20 Maret 2008

Tebang Pilih Perintah, Berjenggot atau Rihlah


Tebang Pilih Perintah, Berjenggot atau Rihlah
Oleh : Mochammad Moealliem


Suatu ketika aku menemui fenomena tentang orang-orang yang memaksakan hukum islam dengan cara berpikir yang dangkal, seolah pemahaman mereka adalah sama persis dengan kehendak tuhan, hingga orang yang punya sikap berbeda akan serta merta dijustifikasi salah walaupun memiliki dasar.

Pembahasan kali ini akan membahas wisata ke ma'bat fir'aun dan jenggot. Pembaca tentu akan merasa hal itu apakah berhubungan, mari kita telusuri bersama.

Memelihara jenggot adakah wajib hukumnya atau sunnah? Tiga madzhab besar menganggap wajib, sementara madzhab syafii menganggap sunnah. Penulis disini sepakat dengan madzhab syafii yang lebih moderat dan lebih peka zaman.

Bagi anda yang menganggap wajib, silahkan simak uraian saya tentang dasar yang dipaksakan untuk menganggap wajib, hingga bagi yang mencukurnya dianggap sama dengan berzina, dan melakukan dosa besar, padahal tidak ada dosa yang dianggap besar, kecuali akan terdapat ayat yang akan menyebutkannya.

Anggap saja ini adalah sangkalan saya pada kitab yang berjudul "tahrimu halqi lliha" yang ditulis oleh abdurahman bin muhammad bin qosim, mungkin kitab itu tak terlalu panjang, hanya saja bahasa yang dipakai berputar-putar dangan dalil yang itu-itu aja.

Yang saya sayangkan adalah mendudukkan orang yang tidak mengganggap wajib, sama halnya dengan melakukan dosa besar, hal demikian karena mereka menganggap bahwa fiil amar (kata perintah) bermakna wajib, padahal tidak semua kata perintah bermakna wajib, apalagi dasar yang dipakai adalah satu-satunya hadith yang pada dasarnya mencakup tiga unsur, potong kumis, biarkan jenggot dan berbedalah dengan kaum musyrik. Namun dalih yang dipakai adalah al aslu fil awamir al wujub, wal aslu fi nawahi attahrim. pada dasarnya kata perintah berarti wajib, dan larangan berarti keharaman.

namun kaidah itu dipotong, sehingga membuat pembaca akan langsung tunduk tanpa punya hak berpikir, dan kemudian didukung dengan ayat wa ma atakum....ayat umum yang menyuruh kita taat pada nabi, bukan ayat yang menyuruh berjenggot. dan tidak ada satu ayatpun dalam alqur'an yang memerintahkan orang beriman harus berjenggot.

Hal itu tidak ada dalam alqur'an, lalu bagaimana dengan wisata ke ma'bad fir'aun, kenapa mereka tidak mewajibkan? Padahal ayat-ayatnya sangat banyak yang menyuruh kita untuk berkeliling bumi mengenang kehebatan mereka.

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah ; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan .3:137

Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."6:11

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?12:109

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat : "Sembahlah Allah , dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan .16:36

Katakanlah: "Berjalanlah kamu bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.27:69

Katakanlah: "Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.29:20

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka dan telah mengolah bumi serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.30:9

Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan ."30:42

Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.35:44

Untuk pembaca yang merasa memelihara jenggot adalah wajib, kira-kira wajib mana dengan wisata ke tempat-tempat sejarah yang termaktub dalam sekian banyak ayat diatas, apakah bagi yang tidak berwisata juga tergolong maksiat, karena semua itu dengan fiil amar (kata perintah), bukankah dalam pengambilan hukum Alqur'an nomor satu dan palig tinggi kekuatannya?

Kalau saja penulis kitab itu bisa memahami tulisanku ini, tentu penulis berharap bisa tehu bagaimana dia mengambil hukum dengan ayat itu? Adakah dia hanya akan memilih ayat-ayat yang sesuai dengan misi madzhabnya saja.

Apakah mereka lebih menguatkan kata-kata manusia dari firman Allah, bukankah mereka menganggap orang membaca shalawat kepada Nabi dianggap musyrik, padahal Innalloha wamalaikatahu yusholluna ala nabi, ya ayuhalladzina amanu shollu alaihi wasallimu taslima. Bukankah itu kata perintah?

Mungkin itulah sedikit kegelisahanku membaca tulisan yang tak begitu dalam, dan hanya sekedar memperkuat konsep madzhab tertentu, bahkan justfikasi sepihak bahwa yang menentang mereka tak berhak menuju kebenaran. Sekaligus sebagai bahan untuk kita belajar lebih dalam, agar tidak terjebak pada kebodohan yang akan menimbulkan radikalisme dalam beragama dengan dogma-dogma yang dibungkus dengan indahnya.

Salawat salam bagimu muhammadku, hari ini (12 robiul awal) dulu kamu lahir dan menjadi muallimku hingga hari itu menjemputku kembali bersama, dihadapan Dzat yang maha pemurah dan pemaaf atas apa yang aku potong dari jenggotku, Mungkin bukan karena aku maksiat kepadaNya, namun mungkin karena aku belum mampu memelihara jenggot yang menjadi sunnahmu, karena engkaulah kekasihNya maka siapa saja yang mengasihimu adalah dikasihi olehNya.

Alliem
Kamis, 20 Maret 2008
Met Lahir Kembali Dihatiku


2 komentar:

  1. Yes, really. And I have faced it. We can communicate on this theme.

    BalasHapus
  2. Yaa...smg kita semua senantiasa mendapat petunjuk, ridho serta rahmat-NYA.
    Amiin....

    BalasHapus

Katakan pendapatmu kawan

10 Artikel Populer