Jakarta Mass Rapid Transit on Project
10 Desember 2015
09 Oktober 2015
Meraih Pahala Haji dengan Mudah dan Murah
Meraih
Pahala Haji dengan Mudah dan Murah
Oleh : H.
Mohamad Mualim, Lc., MA.
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلهُْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
وقال تعالَى : الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ
الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا
مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Pada jum’at yang berbahagia ini, marilah kita sama-sama memanjatkan puja
dan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wataala, yang telah memberikan
berbagai kenikmatan, terutama kenikmatan Iman dan Islam yang diberikan kepada kita. Shalawat dan
salam kita berikan kepada nabi besar Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam yang
telah mewariskan Al Qur’an kepada umatnya, sebuah ilmu yang senantiasa
bermanfaat bagi khidupan umat manusia.
Marilah kita buktikan puji syukur kita atas semua karunia Allah kepada kita
dengan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan sebenar-benar takwa,
serta menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Allah
berfirman :
“Haji adalah beberapa
bulan yang dimaklumi , barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan
mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats , berbuat fasik dan berbantah
bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan
apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang
yang berakal.”
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Saat ini kita telah
berada dalam bulan mulia, bulan Dzulhijjah, bulan yang didalamnya terdapat
berbagai keutamaan dan kemudahan dalam rangka meningkatkan ketakwaan kita
dengan melakukan berbagai amalan-amalan yang luar biasa, maupun amalan-amalan
sederhana yang bernilai luar biasa.
Sebagaimana kita tahu
bahwa ibadah haji yang sedang ditempuh kaum muslimin dalam bulan ini adalah
amalan yang luar biasa, karena ibadah tersebut bukan saja ibadah ruhiyah dan
jasadiyyah semata, namun juga ibadah maliyah, atau dalam arti lain bukan hanya
ibadah lahir dan bathin semata, namun juga pengorbanan harta yang tidak sedikit,
belum lagi jika harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kuota haji
tersebut.
Haji adalah kewajiban
bagi kaum muslimin yang telah memiliki harta, kemampuan, jaminan keamanan
perjalanan menuju makkah, terlebih pada tahun-tahun terakhir harus menunggu antrian
dari kuota yang terbatas. Maka dari itu, seyogyanya kaum muslimin berniat lebih
awal untuk beribadah haji, lebih awal mempelajari ilmu ibadah haji, dan juga
lebih awal menyisihkan hartanya untuk bekal ibadah haji.
Namun demikian,
sebagaimana firman Allah, bahwa sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada
Allah, dan semoga ibadah haji yang telah, sedang maupun yang akan dilakukan
oleh kaum muslimin menjadi penyempurna bekal ketakwaannya kepada Allah
subhanahu wata’ala.
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Tentu setiap kaum
muslimin punya keinginan untuk melaksanakan ibadah haji, namun mungkin biaya
dan kuota belum mereka dapatkan, lalu apa saja yang bisa dilakukan untuk
mendapatkan pahala yang setara haji dalam rangka menambah bekal ketakwaan
kepada Allah?
Diantara amal-amal
ringan tapi berpahala besar adalah amal-amal yang pahalanya setara dengan
pahala ibadah haji dan umrah. Amalan-amalan tersebut diantaranya:
1. KELUAR DARI RUMAH MENUJU SHALAT FARDHU DI MASJID DALAM
KONDISI SUDAH BERSUCI.
عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ
مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ
الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ
يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى
أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ »
Dari Abu Umamah,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa keluar
dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu, pahalanya
seperti pahala haji orang berihram. Dan barangsiapa keluar shalat Dhuha dia
tidak bermaksud kecuali itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang
berumrah. Dan shalat sesudah shalat yang tidak ada perbuatan sia-sia di antara
keduanya diyulis di kitab'Illiyyin" ( Abu Dawud, no 558)
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Dari hadits ini
menunjukkan bahwa setiap orang diberikan kesempatan mendapatkan pahala haji,
yang mudah, murah dan tidak melelahkan, bahkan bisa lima kali mendapatkan
pahala haji dalam sehari semalam. Untuk itu marilah kita tingkatkan amaliah
kita dalam melaksanakan sholat fardhu berjamaah di masjid dengan keadaan telah
bersuci sejak berangkat dari rumah, jika hal itu memungkinkan.
