dan sempat ada yang tanya kapan ini jalan di buka, terdengar jawaban hanya seperempat jam, namun realita yang terjadi cuma seperempat jam lebih satu setengah jam, jalan ini sebenarnya sudah jauh dengan tempat yang menjadi pusat penjagaan para security.

Ternyata jalan itu ditutup hanya untuk menunggu lewatnya mobil presiden, sampai mobil itu lewat lagi untuk pulang, dan nggak boleh ada yang boleh menyeberang pada masa itu, sebuah kehormatan, untuk sang president yang begitu besar, sambil tak peduli ribuan hati menggerutu akan kemacetan tiban itu.

Namun kalau pun nanti aku jadi president mungkin aku juga begitu, nggak bakalan mau tahu siapa yang demo menentang kebijakan yang aku keluarkan, nggak mau tahu tentang tuntutan rakyatku yang memilih aku, moga aja aku nggak jadi presiden biar cukup jadi gubernur saja.

Kawan kalau kamu jadi president bersikaplah seperti president jangan bersikap seperti koruptor, kalau kawan jadi koruptor bersikaplah seperti pemberantas korupsi biar lebih aman, kalau mahasiswa bersikaplah seperti mahasiswa, pemerintah adalah musuh utama anda, dan jangan mau tahu apa-apa yang dibahas dalam kunjungannya. tugas anda adalah mengontrol pemerintahan, bukan malah di kontrol mereka.

Kini aku tahu enaknya jadi presiden dan tahu bagaimana rasanya tak punya kebebasan untuk menyeberang jalan, tapi aku belum tahu susahnya jadi presiden, lha wong belajar aja rasanya malas sekali.

Alliem


[+/-] Selengkapnya...

Masih Saja Ku Diam Seperti Dulu


Masih Saja Ku Diam Seperti Dulu
Oleh : Mochammad Moealliem

Minggu lalu 20 maret 2005, dalam sebuah diskusi bersama tokoh liberal Mesir dengan para mahasiswa mesir di aula wisma nusantara, dengan tema kritik liberalisme dan konservatisme, dirancang sebelumnya duduk bersama Dr. Hasan Hanafi (tokoh liberal) bersama pemikir muda al azhar namun akhirnya Hasan Hanafi cukup bersama rois al jalsah (moderator) sebab duktur Al azhar tidak bersedia hadir satu meja dengan tokoh liberal itu.

Dengan diawali dua pembicara dengan berbahasa Indonesia, yang menjelaskan tetek bengeknya tentang pemikiran-pemikiran mulai yang liberal sampai yang radikal, juga mencoba menjelaskan pemikiran-pemikiran Hasan Hanafi yang tertulis pada buku-bukunya yang begitu menggoda untuk membaca judulnya, namun akan pusing kalo baca isinya.

Terlihat ruangan wisma penuh dengan para mahasiswa baik baru maupun lama, terbesit pada sorot mata penasaran seperti apakah tokoh yang se liberal Hasan Hanafi bagi yang baru datang, bagi yang sudah lama kelihatanya hanya sebuah penasaran atas pemikiran-pemikiran itu, dan mungkin sudah membawa banyak bekal pertanyaan yang akan diajukanya nanti, dan bagi saya hanyalah sebuah pengetahuan yang tidak harus saya makan mentah-mentah atau mungkin saya masih kurang setuju dengan pemikiran liberal yang menjalar itu.

Dua jam waktu yang diberikan Hasan Hanafi pada panitia, panitia pun kelihatanya tahu kalo banyak peserta yang sudah mengantongi pertanyaan, tanpa banyak basa-basi atau mungkin tidak bisa sebab terkadang peserta dibuat tertawa melihat sang moderator yang kadang-kadang mencampur bahasa arab fushah dengan ammiyah, sekitar satu jam Hasan Hanafi memberi presentasi gratis untuk para peserta diawali dengan sindiran yang begitu membuat kita menertawakan diri sendiri, dengan gaya yang santai hasan hanafi bilang " di Indonesia itu Ihya Ulum addin menjadi kitab nomor dua setelah al Qur'an" serentak para peserta tersenyum sambil tertawa (tertawa setengah hati).

Tidak banyak yang bisa saya rekam dalam benak saya, disamping bahasa arab yang membuat kepala agak pusing mendengarnya selama satu jam, sambil mencoba meraba makna yang sesuai maksud pembicara, yang jelas hasan hanafi mencoba menjawab tantangan zaman, agar umat Islam tidak kalah dengan non Islam, Hasan Hanafi juga menegaskan bahwa liberal tidak menghalalkan yang haram, pun juga tidak meninggalkan sholat, atau dalam istilahnya tidak meninggalkan syariat islam.

Banyak disinggung tentang faham Asy ariyah, tentang al Ghozali, dan tokoh-tokoh lain, dan terlihat kurang setuju dengan pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh orang-orang asy ariyah, dan lain sebagainya.

Satu jam berselang dimana Hasan Hanafi menjadi penceramah tunggal tanpa pembanding, lalu kemudian tiba waktunya pada dialog atau sesi tanya jawab, sepintar apapun kalo mahasiswa masih kalah dengan doktor yang pinter, itulah mungkin yang saya lihat dalam sesi itu bagaimana pun bentuk pertanyaan yang diajukan, baik yang menentang maupun yang minta penjelasan terjawab oleh Hasan Hanafi, hanya beberapa soal yang tidak dijawabnya sebab tidak sesuai maudlu' yang disajikan.

Dalam dua jam itu teman-teman tambakberas (fismaba) dan saya termasuk disitu, belum mampu melempar sebuah pertanyaan, memang rasanya masih minder atau bahkan kita tidak faham sama sekali apa-apa yang sedang dibahasnya, bahasa arab kita-kita masih saja lemah, dan hanya berani berhadapan dengan tukang sayur atau servis telephon ke Indonesia, belum mampu berhadapan dengan se level doktor, padahal Hasan Hanafi terlihat memaklumi kelemahan bahasa para mahasiswa yang terkadang seperti susah ngomongnya, maklum ngomong sambil mikir susunan kata di tambah meraba maknanya belum lagi mengingat apa yang mau di tanyakan, asyikkan?

Mungkin saja kalo Hasan Hanafi bisa berbahasa Indonesia mungkin kita akan menghujani dengan berbagai pertanyaan, namun itu juga kemungkinan, dan kemungkinan yang lain akan tetap saja diam seperti itu.


[+/-] Selengkapnya...

Sang Guru 1


Sang Guru 1
Oleh : Mochammad Moealliem

Pagi itu pukul 9.00 waktu setempat udara masih terasa segar yang berlebihan atau masih musim dingin yang sebentar lagi menginjak musim panas, hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang dengan kecepatan agak lebih akibat masih sepi dan kemacetan belum begitu berarti, terlihat banyak pejalan kaki dengan kecepatan yang lebih dibanding kecepatan pejalan kaki di Indonesia atau kira-kira 8 meter per 5 detiknya, mungkin disebabkan kedinginan atau faktor yang lain yang menjadikan gaya jalan penduduk setempat begitu cepat baik cowok maupun ceweknya.

Adalah Mesir, dimana akan anda jumpai masyarakat penggemar roti cakram (meminjam istilahnya gus dur dalam buku tuhan tak perlu di bela) atau roti gandum yang bentuknya seperti cakram dan menjadi makanan utama bagi mereka dan tanpanya seolah tidak makan apa-apa. full (kacang) adalah sebuah sebutan sambal pemdamping roti cakram dalam menu santapan pagi mereka, yang terbuat dari kacang entah bagaimana cara buatnya, kata mereka adalah makanan yang paling enak di dunia (biasa gaya mujamalah mereka suka disanjung pun juga suka menyanjung) dan bagi kita yang disini untuk bisa bersahabat dengan makanan itu membutuhkan waktu yang lama.

Jalabiyah adalah pakaian mereka, kalo orang Indonesia bilangnya jubah, namun anda jangan menganggap kalo yang pakai jalabiyah itu mesti orang Islam, sebab itu bukanlah atribut islam akan tetapi atribut arab, dan bangsa arab agamanya bukan Islam saja. Bahasa arablah bahasanya namun jangan menganggap apa yang berbahasa arab adalah al qur'an dan terkadang musik disko pun terputar di masjid-masjid Indonesia karena dianggapnya, itu lagu-lagu Islami, dan jangan heran kalo Injil pun ada yang berbahasa arab.

Bahasa arab memang mudah bagi masyarakat arab anak kecil pun bisa, kata temanku waktu bercanda waktu kecil dulu, namun ternyata bahasa arab adalah sulit bagi masyarakat arab, dalam artian yang sesuai dengan tata bahasa arab atau dikenal dengan nahwu dan shorof di Indonesia, mereka faham ketika membaca atau mendengar bahasa fushah (sesuai dengan kaidah bahasa) namun seolah sulit sekali mengatakan hal itu, seperti sulitnya seorang cewek mengatakan perasaan dalam hatinya.

Bohong adalah hal yang paling jelek bagi mereka meski mereka bohong tapi nggak bakalan mau kalo dikatakan pembohong, insyaalloh adalah iya bagi mereka, kalo tidak yach tanpa memakai insyaalloh, marah-marah dan adu mulut adalah pemandangan biasa dikalangan mereka namun asyiknya setelah itu rukun lagi seolah nggak ada dendam antara mereka, adu pukul adalah barang yang jarang terjadi mengingat hukum begitu keras pagi pelanggarnya.

