09 November 2007

Ideologi Asy’ari Dalam Terma Ketuhanan[1]

Ideologi Asy’ari Dalam Terma Ketuhanan[1]
H.Moch Moealliem[2]

Prolog


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”QS.Al Hujarât : 13

افترقت اليهودعلى احدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة وستفترق امتى على ثلاث وسبعين فرقة.الحديث[ 3

Kebenaran dan kasalahan itu tak akan ada pada diri manusia dalam segala sisinya, akan tetapi hanya pada beberapa ruang saja. Ibarat beberapa orang buta ketika mendevinisikan bentuk seekor gajah, maka akan terdapat beberapa devinisi yang berbeda antara satu dengan yang lainya, sesuai dari segi mana dia meraba gajah tersebut, dan tentunya akan berbeda dan menyalahkan devinisi orang lain yang tidak sama dengan devinisi yang diambilnya. Hal itu wajar dan tidak bisa disalahkan, akan tetapi cara yang paling baik adalah dengan merangkum semua devinisi yang ada, dan tidak perlu menyalahkan yang lain atas devinisi yang diambilnya, sebab ketika kita benar belum tentu selain kita adalah salah. Berbeda pendapat dalam suatu masalah apapun terkadang tak akan menghasilkan kebenaran yang sempurna ketika dari tiap individu ataupun golongan yang berselisih tidak memahami cara pandang orang lain, dalam hal ini Socrates punya kesimpulan bahwa ketika pokok perselisihan itu diketahui, maka selesailah semua perselisihan itu.

Perbedaan cara pandang adalah satu dari sekian banyak factor yang melatar belakangi munculnya golongan-golongan serta aliran-aliran dalam Islam, tidak dipungkiri bahwa setiap individu memilii analisa berfikir yang berbeda akibat perbedaan lingkungan, budaya, kejiwaan, serta pengalaman hidup yang beraneka ragam, dalam pada itu aliran-aliran pemikiran dalam Islam bisa kita kategorikan menjadi tiga hal:

1.Akidah, dalam hal ini perbedaan terjadi seputar cara pandang dalam masalah akidah namun masih dalam ruang yang sama, serta bersumber dengan dasar yang sama, perbedaan ini tidak keluar dari garis besar syariat Islam, atau bisa kita katakana bahwa semua golongan mengakui dan sepakat bahwa Allah adalah tuhan yang Esa, Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, Al Qur’an sebagai kalam-Nya, sholat lima waktu, zakat, puasa, serta haji adalah kewajiban bagi umat Islam semua, pun juga tidak pada penghalalan atas barang haram yang telah jelas Nashnya, hanya pada seputar hal-hal yang mengandung kemungkinan dan tidak ada keterangan yang jelas terhadap masalah tersebut.
2.Politik, hal ini terjadi dalam masalah kepemimpinan atau sejenisnya, seperti halnya pemilihan seorang khalifah, gubernur,dan sebagainya. Akibatnya muncul partai-partai dalam Islam yang punya metode yang berbeda antara satu dengan lainnya.
3.Dalam masalah Fiqhiyyah, atau hal-hal yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, serta menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhannya, dalam ibadah-ibadah yang disyariatkan dalam Al Qur’an dan Hadith.

Dalam pembahasan ini tidak akan membahas secara penuh tiga kategori diatas, namun hanya akan membahas pada ketegori pertama dalam masalah aliran-aliran pemikiran dalam teologi, dan masih dipersempit pada satu diantara sekian banyak aliran yang ada. Seperti kita ketahui bahwa aliran dalam Islam yang begitu banyaknya, seringkali membuat bingun orang muslim yang belum begitu banyak tahu tentang Islam termasuk penulis sendiri, maka dari itu mari kita bahas bersama dengan menggunakan kemampuan yang kita miliki.

Sejarah Singkat Aliran Teologi Dalam Islam

Mu’tazilah, Syiah, Khawarij, Murjiah, Najariyah, Jabariyah, Musyabihah, dan Aliran yang selamat.[4] 8 aliran inilah yang menjadi induk dari puluhan aliran yang ada hingga saat ini.