Jika kita amati
kenapa pahala bersuci di rumah berpahala besar? Maka bisa kita bayangkan bahwa
orang yang datang dari rumahnya sudah dalam keadaan suci ketika masuk masjid
pahalanya sudah terhitung, ketika menambah dengan sholat tahiyatul masjid sudah
bertambah lagi, ketika membaca Al-Qur’an bertambah lagi, terlebih di musim
kemarau atau di daerah-daerah yang sulit air, maka keberadaan suci seseorang
sejak dari rumahnya akan mengurangi beban masjid untuk menyediakan air untuk
bersuci.
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Pahala haji yang juga
bisa kita dapatkan yang kedua adalah: Sholat subuh berjamaah di masjid kemudian
berdzikir hingga terbit matahari lalu sholat sholat 2 rakaat, Rasulullah
bersabda :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِىُّ الْبَصْرِىُّ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا أَبُو ظِلاَلٍ عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ
صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ
الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ».
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
». قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. قَالَ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدَ بْنَ
إِسْمَاعِيلَ عَنْ أَبِى ظِلاَلٍ فَقَالَ هُوَ مُقَارِبُ الْحَدِيثِ. قَالَ
مُحَمَّدٌ وَاسْمُهُ هِلاَلٌ.
Dari Anas bin Malik,
Rasulullah s.a.w bersabda, " Barangsiapa Shalat Subuh berjamaah lalu duduk
berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari kemudian shalat 2 raka'at,
maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna,
sempurna." (Sunan At-Tirmidzi 589).
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Jika kita tidak mampu
meraih pahala haji dengan amalan yang pertama, maka amalan yang kedua
memberikan kesempatan, yaitu dengan sholat subuh berjamaah dan kemudian
berdzikir hingga waktu matahari terbit, setelah itu melakukan sholat 2 rakaat,
biasa disebut dengan sholat Isyraq, maka pahala haji yang sempurna kita
dapatkan.
Namun jikalau amalan
yang kedua ini pun kita tidak mampu lakukan, Allah masih memberikan kesempatan
meraih pahala haji dengan:
MEMPELAJARI ATAU MENGAJARKAN KEBAIKAN DI MASJID
Rasulullah bersabda:
Dari Abu Umamah, Nabi
saw bersabda," Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak menginginkan kecuali
mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti pahala
orang haji sempurna hajinya.". Dalam riwayat lain dengan redaksi,
"Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju masjid, ia tidak menginginkan
kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka
baginya pahala orang yang melaksanakan umrah dengan umrah yang
sempurna. Dan barangsiapa berangkat sore hari menuju masjid, ia tidak
menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka
ia mendapatkan pahala orang yang naik haji dengan haji yang sempurna."(
At-Targhib wa AT-Tarhib no 82).
Maka dari itu
mengikuti kajian-kajian ilmu di masjid-masjid, adalah kesempatan bagi yang
mengajarkan maupun yang menerima pelajaran untuk mendapatkan pahala haji yang
sempurna.
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Betapa Allah memberi kemudahan bagi umat Islam untuk mendapatkan pahala
yang begitu besar dengan amalan-amalan yang sangat ringan dibanding ibadah haji
yang membutuhkan biaya besar, tenaga yang kuat, dan waktu yang lama. Meskipun
amalan-amalan yang berpahala haji tidak dapat menggugurkan kewajiban haji bagi
yang telah mampu, namun secara pahala hal itu sangat luar biasa.
Terlebih jika kita mampu melakukan ketiga amalan tersebut dalam satu waktu,
seperti halnya berangkat ke masjid dalam keadaan sudah bersuci, lalu melakukan
sholat subuh berjamaah, kemudian berdzikir hingga waktu terbit, dan sholat dua
rakaat, setelah itu mengikuti kajian ilmu di masjid tersebut, maka sekali jalan
mendapatkan pahala tiga kali berhaji.
Semoga kita diberikan kemampuan dan kemauan oleh Allah, untuk meraih
pahala-pahala tersebut, memanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam kebaikan dan
ketakwaan dan tidak mensia-siakan waktu dan umur yang diberikan. Sehingga
kitatidak termasuk orang-orang yang rugi di dunia dan di akherat.
