04 Desember 2007

Belajar Mandiri Sejak Dini

Belajar Mandiri Sejak Dini
Oleh : Mochammad Moealliem

Serba cukup adalah sebuah hal yang membuat manusia manja, namun serba kurang terkadang membuat manusia putus asa, lalu bagaimana manusia harus melatih dirinya mandiri dari bergantung buta pada orang tua, sanak saudara, atau bahkan pada Negara. Tak lain adalah menggerakkan akal yang telah kita punya untuk berusaha mempraktekkan berbagai pelajaran yang kita terima sebelum kita dewasa.

Kita semua pernah mengalami masa balita, kanak-kanak dan remaja, dalam masa itu kita hidup seperti disurga, dalam usia 0 sampai 5 tahun, kita adalah balita, dua tahun pertama dalam kehidupan kita, yang kita lakukan adalah tidur dan makan-minum, cukup dengan menangis, makanan secara langsung dimulut kita, dan saat itu kita punya kemandirian juga, yaitu menghisap makanan dari tempatnya.

Tahun ketiga sampai ke lima, kita mulai bertambah mandiri, yaitu berusaha jalan-jalan tanpa gendongan orang tua, meskipun masih "mberangkang"[1] dan sesekali terjatuh dan sirine kita bunyikan dengan menangis, pertolongan secara langsung menyelematkannya. Tahun berikutnya kita mulai kenal mainan dan dengan mainan itu kita makin semangat berusaha, berdiri, berlari, melompat, meski terkadang jatuh juga, namun dengan jatuh itu kita menjadi tahu kekurangan dan kita menjadi hati-hati secara sendirnya.

Tahun kelima kita mulai merangkai kata, mengenal warna, bahkan sudah punya rasa suka pada orang lain, mulai mengenal nama-nama benda juga nama-nama manusia, dan sejak itulah mungkin awal ingatan kita mampu kita telusuri saat ini, dan pada masa sebelumnya kita tidak ingat apa-apa.

Diusia seperti ini kita seperti lembaran tanpa noda, apa yang masuk pada indra kita adalah sebuah catatan yang akan membekas hingga kita tua, maka tak heran peran orang tua dalam mendidik kita dimasa balita adalah pendidikan dasar yang menjadi pondasi hidup kita selanjutnya. Sikap orang tua, kondisi keluarga, dan segala yang menjadi lingkungan kita, akan berpengaruh pada kejiwaan kita, dan kita akan menjadi cermin bagi orang tua kita secara tidak langsung.

Masa remaja, adalah masa dimana kita mulai protes, walaupun kita masih tidak mampu untuk tidak bergantung pada orang tua, namun keinginan kita bertambah, kebutuhan kita bertambah, maka tak heran orang tua sering berkeluh kesah dengan kenakalan remaja buah hatinya. Biasanya hal demikian terjadi dimasa pubertas, atau dimasa baligh, bagi kaum laki-laki normalnya umur 15 tahun, perempuan umur 9 tahun. Tergantung psikologi anak tersebut apa yang akan terjadi dimasa itu. Jika pendidikan dasarnya tepat maka dia akan menjadi lebih berakal, namun bila tidak tepat dia akan menjadi brutal.

Hal itu terjadi mungkin karena perbedaan zaman, sementara orang tua kita mendidik dengan metode yang dipakai kakek kita dalam mendidik orang tua kita dahulu, dan kini dipaksakan untuk kita, sementara zaman sudah berubah begitu rupa. Penulis jadi teringat hadith atau sebuah kalimat, yang berbunyi allimuw awladakum fainnahum la ya'isuw fi zamanikum didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka tidak hdup dizaman kecilmu,

Dan mungkin kondisi demikian adalah fitrah manusia sajak awalnya, yaitu ketika Adam dan Hawa mulai tampak auratnya. Pada sejak manusia dikatakan baligh itulah manusia harus menutup auratnya, dan baligh itu ditandai dengan berubahnya payudara kaum hawa menjadi berbeda dari sebelumnya dan kini berkembang sesuai adatnya, sebagaimana ketika Hawa tersadarkan dari buah yang dimakan kala disurga. Sementara bagi kaum Adam ditandai dengan kalamenjing ditenggorokan, sebagaimana Adam yang juga memakan buah disurga.

Sejak itu pula, manusia menjadi penanggungjawab atas dirinya sendiri, sebagaimana Adam dan Hawa bertanggungjawab atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Segala kebaikan yang dilakukan akan kembali pada dirinya sendiri, dan segala keburukan pun kembali pada dirinya sendiri. Hanya saja kita tidak persis seperti Adam, sebab kita punya orang tua, kebaikan kita adalah juga menjadi kebaikan orang tua, keburukan kita pun menjadi keburukan orang tua.

Laki-laki dan wanita pada masa sebelum baligh bentuk tubuhnya tak jauh berbeda, tak ada rasa malu, sebab kemaluan mereka belum tampak meski sudah ada, tapi ingat 15 tahun banding 9 tahun, jadi analisa penulis jarak penciptaan Adam dan Hawa sekitar 6 tahun, sebab tampaknya aurat mereka dalam waktu yang sama, atau waktu balighnya bersamaan. Maka tak asing jika manusia mempunyai istri yang 6 tahun lebih muda dari usianya atau bahkan lebih dari itu, meskipun hal demikian bukan jaminan, sebab sejarah mencatat bahwa nabi Muhammad beristri khadijah 15 tahun lebih tua. Nah bagi yang pro poligami silahkan cari yang tua dulu, namun yang pro monogami silahkan cari yang lebih muda.

Tapi pesan nabi carilah yang perawan jika ingin menikah, dengan begitu kamu akan bisa berbagi secara harmonis, tula'ibuha wa tula'ibuka (bukhori.2745).

Loh kok jadi menikah bahasan kita? Namun setidaknya pernikahan adalah termasuk usaha untuk mandiri, meskipun sampai saat ini penulis sendiri masih belum mampu mandiri, tapi masih berusaha mandiri sejak dini, penulis rasanya masih di surga, dan belum boleh turun ke bumi, mungkin ilmu yang penulis kuasai selama disurga ini masih belum cukup mampu untuk bekal hidup dibumi.

Jika pembaca sudah merasakan hidup dibumi, beritahu penulis bagaimana pahit dan manisnya kehidupan disana, selama ini penulis hanya memakai kacamata manusia secara umum, kelihatan begitu indah walau mungkin yang menjadi lakon pontang-panting, banting-tulang, bahkan jungkir-balik, akan tetapi penulis yang masih jadi penonton cukup terhibur dengan drama yang ada. Dan penulis sedang meneleti kegagalan para pelaku drama selama ini agar hal itu tidak terjadi pada penulis disaat mengambil peran dimasa selanjutnya.

Alliem
Cairo, Selasa 04 Desember 2007
Di bumi tak seindah d surga

--------------------------------------------------------------------------------

[1] Mberangkan, jawa. Berjalan dengan kedua tangan dan kedua kaki




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Katakan pendapatmu kawan

10 Artikel Populer