Mengucap salam seolah wajib bagi mereka, dimana pun kalo ketemu pasti mengucap salam, sampai masuk angkutan itu mengucapkan salam, dan yang mengucapkan salam seperti itu bukan orang islam saja, namun orang Masihi (Kristen) pun begitu, jadi jangan heran dengan hal hal semacam itu,

Rumah susun (ala Indonesia) itulah model rumah mereka, sangat langka rumah yang pribadi seperti kebanyakan di Indonesia, rumah pesegi empat dan hanya satu pintu untuk masuk keluar yang menghadap tangga dengan santainya mereka hidup berkeluarga.

Adalah Nile sungai terpanjang didunia, yang menjadi tumpuan kehidupan mereka dengan di saring dan dialirkan secara teratur di negara ini nggak seperti PDAM, mengalir dengan derasnya meski berada di lantai 6 atau lebih dan sangat murah harganya perbulan paling-paling 10 ribu rupiah per bulanya, namun kalau sampai ada saluran yang rusak soalah air bagai emas yang mahal dan sulit dicari sebab nggak ada sumur bor atau sumur gali.

Piramida adalah aset devisa mereka dalam bidang pariwisata didukung mummy yang selalu saja ditemukan yang baru-baru, sampai mummy fir aun pun ada, ( fir'aun: adalah gelar raja) kalo yang terekam dalam Al Qur'an ada yang mengatakan dia adalah putra dari ramsis 2, yang mumynya ada dimuseum, akan tetapi mummy fir'aun yang dalam alqur'an sebagai tokoh yang berani-beraninya mengaku tuhan tidak ditemukan mummynya meski ditemukan tempat dimana makamnya dsembunyikan oleh kaumnya sebab matinya tenggelam dilaut.

Adalah Al Azhar lembaga pendidikan yang merekam banyak sejarah dalam dinding-dindingnya, Azhary sebutan bagi para pelajar azhar, adalah ulama azhar namanya mereka yang sudah pinter-pinter dalam bidang agama yang sejak kecil belajar di azhar sampai selesai mulai dari ibtida'i azhar (MI), I'dadi azhar (MTS), Tsanawi azhar (MA), S1 azhar, S2, S3, pokonya yang pinter-pinter, dan punya ciri khas tersendiri diantaranya, dalam berpakaian biasanya memakai kopyah merah dibalut dengan sorban putih, dalam bicara berbeda dengan orang-orang biasa, dan kalau bicara jujur dan dapat dipercaya.

Tak seindah universitas indonesia campus al azhar, namun terdapat banyak orang-orang ikhlas dalam mengajar para anak didiknya, berbalik jauh dengan Indonesia yang para guru ditakuti, disini kebanyakan dosen tidak marah meski datang terlambat, keluar masuk para murid ketika dalam penyampaian materi tidak termasuk dalam daftar blacklist, terlebih bagi para pelajar asing kaya kita-kita ini yang kurang faham ketika penyampaian materi dengan bahasa ammiyah (bahasa pasaran)terkadang memberi waktu khusus untuk para ajnaby (foregner)setelah waktu yang terjadwal, dengan keinginan kita-kita faham beliau menerangkan berulangkali terkadang terlihat suara yang serak akibat bersuara terus.

Bukan itu saja terkadang dosen-dosen atau duktur (ala mesir)mereka ada yang buta, ada yang cacat kakinya tinggal satu, namun mereka disiplin dalam menyampaikan materi, kalo mahasiswanya memang sangat beraneka ragam mulai dari bermacam negara, warna kulit, bahasa, madhab, dan lain sebagainya, yang cacat juga ada, yang buta juga ada, dan aku pernah bertanya padanya sewaktu aku hendak pulang dan ketemu dia, lalu minta diantarkan kerumah persewaan nya (apartemen), aku tanya padanya bagaimana cara belajarnya, dia bilang dengan mendengar baik langsung maupun dari kaset dan sejenisnya, dan kalo dalam ujian dia dengan lisan langsung, soal dibacakan dan jawaban dia keluarkan.

Mungkin itulah Mesir yang terlihat indah oleh lampu malamnya, dan terlihat kumuh pada siang harinya,


Alliem
Sabtu,12 maret 2005


[+/-] Selengkapnya...

Sang Guru 2


Sang Guru 2
Oleh : Mochammad Moealliem

Sambil berjalan-jalan tanpa arah di lokasi asrama kulangkahkan dua kakiku satu persatu sambil mulut komat-kamit, mata melirik lembaran kecil yang aku buka perlahan-lahan dengan harapan apa yang aku lirik bisa langsung hafal dan tak ingin aku lupa akan hal ini, tanpa tujuan yang pasti seperti keadaan udara yang berhembus meniup dahan-dahan kering tanpa daun yang banyak tumbuh disekitar lokasi asrama yang cukup besar itu.

Sore itu aku ingin tahu realita sebuah pengumuman yang sering muncul ditepi jalan dimana aku berlalu lalang ria, tertulis dipengumuman singkat itu, sore ini ada nadwah al ammah ( seminar umum) di masjid an nur di daerah Abbasiyah, tanpa aku ingat apa temanya saat ini dan siapa pembicaranya aku arahkan kakiku yang tak terarah itu agar membawaku ke masjid asrama dimana biasanya mobil jemputan akan parkir disitu.

Berselang beberapa menit dimana aku sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan sebuah pohon yang begitu liberal ( nggak ada daunnya) bergoyang seolah tak perlu berfikir akan kemana dia terbawa arus hembusan angin yang belum bersahabat dengan lengan pendek musim panasku. Terlihat mini bus datang dan sudah bisa aku pastikan itu mobil jemputan yang aku tunggu.

Satu orang turun dari mobil itu, senbari sang sopir memutar badan mobil agar mudah kita untuk memasukinya, terdengar panggilan yang berasal dari speker yang tergantung di atap masjid itu. "Para tholib sekalian bagi siapa yang hendak mengikuti seminar dimasjid annur, mobil telah siap didepan masjid" itu terjemah singkat dari panggilan itu, tak lama kemudian temen-temen masuk dan aku pun ikut masuk dengan sebuah suguhan langsung sebuah buku (kitab) tanpa aku tanya ini dari siapa dan untuk apa?.

"Al fikr al islamy al mutawazin" itulah sebuah kalimat yang terpampang besar di sampul buku yang di terbitkan oleh kementrian wakaf majlis al a'la li syuun al islamiyah, aku bolak balik buku itu barangkali ada judul yang unik dan menggelitik namun belum aku temukan apa yang aku cari mobil mulai berangkat dengan membawa sekitar 20 mahasiswa yang aku pun tak tahu dari negara mana saja dia, yang aku lihat ada sekitar 5 mahasiswa Indonesia. maklum saja sebab acara seperti ini dilakukan setiap hari minggu, jadi bagi kebanyakan mereka sudah males ikut-ikutan seminar.

Sambil menikmati warna jalan yang begitu warna-warni dengan cat alami masyarakat setempat sambil mencari sebuah rambu-rambu yang bisa menjadikan lalu lintas itu tertib, mobil berjalan dengan kemauan sopir tua itu, tiba pula akhirnya di masjid yang terhitung besar dan memiliki dua menara yang menjulang kelangit begitu tinggi melebihi tinggi rumah susun 12 lantai daerah sekitar.

Waktu masih begitu longgar untuk menghilangkan sebuah penasaran, seorang teman mengajakku ke perpustakaan masjid yang berada di lantai bawah masjid besar itu, ternyata ada perpustakaan besar yang begitu tenang meski banyak terdengar suara membolak-balik kertas-kertas tua yang tertata rapi layaknya toko buku.

Dalam kenikmatan melirik catatan dalam kertas-kertas itu, ternyata magrib pun selalu on time datangnya, dengan segera kembali keatas sebab habis magrib seminar itu dimulai, kupandangi mobil-mobil sejenis yang menjemputku berbaris rapi dengan sehelai kertas menempel pada kaca depannya, tertulis daerah-daerah yang menurut dugaan saya adalah daerah penjemputan mobil itu.

Rasa heran muncul pada diri saya ketika masuk masjid mendapati orang-orang yang berkopyah merah dibalut sorban putih yang begitu banyaknya, sambil berbisik aku lempar pertanyaan pada kawanku "bukankah mereka ini para ulama azhar?" iya, jawabnya singkat.

Penasaran itu pun belum berhenti sampai acara itu selesai "kenapa banyak sekali orang-orang itu disini adakah rumahnya didekat sini?".

Sebelum penasaranku terjawab, mulailah acara yang bernama nadwah itu bertempat dibangunan masjid besar itu dibagian ruang nadwah, yang tersusun seperti gedung bioskop dengan ac yang ebgitu terasa sejuk, kursi yang begitu banyak pun mulai terpenuhi, dan para ulama azhar terilihat dominan sekali dalam ruangan ini sekitar separoh ruang yang luas itu, seperempat diduduki wanita dan perempuan, seperempatnya lagi umum dan kita termasuk yang umum.

Acara pun dimulai dengan diawali seorang moderator yang terlihat begitu menggebu dalam berbicara, duduk disampingnya pembicara hari itu, dan dua orang-orang azhary, salah satunya adalah imam masjid sayidah nafisah yang menjadi pelantun ayat-ayat suci alqur'an waktu itu, bisa saya pastikan dia hafal qur'an beserta lagu-lagu qiroatnya.