1.Mu’tazilah, Adalah golongan yang berpendapat bahwa yang bersifat qodim[5] hanyalah Dzat Allah dan sifat-sifat Allah tidak termasuk hal yang qodim, firman Allah adalah hadith ( makhluk ) yang terdiri atas huruf dan suara, Allah tidak bisa dilihat oleh mata kepala di Akhirat, Allah wajib memelihara keadilan dalam Af’al-Nya, juga tentang baik dan buruk dinilai dengan akal, ketika seseorang meninggal dunia dalam keadaan taat dan bertaubat maka Allah wajib memberi pahala, dan jika meninggal dalam keadaan sebaliknya maka wajib bagi Allah memberi keabadian di neraka, dan sebagainya, itu adalah cirri mu’tazilah secara umum dan akan terjadi perbedaan lagi dalam setiap cabang-cabang golongan ini dalam 20 aliran cabang, mereka adalah : Al Wâshiliyyah, Al Ameriyyah, Al Hadzaliyyah, An Nidlômiyyah, Al Aswâriyyah, Al Iskâfiyyah, Al Ja’fariyyah, Al Basyariyyah, Al Mardâriyyah, Al Hisyâmiyyah, As Shôlihiyyah, Al Hâbithiyyah, Al Hadatsiyyah, Al Ma’mariyyah, Ats Tsamâmiyyah, Al Khiyâthiyyah, Al Jahidhiyyah, Al ka’biyyah, Al jabâiyyah, Al Bahsyamiyyah.

2.Syiah, Adalah golongan pengikut Ali bin Abi Tholib, golongan ini berpendapat bahwa Ali adalah imam setelah Nabi Muhammad sesuai Nash, dan para imam tidak akan keluar dari keturunannya, dan jika ada imam selain dari keturunan Ali maka mereka berpendapat bahwa itu adalah dlolim. Aliran ini terpecah menjadi 22 aliran dalam 3 kelompok



I. Al Ghullâh, membawahi 18 dari 22 aliran, yaitu: As Sabâiyyah, Al Kâmiliyyah, Al Bayâniyyah, Al Mughiriyyah, Al Janâhiyyah, Al Manshuriyyah, Al khitobiyyah, Al Ghurâbiyyah, Al Dzamiyyah, Al Hisyamiyyah, Al Zarariyyah, Al yunusiyyah, Al Syaithoniyyah, Al Razamiyyah, Al Mufawadloh, Al Badaiyyah, Al Nasyiriyyah, Al Ishâqiyyah, Al Ismâiliyyah[6]

II. Al Zaidiyyah, membawahi 3 dari 22 aliran, yaitu : Al Jaruwardiyyah, Al Sulaimâniyyah, Al Batriyyah

III. Al Imamiyah, 1 dari 22 aliran


3. Khawarij, golongan ini adalah golongan orang-orang yang keluar dari imam yang haq adakalanya dimasa sahabat, tabiin, dan imam-imam disetiap zaman. Aliran ini terpecah menjadi 7 aliran, yaitu : Al Mahkamah al Ula, Al Baihasiyyah, Al Azariqoh, Al Najdad al Adzariyyah, Al Shofariyyah, Al Ibadliyyah,[7] Al ‘Ajaridah.[8]
4.Murjiah, golongan ini muncul untuk mengcounter faham aliran Khawarij yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, dan abadi di Neraka, maka Murjiah menolak pendapat tersebut dengan pendapat bahwa perbuatan maksiat tidak membahayakan iman seseorang, seperti halnya tidak bergunanya taat bagi orang kafir. Aliran ini terpecah menjadi 5 aliran, yaitu : Al Yunusiyyah, Al Ubaidiyyah, Al Ghosaniyyah, Al Tsaubaniyyah, Al Tsaumaniyyah.
5.Najariyyah, mereka adalah pengikut Abil Khusein bin Muhammad al Najar[9], golongan ini sepakat dengan Ahli sunnah dalam masalah bahwa Allah menciptakan perbuatan hamba-Nya, akan tetapi mereka juga sepakat dengan pendapat Mu’tazilah dalam menafikan sifat wujudiyyah dari Dzat Allah, serta setuju dengan pendapat mu’tazilah bahwa Allah tidak bisa dilihat di akhirat dan kalam Allah adalah hadith. Golongan ini terpecah menjadi 3 aliran, yaitu : Al Barghutsiyyah, Al Za’faroniyyah, Al mustadrikah.
6.Jabariyyah, golongan yang berpendapat bahwa makhluq itu tidak bisa berbuat apa-apa akan tetapi semua itu adalah perbuatan Tuhan. Golongan ini terbagi menjadi dua, yaitu : Kholisoh dan Mutawasithoh.
7.Musyabihah, golongan yang menyerupakan bentuk Allah dengan bentuk makhluk, dan menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat Makhluk, terbagi dalam 3 kelompok, musyabihah dari ghullat syiah, musyabihah Al Haswiyyah, musyabihah Al Karomiyyah.
8.Golongan yang selamat, yaitu Asy’ariyyah, Salafiyyah dari ahli hadith dan ahlu sunnah wal jamaah, golongan ini berpendapat bahwa Alam adalah baru (hadits), sifat wujud bagi Allah, tiada pencipta selain Allah, Allah Qodim, tidak akan sirna serta bersifat dengan sifat-sifat yang agung, konsep-konsep aliran ini akan kita bahas pada tulisan ini.