وَالْعَصْرِ {1}إِنَّ الْإِنْسَانَ
لَفِي خُسْرٍ {2}إِلَّا
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ {3}
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
By
Unknown
at
Jumat, Oktober 09, 2015
0
comments
Labels: Rak Tulisan 08
18 September 2015
Amalan Setara Haji
Amalan Setara
Haji
Oleh : H.
Mohamad Mualim, Lc., MA.
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلهُْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
وقال تعالَى : الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا
رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ
يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ
يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Pada jum’at yang berbahagia ini, marilah kita sama-sama
memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wataala, yang telah
memberikan berbagai kenikmatan, terutama kenikmatan Iman dan Islam yang diberikan kepada kita. Shalawat dan
salam kita berikan kepada nabi besar Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam yang
telah mewariskan Al Qur’an kepada umatnya, sebuah ilmu yang senantiasa
bermanfaat bagi khidupan umat manusia.
Marilah kita buktikan puji syukur kita atas semua karunia
Allah kepada kita dengan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah yang selalu
melihat gerak-gerik kita, dengan sebenar-benar takwa, serta menjalankan
perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Allah
berfirman :
“Haji
adalah beberapa bulan yang dimaklumi , barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats , berbuat fasik
dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan
apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang
yang berakal.”
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Saat ini
kita telah berada dalam bulan mulia, bulan Dzulhijjah, bulan yang didalamnya
terdapat berbagai keutamaan dan kemudahan dalam rangka meningkatkan ketakwaan
kita dengan melakukan berbagai amalan-amalan yang luar biasa, maupun
amalan-amalan sederhana yang bernilai luar biasa.
Sebagaimana
kita tahu bahwa ibadah haji yang sedang ditempuh kaum muslimin dalam bulan ini
adalah amalan yang luar biasa, karena ibadah tersebut bukan saja ibadah ruhiyah
dan jasadiyyah semata, namun juga ibadah maliyah, atau dalam arti lain bukan
hanya ibadah lahir dan bathin semata, namun juga pengorbanan harta yang tidak
sedikit, belum lagi jika harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kuota
haji tersebut.
Haji
adalah kewajiban bagi kaum muslimin yang telah memiliki harta, kemampuan,
jaminan keamanan perjalanan menuju makkah, terlebih pada tahun-tahun terakhir
harus menunggu kuota yang terbatas. Maka dari itu, seyogyanya kaum muslimin
berniat lebih awal untuk beribadah haji, lebih awal mempelajari ilmu ibadah haji,
dan juga lebih awal menyisihkan hartanya untuk bekal ibadah haji.
Namun demikian,
sebagaimana firman Allah, bahwa sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada
Allah, dan semoga ibadah haji yang telah, sedang maupun yang akan dilakukan
oleh kaum muslimin menjadi penyempurna bekal ketakwaannya kepada Allah
subhanahu wata’ala.
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Tentu
setiap kaum muslimin punya keinginan untuk melaksanakan ibadah haji, namun
mungkin biaya dan kuota belum mereka dapatkan, lalu apa saja yang bisa
dilakukan untuk mendapatkan pahala yang setara haji dalam rangka menambah bekal
ketakwaan kepada Allah?
Diantara
amal-amal ringan tapi berpahala besar adalah amal-amal yang pahalanya setara
dengan pahala ibadah haji dan umrah. Amalan-amalan tersebut diantaranya:
1. KELUAR DARI RUMAH MENUJU SHALAT FARDHU DI MASJID DALAM
KONDISI SUDAH BERSUCI.
Dari ABu
Umamah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa
keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu, pahalanya
seperti pahala haji orang berihram." (Shahih: Shahih Abu Dawud, no 558)
2. SHALAT BERJAMA'AH DI MASJID KEMUDIAN DUDUK BERDZIKIR
SAMPAI TERBIT MATAHARI LALU SHALAT 2 RAKA'AT
مَنْ صَلَّى الْغَدَا ةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ
اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِحَجَّةٍ
وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ
تَامَّةٍ تَامَّةٍ
Dari Anas
bin Malik, Rasulullah s.a.w bersabda, " Barangsiapa Shalat Subuh berjamaah
lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari kemudian shalat 2
raka'at, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna,
sempurna, sempurna." (Hasan: Shahih At-Tirmidzi,. Dalam hadits lain, dari
Abu Umamah dan 'Utbah bin 'Abd, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa shalat
Subuh dalam sebuah masjid secara berjama'ah lalu tinggal di dalamnya hingga ia
Shalat Dhuha, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang haji dan
umrah yang sempurna haji dan umrahnya." (Hasan li ghairihi: Shahih
At-Targhib wa At-Tarhib, no. 469).