Terlihat begitu merasuk dalam dada berbeda sekali dengan lantunan yang tedengar dalam seminar-seminar yang lain, acara pun bergerak lembut searah dengan putaran waktu, pembahasan atau tema yang sedang dibicarakan sepertinya tentang jiwa besar sayyidina umar dan ditengah-tengah ketegangan otakku yang menjadi juru terjemah bagi diriku sendiri yang tergolong masih amatir dan terkadang kehilangan konsentrasi gara-gara indraku masih saja melakukan pengamatan tentang sesuatu yang bertolak belakang dengan seminar tersebut.

Gerrr...tertawa atau pun tersenyum bersama menganggu pengamatanku dan aku bingung haruskah aku tertawa ataukah hanya tersenyum untuk mengungkapkan sesuatu yang tak mampu aku ungkapkan dengan lisan kecilku. Bahasa yang dipakai terlihat didominasi bahasa ammiyah di topang dengan kecepatan bicaranya yang membuatku kalang kabut, bagi orang sekitar laa musykilah (tak masalah) tapi bagi kita musykilah 'awi ( asalnya Qowy dibaca 'awi ) masalah banget. dengan tidak begitu faham dengan yang dibicarakan namun aku bisa membedakan mana bicara dan mana sastra.

Syair-syair (mungkin aja jahily) terlantunkan yang bagi mereka akan mudah memaknai sesuatu yang tersirat dari puisi atau syair itu, namun bagi saya hal itu memberi sebuah keilmuan tentang syair-syair lalu, yang sepertinya hanyalah remeh namun terkadang hal itu menjadi hujjah atau dalil orang orang sekarang, kenapa hal itu bisa terjadi? para ahli tata bahasa arab tentunya lebih pandai membuat syair-syair seperti ini, seperti pengarang 'imrity atau pengarang alfiyah yang syairnya pernah menjadi kewajibanku untuk menghafalnya meski sekarang ada beberapa yang lupa.

Ternyata para penyair itu membuat syair bukan hanya karena kebanyakan melamun, seperti pengarang imriti menjadikan metode tata bahasa dalam sebuah sastra dengan harapan mudah dibaca serta difahami, imam Syafii ternyata juga pandai bersyair, itu orang-orang yang lalu ada yang beranggapan begitu, akan tetapi saya rasa tidak seperti itu, buktinya dalam sebuah seminar itu ada seorang peserta dalam sesi tanya jawab memberikan syair yang dia karang spontan ada sekitar 5 bait syair tentang baharnya saya kurang jelas mungkin kita perlu taqteq dulu.

Satu jam berselang dalam ruangan yang penuh dengan bahasa arab, otak panas adalah wajar dan pengen saja aku cepat-cepat keluar dari ruangan itu biar mendapat udara segar,buru-buru kepeninganku mengajakku bertanya pada temenku yang kebetulan duduk didepan kursi yang aku duduki, "Sampai jam berapa?" tanyaku padanya. Sampai Isya' jawabnya singkat, akhirnya aku terpaksa mempelototi jam yang aku tempel tangan kiriku, sebentar lagi akan seslesai acaranya dalam benakku. Namun apa yang terjadi?.

Jawaban bisa anda kirim ke email saya, jika benar berarti anda pernah mengalami hal semacam ini.

Terlepas dari apa yang sedang terjadi, setelah waktunya pulang apa yang menjadi penasaranku sedikit ada jawaban ternyata para ulama-ulama azhar itu bukan hanya dari sekitar itu saja akan tetapi mreka pun sama dijemput dan diantarkan kembali setelah selesainya acara ketempat mereka sesungguknya, dan tentunya kita-kita juga seperti itu.

alliem
bagi-bagi cerita ceria


[+/-] Selengkapnya...

Sang Guru 3


Sang Guru 3
Oleh : Mochammad Moealliem

Seputar Campus


"Enta bita'mil ih yabny" dengan nada datar orang itu bertanya pada aku dan seorang temanku, namun karena aku nggak begitu jelas lalu orang itu mengulang pertanyaannya dengan yang lebih resmi "madza taf'al"? (apa yang kerjakan) dengan senyum malu aku jawab "ana ashuf bass" (aku cuman liat-liat) itulah diskusi singkat dengan penjaga perpustakaan ushuluddin al azhar university.

Waktu itu ceritanya aku sedang kuliyah, meski mataku terlihat agak redup akibat tidur yang kurang, dengan buru-buru aku berangkat kuliah setelah sarapan sedikit roti, sampai dikuliah aku langsung cari tempat duduk sebab biasanya aku nggak bisa masuk ruangan kalo dosennya sudah hadir, sebab mata kuliyah yang satu ini memang begitu menggoyang otak, tidak cukup rasanya hanya membaca diktat yang ada.

Ruang yang begitu sempit (dalam ukuran ruang kelas internasional) makin sempit lagi ketika meja kursi ikut nimbrung didalamnya, meski sekitar 6x8 meter ruang itu, tetap saja tak mampu menampung mahasiswa yang kuliah hari itu, sebenarnya sudah dibagi menjadi 6 ruang namun mereka bebas mau ikut dosen yang mereka suka, nah kalo saya dosennya siapa saja yang penting modelnya sama, ketepatan waktu itu banyak yang mengejar materi ini, so fenuh menn!.

Kuliyah pun berjalan dengan tenang dalam artian mereka yang penuh sesak dalam ruang itu benar-benar menyimak dengan methentheng (serius) meski sampai berdiri dibibir pintu dan gaya-gaya lainnya. Adalah biasa jika mahasiswa mempersempit ruang gerak para dosen (ruang untuk berjalan-jalan) sebab saking penuhnya sampai pada duduk dekat dosen atau satu meteran dengan jarak dosen menyampaikan materi kuliyah.

Lintas warna kulit, bahasa, madzhab, kewarganegaraan, terlihat mewarnai ruangan itu, materi pun berjalan dengan cepat, meski kadang terpotong pertanyaan mendadak dari para mahasiswa itu, akhirnya satu materi pun selesai dan segera dengan materi lain. namun ada yang memberi informasi materi yang selanjutnya berada di mudarroj (aula) lantai 1 atau seperti gedung bioskop namun berjenis biasa atau berlantai dan berkursi kayu, akhirnya aku dan temenku turun dari lantai 4 menuju mudarroj lantai satu sebab setiap lantai dalam fak.ushuludin memiliki banyak ruang kelas dan satu mudarroj.

Sampai di mudarroj ternyata masih di pakai pada mata kuliyah yang sama dengan ruangan yang baru aku tinggalkan namun dengan dosen yang berbeda, ruangan yang lebar itu (sekitar 20x16 meter) menjadikan ruangan kelas kosong, sebab pada ngumpul di ruangan yang besar itu, meski kurang begitu jelas suara dosennya waktu itu, sebab sound sistem nggak layak pakai waktu itu, namun penyampaian materi tetap berjalan normal sebab pada methentheng.

Sambil menunggu sesi berikutnya aku pun ikut nimbrung sekalian disitu, namun tak lama kemudian mata kuliyah itu selesai juga, lokasi pun agak lebih longgar namun setelah agak lama aku tunggu namun belum juga mulai materi ini, akhirnya aku coba turun lagi kelantai bawah tanah yang terdapat perpustakaan besar disitu, aku pun masuk bersama temenku. aku sempat heran melihat koleksi buku-buku yang begitu banyak mulai dari yang model cetakan lama sampai model yang baru tertata rapi meski agak berdebu maklum disitu adalah tempat tempat mangkal mereka yang sedang menulis pada program s2 maupun s3.

Ruang perpust yag setara dengan mudarroj itu (maklum tepat berada dibawahnya) terpenuhi dengan barisan ide-ide bisu yaang perlu dibaca agar menjadi hidup, terlihat di ruang baca bebapa orang Indonesia juga orang mesir juga yang lain sedang memindah tulisan yang mereka butuhkan untuk mendukung karya-karyanya mereka menikmati buku-buku tua itu.

Setelah puas aku melirik judul yang terpampang disampul tanpa membaca isinya kuajak temanku kembali keatas, namun tatkala kami keluar dari perpust itu penjaga perpust itu bertanya pada kami yang kembali dengan tangan kosong (nggak ngambil buku untuk di baca diruang baca) lalu mereka berkata seperti yang aku tulis di atas.

Belum sempat menginjak tangga aku dan temanku mendapati ruangan perpust lagi dibagian yang berlawanan dengan yang baru saja aku masuki kami pun tak mau di ganggu oleh sebuah penasaran, akhirnya kami menuju kesana, baru masuk pintu ruangan itu seorang penjaga langsung berkata: "ruangan sedang dipakai muhadloroh". tanpa pikir panjang aku urungkan niat kami untuk mengulang peristiwa yang baru terjadi diruang sebelahnya tadi. Dan memang benar apa yang penjaga katakan terlihat dosen yang mengajarku pagi tadi masuk kesitu mendahuluiku beberapa langkah dan terlihat langsung menghampiri kumpulan mahasiswa yang sedang menunggunya diruangan baca yang kebetulan berada satu lokasi dengan buku-buku yang tertata rapi disana.

Kalau dipikir sebenarnya kalau mau pinter itu teorinya sangat mudah, tinggal sering-sering baca lalu mendiskusikan, namun pada prakteknya hal itu terasa susah, nggak susah bagaimana? kalo membaca aja males mana mungkin bisa mendiskusikan, paling banter jadi penonton plus pendengar setia yang tanpa tahu apa yang dibahas itu sesuai atau tidak, itulah yang kualami dulu dan sampai kemari waktu ikut bahsul masail di PCINU mesir, padahal aku lihat mereka juga sama-sama seperti aku, yach nggak seberapa takut lah aku dengan mereka, mereka juga nggak membawa lembaran ta'bir mereka tentang yang dipersoalkan.