Riwayat Hidup Imam Asy’ari

Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Bardah bin Abi Musa al Asy’ari[10] serta julukannya Abu Hasan. Abu Musa Al Asy’ari adalah salah seorang sahabat nabi yang menurunkan ulama besar dengan sebutan Abu Hasan al Asy’ari. Dilahirkan pada tahun 260 H di kota Basrah dan hidup dikota itu pula sampai menginjak umur 40 tahun, kemudian pindah ke Baghdad setelah dirinya keluar dari aliran Mu’tazilah dan mencetuskan aliran Ahlu sunnah wa Jamaah, dan meninggal dunia pada tahun 324 H. Kehidupan Asy’ari sangat sederhana dengan total anggaran belanja per tahun sebanyak 17 dirham[11], ukuran yang sangat sedikit dalam ukuran normal anggaran belanja seseorang yang hidup di masa itu.

Asy’ari kecil hidup di lingkungan Ahli sunnah atau Ahli hadith.[12] Didikan yang dia kenyam waktu kecil adalah didikan sang ayah yang hal itu tak lepas dari madzhab yang dianut ayahnya, yaitu ahlu hadith, namun sayang sekali Asy’ari kecil hanya merasakan didikan sang ayah dengan waktu yang relatif singkat dan Asy’ari menjadi seorang anak yatim dan diasuh oleh Zakariya bin Yahya al saji, seorang ahli fiqh dan hadith di daerah Basrah, atas rekomendasi ayahnya sebelum wafatnya.

Pada masa selanjutnya, ibunda Asy’ari menikah lagi dengan salah seorang dari pembesar golongan Mu’tazilah beliau adalah Abu Ali Al Jabai[13], Asy’ari kecil pun akhirnya mendapat didikan dari suami ibunya serta menjadikanya guru dalam permasalahan-permasalahan Agama, bahkan Asy’ari sangat cakap dan cerdas, maka tidak heran jika Asy’ari waktu itu cenderung kea rah Mu’tazilah dan berbalik dengan apa yang diajarkan ayahnya sewaktu kecil dulu, mungkin hal ini disebabkan karena hubungan dekatnya dengan Ayah tiri serta gurunya yang mendidiknya secara intens, hingga tak mampu mengaplikasikan metode-metode ayahnya.

Pengaruh besar Al Jabai terhadap Asy’ari sangat besar dalam pemikiran mu’tazilah namun pada sekitar umur 40 tahun Asy’ari mengalami masa keraguan atas pemikiran-pemikiran yang ada dalam benaknya, akhirnya Asy’ari menenangkan diri selama 15 hari, hingga pada akhirnya dia keluar menuju Masjid Agung di kota Basrah tepatnya hari jum’at dan mengumkan bahwa dirinya resmi keluar dari aliran Mu’tazilah dan kembali kealiran salaf dan ahlu sunnah wal jama’ah yang pada akhirnya menjadikan aliran ahli sunnah wal jamaah.