3. MEMPELAJARI ATAU MENGAJARKAN KEBAIKAN DI MASJID
Dari Abu
Umamah, Nabi saw bersabda," Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak
menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka
baginya pahala seperti pahala orang haji sempurna hajinya.". Dalam
riwayat lain dengan redaksi, "Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju
masjid, ia tidak menginginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau
mengajarkannya, maka baginya pahala orang yang melaksanakan umrah dengan
umrah yang sempurna. Dan barangsiapa berangkat sore hari menuju masjid, ia
tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka
ia mendapatkan pahala orang yang naik haji dengan haji yang
sempurna."(Hasan Shahih: Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib no 82).
4. MELAKSANAKAN SHALAT FARDHU BERJAMA'AH DAN SHALAT
DHUHA DI MASJID
Dari Abu
Umamah, Rasulullah s.a.w bersabda," Barangsiapa berjalan menuju berjama'ah
sholat wajib, maka dia seperti berhaji. Dan barang siapa berjalan
menuju shalat tathawwu'(sunnah) maka dia seperti berumrah
yang nafilah (istilah lain sunnah)." (Hasan: Shahih Al-Jami' no.
6556), dalam hadits yang lainnya, Rasulullah bersabda," Barangsiapa keluar
dari rumahnya dalam keadaan sudah bersuci untuk shalat fardhu maka pahalanya
seperti pahala orang haji yang berihram, Dan barangsiapa keluar
shalat Dhuha dia tidak bermaksud kecuali itu, maka pahalanya seperti
pahala orang yang berumrah. Dan shalat sesudah shalat yang tidak ada perbuatan
sia-sia di antara keduanya diyulis di kitab'Illiyyin."( Shahih: Shahih
Sunan Abu Dawud, no. 522;Shahih Al-Jami' no. 6228)
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Bagi kita
dan kaum muslimin yang tidak berhaji saat ini, kesempatan emas tetap terbuka
untuk meraih keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah dan
meningkatkan kualitas ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10
Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebagaimana disampaikandalam beberapa
hadits rasulullah. Amalan ibadah tersebut bisa berupa meningkatkan shadaqah, dzikir,
tilawah, dan amal shalih lainnya.
Rasulullah
SAW bersabda: “Tidak ada hari-hari di
mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari
ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun
bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fisabilillah?”
Beliau menjawab, “ya memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad
fisabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian
tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah
kecuali Muslim dan Nasai)
Dalam
hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari yang
dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan
sebagai tempat beramal
sebagaimana hari pertama
hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari
itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid". (HR. Ahmad)
Ada juga
hadits lain yang "Tidak ada hari-hari
yang lebih disukai
Allah untuk digunakan
beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada
siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam
harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul
qadar". (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)
Puasa
Arafah.
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Puasa arafah disunnahkan bagi kaum muslimim. Adapun bagi mereka para
jamaah haji, Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan
hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak
sedang berhaji.
Keutamaan
puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a. : Rasulullah SAW pernah
ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab,
صِيَامُ
يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى
قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ
عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun
akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang
lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Hal demikian
menunjukkan betapa besar pahala yang dapat diraih bagi kaum muslimin yang
menunaikan puasa Arafah di bulan dzulhijjah ini. Dalam hadits lain dikuatkan
bahwa rasul bersabda: "Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah
membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari
Arafah." (HR. Muslim)
Shalat
Idul Adha
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Amal utama
di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’
menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang
berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan
terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah
kebalikannya: disunnahkan makan setelah shalat id.
Amalan lain
yang dapat dilakukan di bulan dzulhijjah adalah Berqurban Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai pendidikan. sebagaimana sejarah disyariatkannya qurban
pada masa Nabi
Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta bentuk
ketaqwaan kepada Allah. Kita sekarang
tidak diperintahkan untuk menyembelih anak-anak kita, tetapi menyembelih
kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan ketaqwaan kita
kepada Allah SWT.