Hanya beberapa saja yang membawa catatan pendukung atas pendapatnya ada juga yang memakai gaya putar-putar untuk mengganti ta'bir yang lepas dari catatan mereka, namun aku masih saja kembali diam, dan kembali muncul rasa takut salah padahal diakhir acara ternyata bahsul masail itu hanya untuk melatih kita untuk bisa istinbatul hukm bukan memutuskan hukum, sebab mereka dan aku masih terlalu bodoh untuk merumuskan hukum, yach itulah catatan kebodohanku yang masih stagnan.

alliem
Sedang melihat debu yang menari




[+/-] Selengkapnya...

Cuaca cairo tidak sehat


Cuaca cairo tidak sehat
Oleh : Mochammad Moealliem

Selalu tidak puas itulah sifat umum manusia dunia, tak terelakkan termasuk kita semua yang berada di "umu dunya" the mother of world, ibune dunyo, kata orang solo dan lain sebagainya, negeri yang kaya akan sejarah ini ternyata memang unik dan klasik, penuh dengan beragam tokoh-tokoh tingkat dunia dan akhirat.

Ketika anda mendengar Mesir tentu ingatan-ingatan bawah sadar kembali tereproduksi dari otak anda, dan terbayang dengan piramidanya yang berdiri kokoh sejak 2000 SM dari situ akan mengajak otak anda mengingat dinasti fir'aun yang sampai dalam alqur an menjadi tokoh antagonis dalam drama kehidupan dunia, belum lagi sungai nile nya yang membelah dataran pasir yang gersang.

Negeri para nabi, itulah salah satu julukan dari berbagai julukan seperti umu dunya, negeri kinanah, dan masih banyak lagi yang selalu dibangga-banggakan oleh masyarakatnya yang punya rasa nasionalisme yang tinggi dibanding dengan yang lain, yang bangga dengan kondisi yang apa adanya, selalu mengatakan mesir adalah negeri terbaik di dunia "ahsan al bilad fi al 'alam" kata para sopir taxi yang notabene nggak pernah kemana-mana, tapi saya salut melihat kecintaan mereka pada negerinya, padahal untuk menanam rumput saja harus mengimpor tanah dari perkampungan tepi nil dan masih terus disiram tiap hari seperti menanam padi di Indonesia.

Memang banyak nabi-nabi yang datang ke Mesir bahkan banyak juga yang di makamkan di mesir seperti nabi Harun AS, nabi Sholeh, nabi Danial, dan lain sebagainya, peninggalan peninggalan yang masih menjadi saksi sejarah pun berserakan sampai tak terurus, ada jabal musa atau terkenal dengan Turisinai tempat dimana Musa AS menerima wahyu atau tatkala kaumnya mendesak untuk melihat Tuhannya dengan mata kepalanya sebagai syarat beriman atas ajakan musa pada masa itu, ada pula semacam bekas sapi emas nya musa samiri yang tergores oleh batu di tepi pegunungan sant katerine ( nama saat ini ) dan didaerah situ pula terletak makam nabi Harun dan nabi Sholeh.

1000 an tahun yang lalu pun berdiri yang bernama Al Azhar sebuah sarana pendidikan yang didirikan bani fatimiyyah dan beraliran syiah dan kemudian diambil alih oleh Sholahudin al ayubi dan berganti aliran menjadi sunni hingga saat ini, sarana pendidikan yang unik, santai, namun untuk menyelesaikan memerlukan kesabaran, keuletan, belajar yang lebih, dan usaha usaha yang lain, sebab menghadapi sesuatu yang unik perlu hati-hati dan sabar, bila tidak keunikan itu akan menjadi tak bernilai.

30 hari lagi mungkin masyarakat dunia akan merayakan pesta tahunan berupa new year atau tahun baru, tak ketinggalan bagi para mahasiswa Al Azhar dan acaranya digelar bukan cuma satu atau dua hari namun hingga 15 hari bahkan bisa lebih, ribuan mahasiswa akan menikmati pesta soal-soal ujian termin awal ( semester musim dingin ) dengan cuaca panas diotak dan dingin sekali diselain otak.

Cuaca Cairo memang tidak sehat untuk mengembangkan budaya pesta tahun baruan, dan kurang sehat untuk kesehatan badan bila tidak memperhatikan apa-apa yang mesti digunakan dalam kegiatan sehari-hari, sebab cuaca nya yang dingin terasa menembus tulang dan bisa mengakibatkan tulang keropos, maka untuk yang baru di Mesir kalau mandi pakai air hangat, banyak minum susu, memakai pakaian hangat, banyak makan buah, biar keshatan anda ketika kembali ke kampung tidak berkurang.

Kalam akhir, selamat menikmati diktat kuliyah yang menumpuk, waktu anda tinggal dalam hitungan detik ( beribu-ribu detik ) kurang dari 30 hari, anda mesti menghadiri pesta soal dan ingatlah tiada yang dapat menolongmu selain yang di SANA. mari kita doakan diri kita dengan mendoakan teman-teman kita yang sama-sama berenang dalam samudra keilmuan semoga cepat sampai pada tepi dimana banyak kehidupan menanti dengan berbagai persoalan.

اللهم اكرمنا بنور الفهم واخرجنا من ظلمات الوهم
ورزقنا قهم النبين وحفظ المرسلين والهام الملاء كة المقربين
اللهم نجحنا فى كل الامتحان


[+/-] Selengkapnya...

Awal bulan yang berbeda


Awal bulan yang berbeda
Oleh : Mochammad Moealliem

Ada yang beda dengan 1 ramadhan dan 1 syawal, dalam artian antara di Mesir dan di Indonesia, jika di Indonesia kita bingung kapan awal puasa dan kapan hari raya di Mesir tidak seperti itu. Di Mesir sangat mudah menebak kapan hari raya atau kapan awal puasa asalkan punya kalender pasti tahu kapan hal itu terjadi sebab belum aku jumpai hal seperti di Indonesia yang berbeda-beda soal awal bulan.

Suasana hari raya pun beda sekali dengan di Indonesia yang semarak ramai, jalan penuh sesak para pemudik dan bermacam-macam kegiatan hingga terasa hari raya adalah sebuah pesta nasional yang penuh dengan kegembiraan, namun kalau kita di Mesir rasanya sepi-sepi aja, layaknya hari biasa hanya saja saat itu melakukan sholat pagi dan dihari biasanya tidak seperti itu..

Ramadhan bagi orang Mesir adalah bulan yang agung, bulan suci, bulan pengampunan, bulan taubat, dll sepanduk-sepanduk ajakan dakwah terpampang dimana-mana, bahkan ada semacam rambu-rambu jalan yang tak ku jumpai sebelumnya bertuliskan " la tansa dzikrallah" atau "udzkuru llah" , di hampir setiap masjid terpampang tulisan "maidaturrahman" atau buka bersama yang diberikan cuma-cuma oleh para pengelola masjid dari dana zakat yang terkumpul di masjid tersebut, menu yang mereka sajikan pun bermacam-macam dari yang biasa sampai yang istimewa hanya saja rasa masakannya berbeda dengan Indonesia.

Di akhir bulan ramadlan biasanya banyak musa'adah atau bantuan yang diberikan pada mahasiswa asing entah berupa uang maupun bahan-bahan makanan dan kadang pakaian bisa juga kitab dan lain sebagainya, namun tidak semua mahasiswa kebagian sebab yang kebagian hanya mereka yang waktu itu berada di lokasi, jika tidak dilokasi tentu tak akan kebagian, sebab jumlah mahasiswa asing di Mesir sangat banyak. kecuali kalo bantuan-bantuan tersebut di khususkan bagi mahasiswa Indonesia biasanya di bagi oleh PPMI organisasi induk mahasiswa indonesia di Mesir. Seperti terjadi diawal ramadlan kemarin dengan membawa paspor dan melihat daftar namanya di catatan kekeluargaan ( orda ) yang mereka ikuti setelah itu di beri satu paket berupa beberapa kilo beras, gula, teh, minyak goreng, yah lumayan untuk mengurangi anggaran belanja harian.

Memang lebaran di Mesir penuh dengan kerinduan akan tanah air, keluarga dan sanak family namun kita disini sedikit terobati oleh kegiatan yang diadakan pihak KBRI berupa Sholat ied bersama, entah bertempat di halaman KBRI atau kadang menyewa lokasi yang luas dan kita pun dijemput dari tempat kita menuju lokasi acara, di sana kita bertemu sesama orang-orang Indonesia baik yang mahasiswa maupun keluarga, menu yang disajikan bervariatif dari tiap daerah di hidangkan pokoknya terasa dech...... kalo Indonesia banyak modelnya.

Belom lagi ada open house bapak-bapak pejabat KBRI dan kadang kekeluargaan ada juga teman-teman sendiri pokoknya asal nggak malas muter-muter pasti dech ceria sedikit di hati, namun memang waktu terus maju dan sebentar lagi kita dihadapkan dengan ujian sementara diktat yang turun belum selesai kebaca semua, terpaksa mereka banyak mengurangi waktu keluar rumah, lebih baik baca buku katanya, daripada cuman cari hiburan, maklum bukunya tebal-tebal dan dobel tiap materi belom lagi bahasanya beda dengan jawa, wah pokoknya mumetz dech kalo nggak nabung kosa kata, belom istilah-istilah bayangin aja dech.

