07 November 2007

Sang Guru 2


Sang Guru 2
Oleh : Mochammad Moealliem

Sambil berjalan-jalan tanpa arah di lokasi asrama kulangkahkan dua kakiku satu persatu sambil mulut komat-kamit, mata melirik lembaran kecil yang aku buka perlahan-lahan dengan harapan apa yang aku lirik bisa langsung hafal dan tak ingin aku lupa akan hal ini, tanpa tujuan yang pasti seperti keadaan udara yang berhembus meniup dahan-dahan kering tanpa daun yang banyak tumbuh disekitar lokasi asrama yang cukup besar itu.

Sore itu aku ingin tahu realita sebuah pengumuman yang sering muncul ditepi jalan dimana aku berlalu lalang ria, tertulis dipengumuman singkat itu, sore ini ada nadwah al ammah ( seminar umum) di masjid an nur di daerah Abbasiyah, tanpa aku ingat apa temanya saat ini dan siapa pembicaranya aku arahkan kakiku yang tak terarah itu agar membawaku ke masjid asrama dimana biasanya mobil jemputan akan parkir disitu.

Berselang beberapa menit dimana aku sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan sebuah pohon yang begitu liberal ( nggak ada daunnya) bergoyang seolah tak perlu berfikir akan kemana dia terbawa arus hembusan angin yang belum bersahabat dengan lengan pendek musim panasku. Terlihat mini bus datang dan sudah bisa aku pastikan itu mobil jemputan yang aku tunggu.

Satu orang turun dari mobil itu, senbari sang sopir memutar badan mobil agar mudah kita untuk memasukinya, terdengar panggilan yang berasal dari speker yang tergantung di atap masjid itu. "Para tholib sekalian bagi siapa yang hendak mengikuti seminar dimasjid annur, mobil telah siap didepan masjid" itu terjemah singkat dari panggilan itu, tak lama kemudian temen-temen masuk dan aku pun ikut masuk dengan sebuah suguhan langsung sebuah buku (kitab) tanpa aku tanya ini dari siapa dan untuk apa?.

"Al fikr al islamy al mutawazin" itulah sebuah kalimat yang terpampang besar di sampul buku yang di terbitkan oleh kementrian wakaf majlis al a'la li syuun al islamiyah, aku bolak balik buku itu barangkali ada judul yang unik dan menggelitik namun belum aku temukan apa yang aku cari mobil mulai berangkat dengan membawa sekitar 20 mahasiswa yang aku pun tak tahu dari negara mana saja dia, yang aku lihat ada sekitar 5 mahasiswa Indonesia. maklum saja sebab acara seperti ini dilakukan setiap hari minggu, jadi bagi kebanyakan mereka sudah males ikut-ikutan seminar.

Sambil menikmati warna jalan yang begitu warna-warni dengan cat alami masyarakat setempat sambil mencari sebuah rambu-rambu yang bisa menjadikan lalu lintas itu tertib, mobil berjalan dengan kemauan sopir tua itu, tiba pula akhirnya di masjid yang terhitung besar dan memiliki dua menara yang menjulang kelangit begitu tinggi melebihi tinggi rumah susun 12 lantai daerah sekitar.

Waktu masih begitu longgar untuk menghilangkan sebuah penasaran, seorang teman mengajakku ke perpustakaan masjid yang berada di lantai bawah masjid besar itu, ternyata ada perpustakaan besar yang begitu tenang meski banyak terdengar suara membolak-balik kertas-kertas tua yang tertata rapi layaknya toko buku.

Dalam kenikmatan melirik catatan dalam kertas-kertas itu, ternyata magrib pun selalu on time datangnya, dengan segera kembali keatas sebab habis magrib seminar itu dimulai, kupandangi mobil-mobil sejenis yang menjemputku berbaris rapi dengan sehelai kertas menempel pada kaca depannya, tertulis daerah-daerah yang menurut dugaan saya adalah daerah penjemputan mobil itu.

Rasa heran muncul pada diri saya ketika masuk masjid mendapati orang-orang yang berkopyah merah dibalut sorban putih yang begitu banyaknya, sambil berbisik aku lempar pertanyaan pada kawanku "bukankah mereka ini para ulama azhar?" iya, jawabnya singkat.

Penasaran itu pun belum berhenti sampai acara itu selesai "kenapa banyak sekali orang-orang itu disini adakah rumahnya didekat sini?".