Keutamaan
qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits: "Tidak ada amalan yang diperbuat manusia
pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan.
Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya,
bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke
tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan
berkurban." (HR. Tirmidzi)
وَالْعَصْرِ {1}إِنَّ الْإِنْسَانَ
لَفِي خُسْرٍ {2}إِلَّا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ {3}
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
=================================
Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا
كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ
تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَلِلَّهِ مَا
فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا
عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى (31) الَّذِينَ
يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ
وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ
وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا
أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سميع قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ و أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ
أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا
وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ
قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا
لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ
رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا
اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
By
Unknown
at
Jumat, September 18, 2015
0
comments
Labels: Rak Tulisan 08
25 Maret 2015
23 Maret 2015
Malu Bertanya, Sesat dan Menyesatkan
Malu
adalah sifat yang mulia sebagaimana yang banyak disampaikan oleh ajaran agama,
terlebih budaya nusantara yang kaya akan budaya yang seirama dengan ajaran
Islam tentang bersifat malu, namun ada juga malu yang harus dibuang dalam
kehidupan ini yaitu malu bertanya atas apa yang tidak diketahui.
Banyak
orang karena merasa malu untuk bertanya, maka akibatnya melakukan beberapa hal
baik namun tidak sesuai aturan, bahkan merusak nilai kebaikan tersebut.
Berkembangnya radikalisme dalam
beragama adalah salah satu bentuk nyata dari sikap malu bertanya kepada ulama,
hingga kemudian menyeret dalil-dalil agama sesuai kemauan mereka, memaknai ayat
dengan sepotong-potong, dan berijtihad tanpa keakuratan yang layak, bahkan
terkadang menganggap dia sendiri yang beriman dan yang lain dikafir-kafirkan,
sementara rasulullah sendiri mewanti-wanti umat Islam untuk tidak menuduh orang
lain terutama sesama muslim sebagai orang kafir, musyrik dan munafik.
Kenapa demikian, karena barang siapa
mengatakan saudaranya kafir, musyrik dan munafik namun ternyata yang dituduh
tidak kafir, maka penuduhnyalah yang kafir sebagaimana pesan nabi:
"Barangsiapa
berkata kepada saudaranya, 'Hai kafir, maka sesungguhnya kalimat ini akan
kembali kepada salah seorang di antara mereka."
( Muttafaq
'Alaih dari Ibn Umar,al-Lu'lu' wa al-Marjan, hal 39 )
Maksud
hadith diatas adalah kalau tuduhan kafir akan mengenai salah satu dari penuduh
dan yang dituduh, jika yang dituduh tidak kafir maka penuduhlah yang menjadi
tempat kembalinya kalimat itu.
Satu hal
yang sangat penting disini ialah kemampuan untuk membedakan tingkat kekufuran,
kemusyrikan, dan kemunafikan. Setiap bentuk kekufuran, kemusyrikan dan
kemunafiqan ini ada tingkat-tingkatnya.
Akan
tetapi, nash-nash agama menyebutkan kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafikan
hanya dalam satu istilah, yakni kemaksiatan; apalagi untuk dosa-dosa besar.
Kita
mesti mengetahui penggunaan istilah-istilah ini sehingga kita tidak mencampur
adukkan antara berbagai istilah tersebut, sehingga kita tidak menuduh sebagian
orang telah melakukan kemaksiatan berupa kekufuran yang paling besar (yakni ke
luar dari agama ini) padahal mereka sebenarnya masih muslim.
Orang
yang mudah mengkafirkan orang lain, adalah contoh orang yang sesat di jalan
aqidah karena malu bertanya kepada ulama yang ahli di bidangnya, sementara
Allah jelas menganjurkan manusia untuk bertanya kepada Ahlinya jika memang
manusia itu tidak mengetahui, dan agar tidak merusak sistem dan kehidupan ini.
Dalam
hal fiqh, terkadang juga banyak orang malu untuk bertanya tentang hukum-hukum
fiqhiyah, akibatnya banyak inovasi dalam melakukan ibadah dan tidak menyadari
bahwa hal itu merusak nilai-nilai ibadah bahkan membatalkan ibadah tersebut.