Kawan gimana lebaranmu disitu? pasti seindah bayanganku, wah itu aja dulu yeach lain waktu aku tulis lagi apa yang sedang dan telah terjadi dan ingatlah tulisan ini hanya sebatas apa yang aku tahu jadi belum bisa dikatakan benar.

terima kasih,

Alliem

akhir min ramadlan
Jum'at, 12 novenber 2004

[+/-] Selengkapnya...

Ramadlan di Timur Tengah


Ramadlan di Timur Tengah
Oleh : Mochammad Moealliem

Assalamu alaikum. wr. wb.

Teman-teman yang berbahagia bersama ramadlon yang ceria, dimana saja tentu anda punya kesan yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tak kalah menariknya bila anda berada di Mesir kala bulan ramadlon seperti ini.

Suasana Mesir memang saat ini sedang panas dingin, atau dalam perubahan cuaca dari panas menuju dingin, angin bertiup kencang dan tak nyaman untuk kesehatan, polusi kendaraan tak mau kalah dengan dengan debu yang beterbangan sambil bernyanyi hiruk pikuk suasana kota Kairo, diselingi dengan opera para pembalap mobil amatiran yang kala merusak mobil orang, terjadilah kemacetan beberapa menit untuk melakukan adu mulut ditengah jalan dan berakhir dengan kata "ma'alisy" atau maaf kata orang Indonesia.

Kehidupan sehari-hari terasa berbeda jauh dengan Indonesia, sekolah-sekolah, sampai uniersitas al-azhar pun tidak libur bulan ramadlon, bagi mereka yang baru, sibuk mengurus nama mereka dan membuat "kartu sakti" atau student idedntity card yang bentuknya tak sepantas kegunaanya. sistem yang manual "tulisan tangan" masih sangat di pertahankan meski di meja terdapat komputer, membentak adalah bukan marah, apalagi kalo marah bisa tampak tiga kali lipat bentakkan biasa. Jam kerja kantor dan segala intansi berubah total dari biasanya. jam kerja ramadlan sangat sempit sekali mulai jam 9.30 sampai jam 1.30 belum ngobrolnya belum lagi datangnya telat, tapi kalo pulang lebih awal setengah jam dari jadwal.

Kekesalan sering di rasakan mahasiswa Indonesia khususnya ketika melakukan ijro'at atau ngurus-ngurus baik di al azhar maupun imigrasi atau yang lain, kata bukroh (besok), godan(besok), dan lain sebagainya adalah makanan yang tidak enak bagi para mahasiswa yang dari pagi ngantri menunggu giliran, terlebih ketika ada orang yang main serobot dan nggak tahu malu nyerobot nggak mau ngantri. Waktu yang sempit sementara antrian panjang didukung watak orang mesir yang seenaknya sendiri.

Itu dari segi-segi yang kurang baik. dalam sisi yang baik terlihat dimana-mana orang membaca alqur'an hatta di bus kota yang lusuh itu, bagi yang kaya mereka terlihat kala sore membagi bagikan makanan siap saji pada waktu menjelang buka puasa dijalan jalan, ada juga yang terkenal dengan "maidaturahman" istilah buka puasa bersama biasanya bertempat dimasjid, dan menunya pun berfariasi dari yang rendah sampai yang mewah tergantung zakat yang terkumpul dimasjid tersebut.

Lampu adalah lambang ramadlan di Mesir entah kenapa mereka memilih lampu daripada ketupat, mungkin lampu adalah memberi penerangan akan kegelapan hati dan mungkin puasa adalah lampu bagi hati kita yang gelap. tadarus al qur'an tidak ada seperti Indonesia yang terdengar ramai sehingga membuat suasana ramadlan berbeda dengan bulan lainya. Setelah aku pikir tadarus orang sini lebih ditekankan pada setiap orangnya dari pada terdengar ramai namun yang tadarus cuma beberapa orang saja dan yang lain tak ubahnya seperti sebelumnya.

Tarawih orang mesir memang beda dengan di Indonesia di Mesir rata-rata memakai tarawih yang 8 rakaat namun sebagian yang lain ada yang lebih, namun jangan anda kira 8 rakaat itu cepet waktunya, 8 rakaat tarawih mesir sama dengan 30 menit menurut ukuran agak cepet, bayangkan saja empat rakaat pertama bacaaan setelah fatihah kadang samapi 1/4 juz, belum lagi ada khutbah setelah 4 pertama sebelum 4 kedua.

Pokoknya disini banyak perbedaan tetapi tidak terlalu membeda-bedakan entah mereka bodoh yang tak mau di benarkan atau memang mereka mengerti dan punya dasar yang bisa mewakili, bantuan-bantuan makanan seolah mengalir deras terlebih untuk para mahasiswa dari mana saja termasuk dari Indonesia. wah pokoknya cukup untuk menghibur diri dari jauhnya dengan keluarga dirumah.

Namun awal ramadlan lalu aku melihat siaran televisi lokal tentang suasana ramadlan di berbagai negara, terlihat di situ Indonesia dengan Istiqlalnya yang penuh dan rapi, beda dengan disini yang semrawut, timbul rasa bangga akan negeriku yang berjulukan penduduk muslim terbesar dalam datanya. dan menambah rasa kangen untuk secepatnya kembali ke tanah air.

Pagi ini 11.15 CLT atau 16.15 WIB cuaca mulai dingin cahaya matahari mulai tak terasa dan bahkan kulit terasa tertusuk dingin bila tidak memakai pakaian yang cukup menutup semua. Kawan semua, Mesir memang lengkap dari yang jelek sampai yang baik semua ada. yach kakek firaun kan orang sini, tapi nabi-nabi juga banyak disini, terdapat banyak makam nabi disini ada nabi sholeh, nabi harun, nabi danial, dll, imam syafii juga disini lho.

Kawan aku rindu dengan indonesia, bisakah ceritakan padaku bagaimana wajah Indonesia hatiku saat ini, adakah lebih cantik dari sebelumnya atau...............

Selamat menunaikan ibadah puasa kullu am wa antum bikhoir

Wassalamu alaikum wr. Wb.

Alliem,
Rabu, 27 oktober 2004


[+/-] Selengkapnya...

Karnech


Karnech
Oleh : Mochammad Moealliem

Sebagai pelajar yang menimba ilmu di lembaga-lembaga pendidikan baik formal atau non formal tentu pernah merasakan keharusan akan sesuatu yang mesti dimiliki bagi setiap pelajar baik dari seragam sekolah, buku paket, potongan rambut, dan tak ketinggalan kartu pelajar, bahkan sampai sepatu, dan sebagainya.

Seberapa pentingkah hal semacam itu bagi keberadaan pelajar di al azhar Cairo, Mesir?

Al azhar university memang berbeda dengan universitas-uninersitas di Indonesia, jika di Indonesia para mahasiswa memiliki warna jas yang sama dan lain sebagainya sebagai sebuah identitas keberadaan mereka belajar, berbeda dengan di azhar yang memberi kebebasan luas terhadap para anak didiknya dalam berpakaian dan bergaya sesuai dengan kemauan dan ukuran kesopanan setempat.

Mungkin dikarenakan pemisahan lokasi belajar antara laki-laki dan perempuan layaknya beda universitas, para mahasiswa dalam berpakaian tak serapi mahasiswa Indonesia pada umumnya. Memang Cairo bukan Amerika atau Eropa, yang mana standar "necis" nya berbeda, di Mesir yang notabene penduduknya warga arab atau termasuk darah arab meski dari postur tubuhnya berbeda sekali dengan arab saudi yang terlihat kecil, dalam memilih warna pakaian pun berbeda, serta ukuran "keren" secara rata-rata berbeda dengan mahasiswa Indonesia dimanapun berada.

Bagaimana pakaian mahasiswa al azhar?

Mungkin anda berprasangka mahasiswa al azhar dalam berpakaian seperti pakaian orang-orang saudi arabia yang memakai "jalabiyah" pakaian itu lho yang kata orang indo jubah, disertai sorban merah penutup kepala atau putih dan kadang diikat dengan karet warna hitam.

Sebenarnya bukan seperti itu, namun bukan pula tidak ada seperti itu, karena banyaknya mahasiswa dari berbagai macam negara di penjuru di dunia maka pakain pun bercorak ala negara masing-masing dan kadang terjadi persilangan dan sebagainya, detailnya mungkin bisa kita urutkan

1. Pakaian biasa setara internasional yaitu baju serta celana baik jeans, wol, katun, apa saja pokoknya baju dan celana, dipakai rata-rata mahasiswa dengan berlengan panjang bagi orang-orang arab, dan lengan pendek bagi orang-orang asia kalo musim panas

2. Kaos, dipakai yang punya kaos

3. Jubah baik pakai tutup kepala atau pun tidak, dipakai sebagian orang arab, sebagian indonesia, sebagian malaisya, sebagian pakistan, dan yang suka pakai jalbiayh

4. Jas, jaket, dll sama dengan dimana mana

Itu dari segi pakaian, namun itu tidak penting ada yang lebih penting dari hal hal itu tadi yaitu karnech, karnech dalam bahasa Indonesia bisa diartikan kartu identitas, baik kartu mahasiswa, kartu langganan bis kota, kartu-kartu yang lain, namun kalo kartu resmi bukan termasuk karnech, Cara membuat karnech di al azhar ( sebab tahunya cuma itu ) untuk yang tahun pertama atau tingkat pertama ( pengganti istilah semester 1&2 ala indo) rasanya tak semudah bayangan anda buat ktp, kita musti membawa poto copy paspor dan juga paspornya untuk diperiksa, harus periksa darah tapi bukan cap jempol darah kaya disurabaya itu, atau bahasanya "tahlil al dam" agar diketahui apa terkena aids apa nggak, yach semacam itulah itu pun kadang kita dibuat menunggu hingga menguras kesabaran dalam ijroat, kadang kita udah nunggu dari pagi sampai siang eh malah dibilang : bukroh (besok) dan jangan marah kalo besoknya mereka bilang lagi : ghodan ( besok ) yach masalahnya kalo lagi rame yang mau buat itu kita mesti kalah adu kuat sama orang setempat yang punya watak susah diatur apalagi disuruh ngantri.