Sebelum penasaranku terjawab, mulailah acara yang bernama nadwah itu bertempat dibangunan masjid besar itu dibagian ruang nadwah, yang tersusun seperti gedung bioskop dengan ac yang ebgitu terasa sejuk, kursi yang begitu banyak pun mulai terpenuhi, dan para ulama azhar terilihat dominan sekali dalam ruangan ini sekitar separoh ruang yang luas itu, seperempat diduduki wanita dan perempuan, seperempatnya lagi umum dan kita termasuk yang umum.

Acara pun dimulai dengan diawali seorang moderator yang terlihat begitu menggebu dalam berbicara, duduk disampingnya pembicara hari itu, dan dua orang-orang azhary, salah satunya adalah imam masjid sayidah nafisah yang menjadi pelantun ayat-ayat suci alqur'an waktu itu, bisa saya pastikan dia hafal qur'an beserta lagu-lagu qiroatnya.

Terlihat begitu merasuk dalam dada berbeda sekali dengan lantunan yang tedengar dalam seminar-seminar yang lain, acara pun bergerak lembut searah dengan putaran waktu, pembahasan atau tema yang sedang dibicarakan sepertinya tentang jiwa besar sayyidina umar dan ditengah-tengah ketegangan otakku yang menjadi juru terjemah bagi diriku sendiri yang tergolong masih amatir dan terkadang kehilangan konsentrasi gara-gara indraku masih saja melakukan pengamatan tentang sesuatu yang bertolak belakang dengan seminar tersebut.

Gerrr...tertawa atau pun tersenyum bersama menganggu pengamatanku dan aku bingung haruskah aku tertawa ataukah hanya tersenyum untuk mengungkapkan sesuatu yang tak mampu aku ungkapkan dengan lisan kecilku. Bahasa yang dipakai terlihat didominasi bahasa ammiyah di topang dengan kecepatan bicaranya yang membuatku kalang kabut, bagi orang sekitar laa musykilah (tak masalah) tapi bagi kita musykilah 'awi ( asalnya Qowy dibaca 'awi ) masalah banget. dengan tidak begitu faham dengan yang dibicarakan namun aku bisa membedakan mana bicara dan mana sastra.

Syair-syair (mungkin aja jahily) terlantunkan yang bagi mereka akan mudah memaknai sesuatu yang tersirat dari puisi atau syair itu, namun bagi saya hal itu memberi sebuah keilmuan tentang syair-syair lalu, yang sepertinya hanyalah remeh namun terkadang hal itu menjadi hujjah atau dalil orang orang sekarang, kenapa hal itu bisa terjadi? para ahli tata bahasa arab tentunya lebih pandai membuat syair-syair seperti ini, seperti pengarang 'imrity atau pengarang alfiyah yang syairnya pernah menjadi kewajibanku untuk menghafalnya meski sekarang ada beberapa yang lupa.

Ternyata para penyair itu membuat syair bukan hanya karena kebanyakan melamun, seperti pengarang imriti menjadikan metode tata bahasa dalam sebuah sastra dengan harapan mudah dibaca serta difahami, imam Syafii ternyata juga pandai bersyair, itu orang-orang yang lalu ada yang beranggapan begitu, akan tetapi saya rasa tidak seperti itu, buktinya dalam sebuah seminar itu ada seorang peserta dalam sesi tanya jawab memberikan syair yang dia karang spontan ada sekitar 5 bait syair tentang baharnya saya kurang jelas mungkin kita perlu taqteq dulu.

Satu jam berselang dalam ruangan yang penuh dengan bahasa arab, otak panas adalah wajar dan pengen saja aku cepat-cepat keluar dari ruangan itu biar mendapat udara segar,buru-buru kepeninganku mengajakku bertanya pada temenku yang kebetulan duduk didepan kursi yang aku duduki, "Sampai jam berapa?" tanyaku padanya. Sampai Isya' jawabnya singkat, akhirnya aku terpaksa mempelototi jam yang aku tempel tangan kiriku, sebentar lagi akan seslesai acaranya dalam benakku. Namun apa yang terjadi?.

Jawaban bisa anda kirim ke email saya, jika benar berarti anda pernah mengalami hal semacam ini.

Terlepas dari apa yang sedang terjadi, setelah waktunya pulang apa yang menjadi penasaranku sedikit ada jawaban ternyata para ulama-ulama azhar itu bukan hanya dari sekitar itu saja akan tetapi mreka pun sama dijemput dan diantarkan kembali setelah selesainya acara ketempat mereka sesungguknya, dan tentunya kita-kita juga seperti itu.

alliem
bagi-bagi cerita ceria


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Katakan pendapatmu kawan

10 Artikel Populer