Metode Asy ari Dalam Teologinya

Pada awalnya Asy’ari sepakat dengan metode Mu’tazilah yang lebih mengutamakan akal dari pada Naql dan mengesampingkan Al Qur’an dan Hadith, dan hanya menggunakan perdebatan-perdebatan akal yang dia dapat dari gurunya al Jabai. Setelah Asy’ari resmi menyatakan keluar dari Mu’tazilah, akhirnya Asy’ari memiliki metode yang berbeda dengan gurunya, dengan memposisikan Al Qur’an diatas akal, tanpa menafikan akal sebagai usaha untuk mengkaji lebih dalam, masa ini disebut masa perpindahan Asy’ari dari Mu’tazilah kepada Ahlu sunah, dan cenderung mengikuti pemikiran imam Ahmad bin Hanbal.

Asy’ari mengkritik keras terhadap pemikiran Mu’tazilah[14] yang cenderung menggunakan akal, tidak mempercayai asma Allah, serta sifat-sifatNya, dan hal-hal yang datang dari Nash tentang hal-hal ghoib, Ibnu Taimiyah pun berpendapat bahwa metode yang dipakai Asy’ari lebih bagus dari metode mu’tazilah, Asy’ari menetapkan sifat-sifat Allah memakai syariat, dan dilain waktu menetapkannya dengan akal.

Metode Asy’ari dalam masalah ini, menurut Dr.Moch Abu Zahroh[15] terangkum dalam 4 hal:

1. Asy’ari memakai segala hal yang ada dari Al Qur’an dan Hadith dalam masalah akidah, dan mengambil hujjah dengan berbagai cara yang ada
2. Asy’ari mengambil Nash-nash permukaan atau nash yang jelas dalam ayat-ayat musyabihah tanpa masuk pada penyerupaan atas ayat tersebut, Asy’ari meyakini bahwa Allah punya wajah namun berbeda dengan wajah makhluk, juga punya tangan namun berbeda dengan tangan makhluk.
3. Asy’ari berpendapat bahwa hadith-hadith ahad bisa dipakai hujjah dalam masalah akidah, dan banyak hal yang dipakai sebagai dalil penetapan terhadap beberapa hal.
4.Dalam pendapatnya Asy’ari menyandingkan antara ahlu al ahwa dan mu’tazilah kemudian dia berijtihad agar tidak masuk diantara keduanya atau bahkan masuk pada khurafat.

Asy’ari meletakkan dasar-dasar yang ada pada salafus sholih sebagai pondasi dalam membangun aliran yang dia ciptakan diantaranya

1.Meletakkan Nash pada derajat yang paling tinggi baik dari Al Qur’an dan Hadith
2.Tafsir Qur’an dengan Qur’an
3.Tafsir Qur’an dengan Hadith
4.Mengambil hal-hal yang disepakati oleh para ulama salaf sebelum masanya
5.Bahwa al Qur’an difaham dari permuakaan ayatnya tanpa membuang dhohir dari ayat tersebut
6.Percaya dan yakin bahwa Allah meng khitobi orang Arab dengan bahasa kaumnya.
7.Menjaga kecocokan turunya ayat.
8.Menjaga dalam segi umum dan khususnya ayat

Masalah-masalah yang dipertengkan disini bukanlah hanya seperti diatas, akan tetapi sangat luas cakupannya meski tidak keluar dari lingkup permasalan seputar akidah, seperti misalnya tentang ketetapan hak-hak dan keilmuan serta umum dan khususnya, masalah tentang hudutsul alam serta bagian yang terkait dengan itu, pengetahuan tentang pencipta alam dan sifat-sifat Dzatnya, sifat-sifat azali, pengetahuan tentang asma’ Allah dan lain sebagainya yang tidak bisa penulis sebutkan secara detail atas keterbatasan penulis.

Jika mu’tazilah tidak menyakini bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh mata kepala di Akhirat nanti, maka dalam hal ini Asy’ariyyah berpendapat bahwa Allah itu boleh dilihat akan tetapi entah bisa atau tidak itu masalah lain, dan didunia ini tidak ada manusia yang bisa melihat tuhan dengan mata kepala kecuali nabi Muhammad, dan akan bisa dilihat oleh kaum mukmin di akhirat nanti, Asy’ariyah berpendapat seprti itu atas dasar Al Qur’an, “wujuhun yauma idzin nadliroh” dan Hadith “satarauna rabbakum kama taraunal qomaro lailatal badr” juga beberapa dasar yang lain, akan tetapi Mu’tazilah dalam menafsiri ayat itu berbeda dengan Asy’ariyah, dan juga mu’tazilah mengambil ayat “la yudrikuhu absor wahuwa yudrikul absor” disini Mu’tazilah berpendapat bahwa tidak ada mata yang bisa melihat Allah. Itu adalah contoh dari perdebatan perdebatan yang akan lebih indah ketika kita gabungkan kesimpulan dari semua definisi yang ada.

