07 November 2007

Bermadzhab Itu Perlu 1

Bermadzhab Itu Perlu 1
Oleh : Mochammad Moealliem

Dalam kamus kontemporer arab-indonesia madzhab mempunyai banyak arti diantaranya bermakna : doktrin, ajaran, aliran, teori, ideologi, pendapat, dll. Namun sebenarnya tanpa definisi-definisi tersebut kita sudah bisa memahami makna madzhab secara umum. Sering kita mendengar aturan yang kita pakai dalam beribadah baik ibadah yang sifatnya jasmani, rohani, maupun keduanya, kita masyarakat indonesia tak lepas dari yang namanya madzhab ini.

Satu misal kita pernah mendengar aturan ahlusunnah Indonesia dalam beribadah dengan memakai salah satu dari empat madzhab besar yaitu Syafii, Hanafi, Hambali, Maliki. Kemudian dalam bertasawuf mengikuti madzhab imam al Ghozali, dalam bertoriqot mengikuti madzhab Naqsabandi dan sebagainya.

Perlukah kita bermadzhab? sebuah pertanyaan yang membuatku ingat sebuah malam ketika sedang mempersiapkan ujian beberapa waktu lalu, seseorang yang membuatku kagum akan ketekunannya dalam belajar membuatku sadar bahwa seperti itulah aku seharusnya. Dalam sebuah asrama yang begitu luas yang tertata rapi tempat duduk disetiap trotoarnya dari jalan raya dalam asrama yang baru saja rapi dari lubang perbaikan saluran air bawah tanahnya, dengan udara musim semi yang segar bersama daun-daun yang sedang bersemi dari kekeringan. disorot lampu-lampu kota yang begitu terang aku memilih tempat duduk yang kosong agar bebas bersuara menghafal materi yang mau diujikan, meski terkadang masih saja bubar secara seporadis ketika telah masuk ruangan.

Kursi yang memanjang itu aku duduki dengan seseorang yang lebih dulu duduk disitu, sambil memaksa untuk hafal apa yang aku baca, datanglah sesorang menghampiri tempat duduk itu, dan aku kenal wajah serta negaranya meski belum kenal namanya, anak dari China yang tiap malam mondar-mandir ditengah jalan ini sembil membaca buku( maklum jalanya milik asrama, jadi nggak ada mobil lewat )dengan agak keras biasanya anak china ini melafalkan bacaannya yang berbahasa inggris yang terlihat susah sekali untuk lidah china, namun semangatnya begitu hebat dalam belajar.

Suatu malam, sejak ba'da isya atau pukul 10 malam sebab isya'nya jam 21.00, subuh jam 04.10 magribnya jam 20.00 (untuk musim panas) anak China itu sudah ada disitu dan aku, namun dua jam setelahnya aku sudah ganti acara, sebab sudah terasa puyeng dipaksa apapun nggak bakalan masuk. Hingga malam yang sempit itu berlalu tanpa terasa subuh pun semakin mendekatkan ujian yang harus aku lewati. Heran aku melihat anak China itu masih membaca buku ditempat itu sewaktu aku menuju masjid. Mungkin aku sedang menderita penyakit sok pintar yang membuatku tak mampu seperti anak China itu.

Tiba-tiba anak China itu menghampiri orang yang duduk disebelahku seorang syeikh yang sedang dalam mengikuti semacam pendalaman keilmuan di al azhar selama tiga bulanan utusan dari negara Aljazair, akhirnya mereka ngobrol karena aku disebelahnya aku ikut terhibur dengan kenangan kebodohanku dalam berbahasa asing awal-awal dulu, dan itu keluar dari anak china itu. Aku sesekali tersenyum ketika apa yang dimaksudkan berbeda dengan diucapkan dan sesekali dijelaskan dengan bahasa inggris, hingga akhirnya keluar sebuah petanyaan yang remeh tapi penting dari anak China itu.

Dia berkata pada syeikh itu: "Kenapa Islam dalam beribadah memakai fiqh, kenapa nggak cukup dengan Al Qur'an dan Hadist?"

Kembali masalah Madzhab...

Dalam benak saya tujuan beribadah adalah mencapai keridloan dari-NYA. Baik dalam mematuhi segala perintahnya dan menjauhi larangannya atau dalam menuruti kehendak NYA dan ikhlas menerima segala yang dibalaskan, serta setia dalam mencintainya tanpa adanya "poligami" dalam mencintaiNYA.

Tentunya dalam mencintai dibutuhkan sebuah pendekatan-pendekatan yang mampu mengunggkap rahasia dibalik tabir agar apa yang kita lakukan sesuai dengan keinginan NYA.

Alliem,

14 juni 2005
Bersambung ke bagian 2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Katakan pendapatmu kawan

10 Artikel Populer