Pernah
terjadi di saat sujud seseorang bersujud, namun satu tangannya memegang mushaf
namun tidak melengkapi syarat sahnya sujud, padahal orang itu punya dua tangan.
Dalam hal ini mungkin orang tersebut belum tahu kalau sahnya sujud itu
menempelkan tujuh hal, yaitu dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua
telapak kaki walau sebagian. mungkin maksudnya menjaga mushaf yang ia baca atau
dipakai menyimak bacaan saat berdiri, namun tidak muat dalam saku, sehingga
dalam sujud pun masih ia genggam, namun mungkin ia belum tahu kalau sujudnya
tidak sah, maka sholatnya juga tidak sempurna keabsahannya.
Sebagaimana
pula diketahui bahwa syarat sahnya sholat adalah sucinya badan, pakaian dan
tempat sholat, maka kenapa kita membersihkan badan, mencuci baju dan menjaga
lantai yang kita tempati bersujud maupun lantai yang kita lewati dalam kondisi
suci, tidak lain adalah untuk menjaga sahnya ibadah kita.
Dalam
hal ini sepatu dan sandal membantu manusia menjaga kesucian badan agar tidak
terkena najis dan kotoran, dan hal demikian juga tidak boleh malu bertanya,
mana lantai yang suci dan mana lantai yang tidak suci, agar jelas dimana kita
pakai sepatu dan dimana kita melepasnya.
Penggunaan
alas kaki, sepatu dan sandal sesuai fungsi dan manfaat, akan menjadikan badan
suci, lantai suci dan hati suci, namun penggunaan sepatu dan sandal yang
kotor pada lantai yang suci akan
mengotori kesucian lantai, mengotori kesucian badan orang lain. Jika hal itu
terjadi maka keabsahan ibadah orang lain bisa rusak atau bahkan batal akibat
ketidaksucian hati orang yang menggunakan sepatu dan sandal di lantai yang
suci.
Semoga kita tidak malu bertanya,
agar tidak sesat di jalan akidah, dan tidak menyesatkan orang lain, juga
menjaga kesucian dan keabsahan ibadah kita dan juga ibadah orang lain, dengan
menempatkan sesuatu sesuai fungsi dan mafaatnya demi menyempurnakan
syarat-syarat keabsahan amal ibadah kita semua.[]
By
Unknown
at
Senin, Maret 23, 2015
0
comments
Labels: Rak Tulisan 08
Langganan:
Postingan (Atom)
10 Artikel Populer
-
Menyentuh Makna Poligami Oleh : Mochammad Moealliem وَآتُواْ الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَ تَتَبَدَّلُواْ الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَ تَ...
-
Oleh : Mochammad Muallim Bagi yang pernah belajar agama disekolahnya, minimal tahu nama 10 malaikat beserta tugas-tugasny a, kalau sampai ti...
-
Posisi Sholat Berjamaah Kontroversial Oleh : Muhammad Muallim Lc. Tulisan ini berawal dari kegelisahan saya, dan mungkin sebagai tanggungjaw...
-
Doa Jibril Menjelang Ramadhan Yang Kontroversial Oleh : Mohammad Muallim Banyak orang muslim, ketika mendapat pesan pendek baik lewat intern...
-
Tentang Islam, Iman dan Ihsan Oleh : Mochammad Moealliem عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الل...
-
Oleh : Mochammad Moealliem Lakukanlah sholat wajib di waktu awal malam, juga saat terbenamn ya mega merah, dan akhir malam. Yaitu sholat Mag...
-
Sebaik-baik umat manusia Oleh : H. Mohamad Mualim, Lc., MA إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَن...
-
Teori Pemurnian Tauhid Oleh : Mochammad Moealliem Abdau bismillahi war rohmani, wa bir rohimi daimil ihsani, Aku mulai dengan menyebut nama ...
-
Hukum Bersuci dengan Air Musyammas Oleh : H. Mohamad Mualim, Lc. Tahukah anda apa itu air musyammas? Adalah air yang tidak terhindar d...
-
Hidup Adalah Teka-teki Oleh : Mochammad Moealliem Tujuh huruf diawali dan diakhiri dengan huruf ketujuh, sesuatu yang biasanya terbuat dari ...