Kegunaannya, bagi mahasiswa arab setiap masuk pintu gerbang azhar harus menunjukkan karnech tersebut bila tidak maka tidak diperkenankan masuk kampus, namun kalo bukan arab, Indonesia misalkan nggak usah pakai periksa bebas masuk.


Kegunaan paling penting adalah sebagai nomor ujian, jadi nomor karneh tuh nomor bangku ujian juga dan kalo tanpa karnech tidak diperkenankan ikut ujian dan hanya bisa diganti dengan paspor dalam keadaan darurat. Apalagi kalo hilang mesti minta surat keterangan polisi, masih banyak lagi kalo kita ke ahram (piramida) kita hanya akan dikenakan biaya 50 % dengan menyodorkan karnech, ketempat wisata-wisata yang lain pun sama, kedudukanya bisa mengganti paspor jadi kemana mana tak harus bawa paspor asal karnech ditangan dan masih banyak lagi.

Seperti apa sih? anda pun punya dugaan yang keliru jika anda tidak pernah tahu, bentuknya yach cuma kertas berkuran 7 x 10 cm, pokoknya sebesar ktp lah, dengan catatan nama, no, tingkat, photo dengan steples pengikatnya sedikit tanda tangan dan setempel, kalo mau di laminating itu urusan pemiliknya.

Yach cuman begitu dengan warna dasar yang sama untuk seluruh mahasiswa al azhar fakultas apapun. Dan warna itu berubah setiap awal tahun, jadi setiap setahun sekali mesti di tajdid (diperbarui)

waktu terus berlalu
jangan diam membisu
kau manusia bukan batu
kurindukan tulisanmu

--==( alliem )==--
Senin, 07 juni 2004

Catatan: Sejak ajaran 2006-2007 Al azhar mengganti karnechnya yang lungset itu dengan karnech seperti kartu atm.


[+/-] Selengkapnya...

Lebaran di Kampungku


Lebaran di Kampungku
Oleh : Mochammad Moealliem

Assalamu alaikum wr.wb.

Teman-teman seagama, sebangsa, dan setanah air, dalam kesempatan yang berbahagia ini izinkanlah saya memohon maaf atas segala segala kesalahan yang terjadi sejak saya mengenal kalian semua, terlebih karena selalu saja memenuhi box kalian dengan artikel-artikel yang tidak bermutu, sehingga membuat kalian bosan.

Hari raya ini terhitung sepi bagi kami dan mungkin sangat ramai bagi kalian, memang semua tak sama, pada malam takbiran yang lalu rasanya rindu dengan takbir layaknya di Indonesia yang penuh riuh, semarak suara tabuhan beduk, mercon yang berlari lari dari kejaran polisi, memekikkan suara ketakutan sambil tertawa, berbeda dengan di Mesir, malam itu seolah tak ada apa-apa udara merangkak dengan kabutnya yang masih tipis memaksa kita ber baju tebal dan jaket.

Memang Mesir bukan Indonesia dimana ada istilah mudik dan balik, yah karena kondisi alamnya yang berbeda yang membuat orang Mesir tak bisa mudik sebab sekitar 16 juta penduduknya tertumpuk di kota kairo yang kecil atau sekitar 30 % dari jumlah yang ada,

Malam itu masih saja aku dapat mendengar takbir di sebuah masjid Indonesia alias masjid yang memang milik warga Indonesia yang letaknya ditengah kota dimana tiap hari pada bulan ramadan selalu penuh dengan mahasiswa yang terdiri atas penjuru nusntara yang dijemput setelah berbuka puasa dirumah masing-masing, dan bahkan ada yang berangkat sendiri meski terukur agak jauh, namun sarana transportasi cukup memadahi asalkan jangan waktu berbuka puasa, sebab para sopir pun berbuka puasa, meskipun ada yang tidak puasa, ada juga metro anfaq alias kereta bawah tanah untuk mencapai masjid Indonesia kairo itu.

Pada hari raya selasa 25 bulan ini (Nov) tahun yang sama (2003), pihak kedutaan mengadakan sholat ied bersama disebuah masjid yang terletak di Hedr el Touny Street atau terkenal dengan daerah yusuf abbas, yang biasanya diadakan di KBRI di Garden city di dekat sungai nil, mungkin ada beberapa alasan yang menjadikan hal itu terjadi, bisa jadi karena jauh atau hal-hal yang lain, dan setelah sholat ied seperti biasa ada jamuan makan serta wahana saling memaafkan dengan merangkul dan adu pipi kanan kiri namun tetap saja sejenis ( budaya mesir ) di sebuah hadiqoh atau taman yang agak luas, setelah bapak dubes sambutan, langsung kita bersalam- salaman diiringi musik dan lagu khas Mesir yng merupakan fasilitas taman itu.

Setelah itu berbagai hidangan dari berbagai kota di Indonesia dipersilahkan untuk dinikmati meski diatur sedemikian rupa namun hal itu sedikit mengobati rasa kangen kita pada bumi pertiwi.

Namun cerita itu tak sebanding dengan yang bertemu keluarga dan sanak familynya, yah...... semua itu ada perlunya.

Kullu 'am wa antum bikhoir
Mohon maaf lahir batin

Wassalam


Alliem,
Sabtu, 29 November 2003

>

[+/-] Selengkapnya...

Pelestarian Turost dan Perekrutan Modern


Pelestarian Turost dan Perekrutan Modern Yang Sesuai
Oleh : Mochammad Moealliem

Mungkin sering kita dengar orang mengatakan "al muhafadoh ala al qodim al sholeh wa al akhdu bi al jadid al aslah" namun kita hanya mendengar hal itu sebagai simbol belaka tanpa adanya realisasi, orang-orang, organisasi, dan lembaga lembaga yang bermacam macam, bentuknya sering kita jumpai melakukan hal semacam itu sebagai upaya memperindah serta menutup celah-celah kekurangan yang ada, dari situ lah mungkin akan berakibat hancurnya sebuah lembaga maupun instansi tersebut.

Pelestarian tradisi kuno yang masih layak untuk digunakan pada zaman saat ini memang di perlukan sekali sebagai pijakan untuk berfikir menuju zaman yang berbeda bentuk persoalan dan solusinya, begitu juga pelestarian orang-orang tua dalam sebuah lembaga terutama di kalangan "kerajaan" sangatlah di perlukan mengingat jerih payah yang telah dicurahkan meski sekarang dianggap tidak memenuhi standar SDM dalam jajaran saat ini, adalah kebodohan bila kita merasa orang tua itu SDM nya lemah dan tidak relevan lagi untuk tampil dalam kancah para intelek yang belum tentu intelektual, meskipun orang tua bisa dikatakan bodoh namun orang tua sudah banyak makan garam tentang perjalanan hidup ini, lihatlah berapa lama usia suatu lembaga tatkala para sesepuhnya mulai disingkirkan satu persatu dengan alasan tidak bergelar sarjana misalkan, atau karena tidak sependapat dengan pimpinan dan lain lain

Jika kita lihat indonesia saat ini tampaknya itu memang terjadi dikalangan remaja juga pemuda, yang mana para pemuda saat ini cenderung berorientasi pada budaya barat daripada budaya nenek moyang kita yang begitu sopan dan sesuai, dan anehnya orang yang masih bersikukuh pada budaya leluhur dianggap orang yang ketinggalan zaman, dan di cap nggak gaul, sementara bagi mereka yang secara budaya dan agama menyimpang dengan bangga dan merasa menjadi orang yang gaul dengan kebudayaan yang dia tiru dari virus yang disebarkan dengan sengaja oleh para penjajah kebudayaan. Mungkin itulah gambaran tirani masa kini yang mana kita bangga menjadi bangsa yang terjajah dalam berbagai aspek.

Sedikit melirik ke Tambakberas saya hanya melihat dari jauh saat ini perkembangan pondok besar itu, dan saya dengar mulai ada perubahan disana sini mulai dari bangunan sarana dan prasarana katanya semakin banyak dan lengkap dan mungkin nanti setelah saya dapat kembali kesana tambak beras sudah menjadi pondok yang modern dengan dengan santri santri yang selalu membaca sendiri tanpa bergantung pada sang guru, rapi, sopan , tasamuh dan lain lain, yang mungkin saat ini belum sepenuhnya terlaksana, mugkin Tambakberas diakui dimana mana namun setelah mereka keluar dari Tambakberas ada perasaan minder dan takut untuk tampil didepan yang lain, sebab kekurangan bahan bacaan dan bangga dengan kebesaran Tambakberas namun lemah dalam keilmuan.

Kuantitas pondok kita semakin lama semakin bagus namun kenapa kwalitasnya masih tetap bahkan menurun dan itu akan menjadikan para pengamat alias para orang tua yang mengamati pondok untuk masa depan anaknya, berfikir ulang dan pada akhirnya ragu terhadap kwalitas yang ada.

