07 November 2007

Perkampungan Fir aun


Perkampungan Fir aun
Oleh : Mochammad Moealliem

Pharonic village, qoryah fir'auniyah dalam bahasa aslinya, sebuah perkampungan yang sengaja dibuat khusus untuk fir'aun-fir'aun tua dan para penggemarnya, nenek moyang yang memberi devisa besar-besaran untuk anak cucunya, hingga segala tingkah polahnya mampu merogoh dompet para wisatawan yang kagum dengan kecerdikan dan kebodohan fir'aun-ir'aun itu.

Perkampungan yang didesain rapi dengan memanfaatkan sebuah delta besar sungai Nile dengan menggunakan perahu untuk mengelilinginya dengan panduan suara praktis kaset dengan bahasa arab or english, perlahan perahu itu mulai menyusuri sungai buatan, dalam delta, ditengah sungai nil, jadi membuat sungai-sungai kecil ditengah sungai, mulailah si "kaset" itu menyebut tuhan orang Mesir kuno, yang berderet rapi dibibir sungai buatan itu, setiap 10 meter, tuhan buatan (tuhan orang mesir kuno buatan orang Mesir baru), berganti, mulai yang oziris,izis,horus,amun,ehnathun, dan tuhan-tuhan palsu yang lain.

Dengan gaya yang paten tuhan-tuhan palsu itu, tak bisa bergerak, tak bisa bicara, tak bisa marah, tak bisa melihat, kepala batu, tangan batu, tubuhnya juga batu, (maksudnya: arca) perahu pun baru menempuh setengah perjalannya, setelah perahu meninggalkan parkir tuhan-tuhan palsu itu, mulailah dengan pemandangan dengan gambaran sebuah kehidupan masyarakat era fir'aun yang dihidupkan oleh semacam opera live, yach orang mesir sekarang dengan memakai pakaian zaman kuno, dan akan berakting ketika perahu pengunjung lewat di depan gedung panggungnya.

Terlihat pertama kali sesuai dengan perjalanan perahu itu adalah pemandian istri fir'aun ditepi nile dengan para budaknya yang pada akhirnya menemukan seorang bayi yang terapung dalam peti serta terbawa oleh aliran nile waktu itu, itulah kisah Musa AS. sebuah gambaran singkat yang mewakili untuk kembali membuka sejarah tentang kisah Musa AS.

Beralih dari lokasi itu ada gambaran sebuah pertanian juga peternakan pada masa lalu, dengan diperagakan secara jelas oleh puluhan kambing dengan penggembalanya, serta dua sapi dalam satu rakitan yang menarik bajak untuk menggarap sawahnya, ada juga dengan cangkul kayunya, terlihat juga gaya pemilik tanah sedang memantau kerja para buruh taninya, ada juga yang mengambil air dari nile dengan alat yang masih sangat sederhana.

Beralih lokasi selanjutnya, adalah penimbunan bahan makanan dengan mengumpulkan gandum pada sebuah tempat yang sengaja dibuat untuk itu, disertai seorang ibu-ibu sedang membersihkan gandum-gandum dari daun- daun yang terbawa saat memanennya, lokasi selanjutnya pembuatan perahu dengan dahan-dahan yang mereka atur sedimikan rupa hingga bisa aman diatas air, selanjutnya lokasi pemancing, penjaring, dan para nelayan dalam mencari ikan, meski ketika kami lewat mereka mengangkat jaringnya yang banyak ikan yang terjerat dalam jaringya, ternyata ikan dari plastik (biar awet soalnya yang lewat bukan hanya satu perahu).

Lepas dari jaring ikan, kita memandang pabrik senjata, lalu kemudian lokasi pembangunan gedung, lokasi cara memumikan mayat, disusul pembuat pakaian, di sertai juga dengan pembuat perkakas dari tanah liat (lempung), pelukisan dinding, pemahatan, dalala (dan lain-lain).

Selesai sudah naik perahu selama kurang lebih 30 menit, sekarang merapat di depan sebuah tiruan ma'bat (tempat penyembahan) di luksor aslinya, (luksor : mesir bagian selatan dekat Sudan) kemudian kita dipandu seorang gaet untuk melihat dengan berjalan-jalan pada perkampungan tengah nil itu, yang tanpa ada penduduk aslinya, karena penduduk disitu sudah dibeli untuk akting, dan kalo dah waktunya istirahat pada kembali pada rumah aslinya, juga wajah aslinya, pakaian aslinya, dan melepaskan kepalsuan-kepalsuan yang berharga mahal itu.

Bangunan gedung pun dibentuk semirip mungkin meski tetap saja berbeda dengan aslinya, terhitung seperti miniatur tapi besar, putar-putar kami mengikuti langkah sang gaet, mulai dilihatkan keraton raja-raja dulu, serta technologi yang begitu lumayan, maksudnya waktu itu dibanding dengan Indonesia, ada sebuah pembatas waktu dari sebuah bejana dengan dua belas titiknya untuk mengetahui jam hari itu, dengan diisi air lalu ada lubang kecil tempat keluarnya dan setiap titiknya akan kering sesuai dengan tetesan air itu, wis pokoknya nggak ada yang canggih dibanding dengan sekarang.

Namanya juga tempat wisata tentu dijual pula aksesoris disana, dan kita pun dibawa sang gaet menuju sebuah mini pasar phie bukan peragaan jaman dulu, akan tetapi barang yang dijual berbentuk seperti barang dulu, lama berselang sang gaet kembali mengajak kita masuk pada makam tiruan raja-raja dulu, sebuah makam yang begitu besar dimana selain untuk menyimpan mayatnya sang raja, juga untuk menyimpan harta bendanya, yang kebanyakan berbuat dari emas, papar sang gaet.

Yach seperti itulah perkampungan fir'aun, pharonic village, qoryah fir'auniyah, yang kalau dibanding taman mini masih jauh banget, hanya karena hal itu mengandung unsur sejarah saja, sehingga banyak wisatawan penasaran, termasuk saya, namun saya kurang puas sebenarnya, bagaimana tidak? tidak ada peragaan bagaimana menyusun piramida yang besar,dimana ukuran batunya nggak tanggung-tanggung 2x1x1 meter, bagaimana menumpuknya sampai setinggi itu, bagaimana memahat spink yang besar yang menghias piramida besar di giza itu.

Alliem,

Ahad, 24 April 2005
menyegarkan pikiran menyongsong ujian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Katakan pendapatmu kawan

10 Artikel Populer