Tokoh-tokoh Aliran Ahlu sunnah wal jamaah

Abdul Qodir al Baghdadi, w.429 H. beliau adalah termasuk pembesar Asyairoh atau Ahli sunnah wal jamaah yang di cetuskan oleh Asy ari, akan tetapi Abdul Qodir ini tidak sama persis dengan konsep yang ada pada Asyari dalam beberapa hal, missal dalam masalah istiwa, dirinya cenderung menafsiri bahwa ars itu adalah kerajaan, dimana seolah kerajaan itu tidak ada yang memiki kecuali Allah.

Abu Hamid Al Ghozali, w 505 H.dalam hal yang sama Al Ghozali pun tidak sama dengan Asy’ari pun juga Abdul Qodir Al Ghozali cenderung memaknai istiwa dengan istila’ atau Al Ghozali berpendapat bahwa Allah itu tidak pada bentuk ruangan, jadi ayat tersebut hanyalah gambaran untuk membahasakan kepada manusia agar bisa diterima oleh akal manusia, seperti gambaran orang yang hidup di cairo menceritakan cairo kepada orang pedalaman, tentu akan sangat sulit jika kita tidak mengibaratkan benda yang mereka lihat, atau kasarnya dengan bahasa mereka.

to be continued---------->>>>

==================

[1] Disampaikan dalam diskusi KWW pada bulan April 2006, dengan tema teologi
[2] Mahasiswa S1, Al Azhar University, Fak.Ushuluddin, Jur.Tafsir
[3] Imam Abu Zahroh, Tarikh al-Madzahib Al-Islamiyah fi Al-siyasah wa al-Aqoid, Dar el-Fikr, Cairo, h.11

Lihat juga, Abdul Qohir Alfarqu baina al-Firaq, Maktabah Dar el turath, Cairo, h.21-22

[4] Syaifuddin al Amadi, Abkâr el-Afkâr fi Ushul el-ddîîn,Dar el Kutub wa el-watsâiq el-qodimah, Cairo, 2004, Juz 5, h.40
[5] Qodim : Dahulu kala yang tidak di dahului tidak ada sebelum adanya
[6] Ismailiyyah mempunyai delapan nama : Al Bathiniyyah, Al quromithoh, Al Khuromiyyah, Al Sab’iyyah, Al Bakiyyah, Al Mahmarah, Al Ismailiyyah.
[7] Ibadliyyah terpecah lagi menjadi 4 aliran
[8] Al ‘Ajaridah terpecah lagi menjadi 11 aliran
[9] Beliau adalah seorang ahli ilmu kalam dari golongan Jabariyyah
[10] Imam Abu Hasan al Asy’ari, Risalah ila ahli al Tsaghr,Maktabah el-Ulum wa el-Hikam, Madinah Munawarrah, Cet.2, 2002, h.33.

Lihat, Ibn Nadhim dalam Al Fihrisat h.257
[11] Lihat Abdurahman Badawi, Madzahib el-Islamiyyin, Juz 1, h.503-504
[12] Ahli sunnah pada istilah ini bukanlah aliran yang seperti saat ini, akan tetapi bisa kita kita katakan salafiyyah.
[13] Pimpinan aliran Mu’tazilah kota Basrah, yang lahir tahun 235 H dan wafat tahun 307 H
[14] Dr. Moch. Ibrahim Al fayyumi, Tarikh al Firaq al Islamiyyah al siyasi wa al Dini,Dar el Fikr el Arabi, Juz 5, h.402
[15] Imam Abu Hasan al Asy’ari, Risalah ila ahli al Tsaghr, op.cit.,h.70


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Katakan pendapatmu kawan

10 Artikel Populer