Perekrutan budaya baru memang bukanlah kesalahan asalkan hal itu sesuai dengan kaidah resmi masyarakat Indonesia, dalam artian kita menyaring dan mengambil buah dari budaya tersebut bukannya kita ambil secara apa adanya, bukankah lebih baik mengimpor buah kurma dari pada harus mennanam pohon kurma yang belum tentu berbuah, budaya barat tidak seluruhnya jelek, namun semua itu perlu diolah lagi, budaya timur pun tidak semuanya baik, maka dari itu perlu pemilihan dan pemilahan secara teliti.

Sedikit mengajukan solusi mungkin kalau memang demikian, menurut saya para santri saat ini perlu dikenalkan dengan bacaan-bacaan yang berisi tentang pemikiran pemikiran yang berkembang sehingga seorang santri tidak dianggap lagi orang orang yang klombrot alias tidak mau berkembang dan pada akhirnya menjadi santri yang jumudul fikry namun diperlukan juga pemantauan secara intensif agar santri tidak terlalu kelewat batas sehingga akan menjadi santri yang tatoruf.

Tapi sebenarnya meskipun toh sarana itu telah mencukupi jika kesadaran yang dimiliki santri saat ini kurang, pada akhirnya pun akan seperti kami yang saat ini merasa tertinggal jauh dengan alumni dari pondok lain, dan hanya menjadi pendengar setia di setiap diskusi, seminar, bahsul masail bahkan dalam milis yang nyata nyata alumni Tambakberas sendiri, mereka masih saja ada rasa minder, malu, nggak pede, padahal sebenarnya meskipun orang yang banyak omongpun ya hanya bermodal berani dulu, salah kan bisa di betulkan, daripada salah di timbun.

Maka dari itu lah saya berharap siapapun anda dan dari mana saja, bicaralah, kenapa takut, salah yaa dibenarkan gitu aja kok repot.

Selamat menjalankan ibadah puasa semoga menjadikan kita ingat bahwa kita perlu berfikir bukan hanya bagai ombak laut yang mondar mandir. Mohon maaf bagi segenap pembaca jika kurang berkenan, dan bila ada yang terasa bengkok bolehlah diluruskan dengan tulisan bukan dengan kekerasan.


Terima kasih
jangan berharap dapat ilmu laduni, biarlah datang sendiri,masa pengharapan membuat hidupmu seperti mati,

Laisa al fata man yaqulu hadza aby, lakin al fata man yajtahidu fi aldurusy

Alliem,

Ahad, 26 oktober 2003
awal ramadan

[+/-] Selengkapnya...

Tentang Rukyatullah


Tentang Rukyatullah
Oleh : Mochammad Moealliem

Dalam kesempatan kali ini saya mencoba berbagi tentang sebuah perdebatan yang disajikan oleh para ulama kepada saya juga teman-teman yang lain. Dalam masalah ini kita tak perlu buru-buru ikut berpendapat sesuai dengan kemauan kita sendiri, seperti yang saya katakan dahulu bahwa tidak semua orang boleh memberi rambu-rambu dijalan. Maka dalam hal ini kita harus sangat hati-hati.

Perbedaan pandangan memang sangat kental dimana saja dan pada masalah apa saja, dan seolah kita diajari berdebat dengan benar serta punya dasar, dengan harapan hal itu menjadi lebih baik, seperti firman Allah " wajadilhum billati hia ahsan "QS:16:125.

Bolehkah kita melihat Allah?

Sebelum saya tulis adu argumen antara ahli sunnah dengan mu'tazilah, perlu kita berfikir sejenak, bahwa diantara sifat Tuhan adalah mukholafatu lil hawadis (berbeda dengan sesuatu yang mempunyai sifat baru) dan segala sesuatu yang selain Allah adalah baru, termasuk kita ini adalah barang baru dan semua sesuatu yang pernah baru maka akan mengalami perubahan dan kerusakan.

Ahlusunnah ( madzhab yang kita ikuti dalam masalah keesaan Tuhan ) merekomendasikan bahwa melihat tuhan didunia ini adalah boleh "jaizah" dalam artian terjadinya sebuah keadaan seperti saat kita melihat rembulan atau bisa disebut ru'yah, namun dalam keadaan tanpa arah dan muqobalah. [ Taqrib al marom fi syarhi tahdzib al Kalam.h.5 ]

Akan tetapi hal tersebut belum pernah terjadi pada seorang pun didunia ini, bahkan nabi pun belum pernah bisa, kecuali nabi Muhammad ketika Isra' Mi'raj. Namun menurut Ahlisunnah hal ini akan terjadi nanti disurga bagi orang-orang mukmin. semoga kita termasuk didalamnya, amin.

Dalil yang dipakai ahlisunnah dalam masalah ini adalah firman Allah pada lisan Musa " Robbi ariny andzur ilaika". Qs:7:143

Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman : "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".Qs:7:143

Dari ayat ini Ahlisunnah kesimpulan bahwa
1.Permintaan Musa As untuk melihat Allah menununjukkan diperbolehkanya melihat, sebab jika tidak boleh maka nabi musa akan tergolong bodoh dalam meminta sesuatu yang tidak mungkin.
2.Allah menggantungkan ru'yah dengan tetapnya gunung, dan sesuatu yang digantungkan terhadap yang mungkin adalah mungkin
3.Allah berfirman "lan tarony" kamu tidak melihatku.

Mu'tazilah dalam hal ini berpandangan bahwa melihat Allah adalah mustahil didunia maupun diakhirat.

[+/-] Selengkapnya...

Ketika Aku Ingin Bermimpi


Ketika Aku Ingin Bermimpi
Oleh : Mochammad Moealliem

Ditengah kebingunganku dalam memahami sejarah-sejarah yang termakan waktu yang tertulis dalam buku-buku sejarah yang ada, juga berbagai kontroversialnya timbul pertanyaan, kepada siapa aku harus bertanya? tentunya kepada saksi sejarah yang hidup dizaman itu, sebab tidak mungkin hanya mengandalkan catatan-catatan sejarah yang ditulis orang-orang yang hanya berdasar pada tulisan orang sebelumnya, yang dimungkinkan diselewengkan untuk kepentingan politiknya, sosial, kelompok dan lainya.

Dan hal semacam itu telah terjadi dalam benakku ketika aku diberitahu sejarah 30 S pki tentunya anda yang seumurku punya pemahaman yang sama dalam artian sebagaimana yang disiarkan oleh media elektronik kala itu, dari hal itu bisa aku fahami bahwa pemutar balikan fakta sejarah sangat penting dalam rangka mempertahankan sebuah jabatan serta membersihkan nama baik yang berkepentingan, itu untuk ukuran yang sifatnya tidak terlalu melebar.

Kalau hal semacam diatas itu terjadi dalam penulisan sejarah nabi bagaimana akibatnya? aku baru faham ternyata itu memang telah terjadi lebih dulu dari pada G 30 S pki di Indonesia, sehingga banyak sekali hadist-hadist yang tidak dibenarkan dan macamnya berkelas dari yang sekedar memalsu muatannya sampai yang membuat hadist palsu demi sebuah nama, kelompok, dan lain sebagainya.

Sebab setelah wafatnya nabi mulai muncul keretakan dalam golongan yang sama-sama islamnya dan itu tampak jelas dalam pikir kita semua dan akibat dari hal itu islam terbagai dalam berbagai ruang-ruang terpisah yang tak mungkin disatukan, organisasi-organisasi itu berkembang bak amoeba yang begitu cepat hingga aku tak bisa menghitung jumlah detailnya, semuanya mengaku paling benar dan yang lain adalah sesat.

Sejarah hidup nabi adalah harta yang sangat besar bagi umat islam yang kemudian diperebutkan untuk membenarkan pendapat serta perlakuan atas golongan itu, hadist-hadist pun banyak yang di palsu untuk menaklukan para umatnya yang masih bodoh agar tunduk dan mengikuti golongannya atas nama hadist nabi yang mereka palsu.

Dan sejarah terus berputar dengan kemasan yang berbeda, sebagaimana sejarah perpecahan yang terjadi pada masa-masa khilafah ( kekhalifahan ) dan ini akan terulang pada NU jika masalah-masalah pribadi menjadi dasar timbulnya sikap tersebut, dan mungkin NU akan menjadi pecah bukan hanya menjadi dua atau tiga bahkan lebih dari itu, dan pecahan itu pun akan pecah lagi, jika ketidakpuasan menjadi alat untuk mendirikan organisasi baru.

Semua itu telah terjadi dulu sebelum NU ada, jika fenomena ini terus berlanjut akan ada NU tandingan pihak ketiga yang notabene tidak memihak pada kedua tokoh tersebut, sebab jika ada dua hal yang bertentangan tentu keduanya tidak bisa dianggap benar keduanya, akan tetapi salah satu dari keduanya ada yang salah ada pula yang benar, atau keduanya salah dan yang benar adalah pihak ketiga, bisa juga keduanya ada sisi kebenaran dan ada sisi kesalahan, dan untuk menentukan benar salah kita perlu memahami apa yang sedang terjadi.

Penyelewengan-penyelewengan sejarah nabi makin marak dan para penyelewengker ( orang-orang yang menyelewengkan ) itu merasa hal itu adalah dakwah, sehingga saling tuduh, saling tuding, saling ancam, antar sesama, adalah merupakan jihad fi sabilillah, sehingga mengurangi sifat-sifat nabi yang karimah, dan sampai sekarang pun hal semacam itu terus terjadi dengan modifikasi zaman yang terus maju, dan perdebatan-perdebatan akan terus berlangsung ketika hadist itu tampak mendukung suatu golongan dan merugikan golongan yang lain, contoh kecilnya masalah poligami, sistem khilafah, dll.

Mungkin saja kampanye pemilu kemarin pun banyak para kyai yang mengeluarkan hadist demi meraih dukungan bahkan memplesetkan sejarah karena kebanyakan kyai saat ini adalah penganut faham matrealis maka mereka dengan bangga melelang fatwa-fatwanya kecuali para kyai yang tahu bahwa hal-hal semacam itu tidak benar.

Ketika aku masih kecil dulu ada seorang kyai yang berpartai golkar dalam pngajianya menyebutkan bahwa selendang malaikat yang membantu perang nabi berwarna kuning, ada juga yang waktu kampanye mengatakan bahwa presiden wanita adalah haram akan tetapi setelah sang perempuan jadi presiden ke-haraman itu dicabut dan minta dikasih kursi, dan mungkin anda pernah menemui hal semacam ini.Kyai politikus berdakwah kepada golongannya, kyai pesantren berdakwah kejalan Allah, ketika kyai pesantren menjadi politikus tentu dakwahnya kepada Allah namun mompar-mampir mencari tikus.

Tikus-tikus kantor berwajah manusia berhati rakus, dalam ihya'nya ghozali bercerita hubbu dunya ro'su kulli khotiatin, terlalu memburu dunia adalah pangkal segala kerusakan, mungkin kyai saat ini mulai beraliran liberal yang tak mau disebut liberal dan menganggap statemen al ghozali akan menghambat pembangunan kemegahan gedung pesantrennya.

Manusia tak bisa lepas dari dosa, dan siapapun tentu tidak selalu benar dan tidak selalu salah, untuk itu bagi para kawan semua marilah berfikir obyektif dan katakan salah jika memang tidak sesuai dengan aturan yang ada, meskipun kepada orang yang kita harapkan bantuanya, atau kita sangat mengaguminya.

Melihat fenomena-fenomena yang ada saat ini ingin aku untuk bertanya kepada pelaku sejarah namun yang terjadi pelaku sejarah telah diam dari bicara, serta diam dari gerak, lalu bagaimana aku harus bertanya kepada orang yang diam? jalan satu-satunya aku harus bermimpi, namun ketika aku bermimpi tentunya orang akan bilang aku juga membuat sejarah palsu karena yang tahu aku mimpi atau tidak hanyalah yang memberiku mimpi dan aku, dan itu berkemungkinan untuk diselewengkan juga, jalan terakhir adalah kita semua harus bermimpi dengan mimpi yang sama, namun ada pula yang terbangun ketika mimpi itu belum selesai.

Ternyata itu hanya mimpiku sebelum aku tidur

-= alliem =-


[+/-] Selengkapnya...

80 Coret


80 Coret
Oleh : Mochammad Moealliem

Cairo yang begitu terkenal dengan kota tua dalam sejarah hingga kini masih banyak ditemukan peninggalan-peninggalan yang mahal harganya, Al Azhar contohnya dimana bangunan-bangunanya terlihat begitu tua dengan sedikit perbaikan disana sini, itu adalah sedikit tentang al azhar.

Namun layaknya ada sejarah yang terlupa oleh catatan zaman namun tak akan pernah terlupakan oleh para azhariyun atau yang pernah belajar di azhar, yang selalu melekat dalam benak semua mahasiswa serta menyimpan seribu makna bagai kisah seribu satu malam yang pernah terjadi dulu.


Anda tentu sangat ingin tahu hal ini, jika anda alumni al azhar maka ketika ada kata 80 coret, akan keluar dari otak anda seribu kenangan yang kadang menjadi sebuah sejarah keberadaan anda waktu itu, terlebih bagi anda yang belum sempat ke Mesir, tentu anda masih dibuat bingung dengan kata 80 coret.

80 coret bukanlah kata rahasia atau kode untuk demontrasi atau sejenisnya, 80 coret hanyalah sebuah nomor bus kota yang menempuh rute sekitar 15 km pp yang menghubungkan beberapa lokasi pemukiman mahasiswa Indonesia maupun yang lain ke kampus al azhar.

Jarak yang ditempuhnya memang akan sangat melelahkan bila kita berjalan kaki terlebih musim panas bisa dipastikan bisa membuat anda sakit, namun anehnya bus kota yang tarif jauh dekatnya dipatok sama ini dia dengan lincahnya melintasi daera-daerah yang sudah diatur mulai dari al hayy al 'asyir ( 10th Districk ), al hayy tsamin, sebagian al hayy sabi', madinat al jamiah ( asrama mahasiawa azhar mesir), al hayy sadis, kampus kedokteran al azhar, nady el sikka, menembus pemakaman luas, madinat al buust (asrama mahasiswa azhar luar mesir),dan berakhir di darosat ( nama sebuah lokasi), atau di mustasfa al husain al jami'i yaitu rumah sakit yang konon milik al azhar dan letaknya pun bersebelahan.

Apa anehnya bus kota ini hingga harus menjadi catatan sejarah mahasiswa al azhar?

Memang kita semua hampir semuanya pernah naik bus kota namun kalo naik 80 coret tentunya anda harus ke mesir dulu, memang bus ini bukan satu satunya bus yang menghubungkan mahasiswa ke kampusnya masih banyak bus yang lain dengan rute yang berbeda, bus yang hingga saat ini bisa dikatakan bus tua dilihat dari kulitnya yang sudah termakan karat, bagai kulit nenek tua yang keriput dimakan usianya yang senja, dengan jumlah kursinya yang beruntung masih bisa dibuat duduk walau kadang ada yang terlepas karena beban yang berlebihan akibat besarnya penumpang dari ukuran rata-rata orang asia.

Kursinya terlihat sangat sedikit sekali dua disebelah kanan dan satu disebelah kiri lurus berbaris dengan kursi sopir yang berada di pojok kiri depan serta ada kursi khusus seperti ada meja dan kursi layaknya kasir disebuah toko, yaitu kursi kernet yang berada dekat dengan pintu belakang dengan dua buah pintu otomatis bisa buka nutup sendiri dengan beberapa tombol pada sopirnya meski terlihat berlumuran oli yang terlantar di pintu lipat itu.

Waktu ujian bus ini berjalan dengan kondisi kemiringan beberapa derajat karena penuhnya penumpang yang rata-rata mereka mahasiswa yang hendak ujian hingga jika mereka berada di halte yang bagian tengah dari jarak perjalanan itu tak akan mungkin bisa ikut naik lagi, sebab pintuya sudah muntah penumpang, meski penuh kadang dengan suara keras ( seperti marah ) seorang kernet mengatur penumpang agar merapat ke bagian depan sebab pintu masuk adalah belakang dan keluar di pintu depan, bagaimana sikap penumpangnya yang hampir nggak bisa bernafas dengan bebas?

Sikap orang asia rata-rata diam nggak banyak komentar dan kadang juga agak membantah semampu bahasa, maklum postur tubuhnya lebih kecil jadi mudah untuk di selip-selipkan, dengan satu keinginan agar nyampai di kampus sesuai waktu yang dia inginkan mereka pun rela terjepit oleh bau keringat yang khas serta tubuh yang besar-besar.

Sikap orang afrika terlihat banyak membantah maklum mereka terkenal cepat mengerti bahasa jadi bisa seru kalo bantah-membantah dan memang kenyataanya nggak ada ruang lagi untuk bergerak.

Kadang kondisi yang begitu sesak ada orang yang bertengkar biasanya antar ibu-ibu yang mudah terbakar karena banyaknya kalori yang terkandung ditubuhnya kali, tahu nggak bagaimana rasanya? ketika ibu-ibu bertengkar satu di depan dan satu dibelakang dan kita ditengahnya rasanya seperti petir menyambar telinga, kebiasaan orang marah disini suaranya lebih keras lagi, jadi yah memakan korban perasaan pula begitu telinga.

Kadang juga ada copet, wah kalo yang satu ini banyak juga mahasiswa Indonesia yang jadi korbanya hingga bus 80 coret punya istilah baru 80 copet, maka untuk anda semua hati hati kalo naik bus.

Ok lah rasanya udah lelah aku bercerita, itu baru sebagian masih banyak sebenarnya kisah-kisah lucu, pusing, nggak bisa turun, kecopetan, kacanya jatuh, terjepit pintu, yang dialami mahasiswa di 80 coret, itulah kisah bus kota tua di kota tua.

Pilih mana? pilihlah yang yang ditawarkan, oupss.. jangan memilih saya jadi presiden ya........belum waktunya.

pilihlah 80 coret kendaraan pribadi anda.
pilihlah 80 copet kendaraan police anda.
pilihlah belajar hobi anda.

eh udah...........kok masih baca, ayo belajar kan mau ujian.
kalau anda nggak mau berhenti membaca, aku akan berhenti menulis biar anda nggak bisa baca,
aduh....udah jangan dibaca......

kenapaharusbacatulisaninibukankahlebihbaikkamumenulissen diridanakubisabacatulisanm
uituehiyaakumauujiandoainyaehjangandi biasakanbacatulisankayabeginilagientarkayaoranggila. -

--( alliem )---

Catatan: Pada tahun 2006 menjelang piala Afrika, Mesir mengganti armada bis kota yang terlalu tua, namun tidak seluruhnya.


[+/-] Selengkapnya...

10 Artikel Populer